bisnis

Pendapatan Iran dari pajak lebih besar ketimbang minyak

Ekspor minyak Iran saat ini 1,3 juta barel sehari.

28 September 2015 12:24

Strategi ekonomi pemerintahan Presiden Iran Hasan Rouhani secara signifikan mengurangi ketergantungan pendapatan negara dari minyak dan mulai mengandalkan pajak.

Hasilnya, menurut Wakil Direktur Pelaksana NIOC (Perusahaan Minyak nasional Iran) Ali Kardor, tidak mengecewakan. "Untuk pertama kali dalam 50 tahun, pendapatan pemerintah dari minyak lebih sedikit ketimbang dari sektor pajak, termasuk VAT (pajak pertambahan nilai)," kata Kardor kepada surat kabar the Guardian di sela forum kedua Eropa-Iran berlangsung di Kota Jenewa, Swiss.

Dia menjelaskan saat ini hanya sepuluh persen dari produk domestik bruto Iran bergantung pada minyak. Hampir 20 persen dari pendapatan di sektor minyak disimpan sebagai cadangan devisa.

Penjualan minyak mentah Iran dalam beberapa tahun terakhir menukik tajam lantaran embargo diberlakukan oleh Eropa dan Amerika Serikat. Kedua pihak ini mengisolasi Iran lantaran curiga negara Persia itu tengah mengembangkan senjata nuklir.

Sanksi itu kemungkinan dicabut setelah tim inspeksi dari IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional) selesai memverifikasi Iran telah mengambil langkah untuk menghentikan program nuklirnya sesuai kesepakatan Juli lalu. Rouhani memperkirakan sanksi dicabut awal tahun depan.

Kardor bilang NIOC bakal menawarkan serangkaian kontrak menggiurkan bagi para pemodal asing senilai lebih dari US$ 100 miliar atau kini setara Rp 1.468 triliun, untuk 45 ladang minyak potensial di daratan dan lepas pantai paling lambat November mendatang. "Kami sekarang menghasilkan tiga juta barel minyak sehari dan 1,3 jutanya diekspor," ujarnya. "Tapi kami memperkirakan meningkat 2,3 juta barel (untuk ekspor) pada Mei atau Juni tahun depan."

Husain Rasam, Direktur Rastah Idealogistics, menjelaskan sesuai saran IMF (Dana Moneter Internasional) Iran kembali menerapkan pajak pada 1990-an, namun upaya seriusnya baru dimulai semasa Presiden Muhammad Khatami berkuasa. Lalu berlanjut di kepemimpinan Mahmud Ahmadinejad, dengan mengenalkan VAT.

Bertahun-tahun hidup di bawah tekanan sanksi internasional memaksa negeri Mullah itu mencari cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak. "Ini perkembangan positif bagi Iran. Makin banyak pajak orang bayar, mereka bakal menuntut pemerintah lebih transparan dan bertanggung jawab," tutur Rasam.

Ladang minyak Yaran Utara di Iran. (Press TV)

Tuntut kenaikan gaji, ribuan buruh industri minyak Iran sudah delapan hari mogok kerja

Sudah dua dasawarsa terakhir, National Oil Company tidak merekrut pegawai. Mereka menerapkan sistem buruh kontrak. 

Kebakaran hebat menimpa kilang minyak Tondguyan di Ibu Kota Teheran, Iran, 2 Juni 2021. (Twitter)

Kebakaran hebat melanda kilang minyak di Teheran

Kilang Tondguyan berkapasitas 250 ribu barel minyak sehari.

Tiga kapal patroli Angkatan Laut Iran menangkap kapal tanker MT Hankook Chemi dari Korea Selatan. (Tasnim News Agency)

Tahan kapal tanker Korea Selatan, Iran tuntut Seoul transfer dana hasil penjualan minyak sebesar Rp 99,6 triliun

Uang hasil penjualan minyak Iran itu dibekukan oleh dua bank di Korea Selatan selama 2,5 tahun.

Kilang minyak di Iran. (Press TV)

Iran temukan ladang minyak baru dengan cadangan 50 miliar barel

Jumlah cadangan minyak negara Mullah itu saat ini sekitar 150 miliar barel.





comments powered by Disqus