bisnis

Arab Saudi kaji pengurangan subsidi bahan bakar

Harga bahan bakar kendaraan bermotor di Arab Saudi paling murah di kawasan Teluk.

28 Oktober 2015 14:47

Menteri Perminyakan dan Sumber Daya Alam Arab Saudi Ali an-Naimi membenarkan negaranya bakal mengurangi subsidi atas bahan bakar kendaraan bermotor. Artinya, harga jual bensin dan solar di negara Kabah itu bakal naik.

"Semua harga akhirnya naik," kata Naimi kepada wartawan di sela konferensi soal pertambangan dan mineral di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. "Apakah rencana itu sedang dikaji? Jawabannya adalah 'Ya.'"

Konsumsi bahan bakar di Arab Saudi naik sembilan kali lipat sejak 1971, membuat negara ini menjadi salah satu konsumen per kapita terbesar di dunia.

Harga bahan bakar untuk kendaraan bermotor di Arab Saudi termurah di kawasan Teluk Persia dan bahkan termasuk paling murah kedua sejagat setelah Venezuela. Pemilik sebuah sedan bisa mengisi penuh tangki bensinnya hanya dengan merogoh kocek 23 riyal atau kini setara Rp 83 ribu, sedangkan untuk setangki penuh mobil SUV cukup membayar 67 riyal (Rp 242 ribu).

Negeri Dua Kota Suci ini juga memberikan subsidi dalam jumlah sangat besar untuk tarif listrik dan air.

Seorang pejabat senior Bank Dunia tahun lalu mengungkapkan enam negara Arab Teluk - Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab - saban tahun menghabiskan lebih dari US$ 160 miliar untuk subsidi energi, setengah dari angka itu dikeluarkan oleh Arab Saudi.

Jika pengurangan subsidi itu jadi diterapkan, ini merupakan perubahan ekonomi terbesar di Arab Saudi. Sebab banyak warga Saudi berpenghasilan rendah mengandalkan harga bahan bakar murah. Kebijakan itu juga bakal sensitif secara politik.

Tekanan untuk mencabut subsidi bahan bakar kendaraan bermotor kian besar lantaran Arab Saudi tahun ini mengalami defisit 21,6 persen dari produk domestik bruto, menurut IMF (Dana Moneter Internasional). Defisit terjadi lantaran melorotnya harga minyak mentah dunia, merupakan 90 persen dari total pendapatan Saudi.

Pengurangan subsidi ini bakal menghemat anggaran pemerintah miliaran dolar setahun, namun para pengamat meyakini proses itu akan berjalan lambat dan sangat hati-hati.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (alriyadh.com)

Arab Saudi defisit Rp 125 triliun di kuartal kedua tahun ini

Ketimbang periode serupa tahun lalu, pengeluaran di kuartal kedua tahun ini naik lima persen, dengan 27 persen kenaikan di belanja modal dan 71 persen untuk subsidi.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

IMF prediksi Arab Saudi alami defisit 6,5 persen

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negeri Dua Kota Suci itu tahun ini sebesar 1,9 persen.

Menteri Keuangan Arab Saudi Muhammad al-Jadaan. (Arab News)

Arab Saudi raup surplus pertama sejak 2014

Naiknya harga minyak mentah global, penerapan pajak pertambahan nilai, dan pengurangan subsidi energi ikut membantu mengatasi defisit anggaran Arab Saudi.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Standard & Poor prediksi Arab Saudi bebas dari defisit pada 2023

Arab Saudi mengalami defisit sejak harga minyak mentah global anjlok pada pertengahan 2014.





comments powered by Disqus

Rubrik bisnis Terbaru

Trump jatuhkan sanksi terhadap Bank Sentral Iran

Amerika bakal mengirim tambahan pasukan serta peralatan sistem pertahanan udara dan peluru kendali ke Arab Saudi untuk memperkuat pertahanan negara Kabah itu.

21 September 2019

TERSOHOR