bisnis

Shell dan Total diizinkan bangun pompa bensin di Iran

Penduduk Iran sehari menghabiskan hampir 70 juta liter bensin.

03 Oktober 2015 19:53

Perusahaan minyak asal Belanda Shell dan Total dari Prancis termasuk dua perusahaan asing pertama mendapat izin memasuki pasar ritel energi di Iran. Keduanya mendapat jatah masing-masing membangun seratus pompa bensin di seantero negara Persia itu.

Bijan Haji Muhammad Reza, Ketua Persatuan Pengusaha Pompa Bensin Iran, mengungkapkan Shell dan Total memperoleh lampu hijau baru-baru ini, seperti dilaporkan stasiun televisi Press TV.

NIOPC (Perusahaan Distribusi Produk Minyak Iran) saat ini adalah satu-satunya pemain dalam bisnis pompa bensin di negara itu. Mereka memiliki lebih dari 3.200 pompa bensin di seluruh Iran.

Seorang juru bicara Shell di London membantah kabar itu. "Kami belum mendapat izin untuk memasuki pasar ritel di Iran," ujarnya. "Kami masih menaati sepenuhnya sanksi internasional."

Menurut Menteri Perminyakan Iran Bijan Zangeneh, sekarang ini terdapat lebih dari 15 juta kendaraan bermotor lalu lalang di jalanan Iran. Mereka menghabiskan hampir 70 juta liter bensin sehari, lima juta liternya diimpor.

Harga jual bensin dan solar di Iran termasuk termurah sejagat. Bahkan setelah pemerintah membatalkan rencana memberi subsidi Mei lalu.

Haji Muhammad Reza bilang rendahnya harga jual bahan bakar kendaraan bermotor itu merupakan salah satu persoalan besar dihadapi para pengusaha pompa bensin. "Dengan harga sekarang, mustahil menciptakan merek atau meningkatkan kualitas dan kuantitas," katanya.

Seorang teknisi tengah bertugas di sebuah fasilitas milik Saudi Aramco. (Twitter/@Saudi_Aramco)

Aramco sepakati penjualan saham perusahaan jaringan pipa minyaknya senilai Rp 179,7 triliun dengan konsorsium EIG

Menurut EIG, kontrak ini memiliki total nilai ekuitas sekitar US$ 25,3 miliar.

Ekspatriat di Arab Saudi. (Saudi Gazette)

Izin industri di Arab Saudi akan berjangka waktu lima tahun

Kebijakan ini dibuat untuk memastikan stabilitas dan keberlangsung sektor industri di negara Kabah itu.

IPO Aramco. (Saudi Gazette)

Butuh fulus buat bayar dividen, Aramco terbitkan sukuk dolar senilai Rp 86,9 triliun

Aramco menjanjikan dividen US$ 75 miliar setahun kepada para investor setelah melakukan IPO sebanyak 1,5 persen pada Desember 2019.

Pesawat milik maskapai Emirates Airline. (Twitter/@emirates)

Emirates Airline rugi Rp 78,7 triliun karena pandemi Covid-19

Sebelum pandemi Covid-19, Emirates Airline mempekerjakan 60.033 staf, termasuk 4.300 pilot dan hampir 22 ribu kru kabin. Sekarang jumlah karyawan Emirates melorot menjadi 40.801 orang.





comments powered by Disqus