bisnis

Pertamina isyaratkan incar proyek minyak di Iran

Pertamina mengkaji proyek investasi potensial berdasarkan skala keekonomian, potensi cadangan, dan teknoekonomi.

30 November 2015 19:54

Pertamina mengisyaratkan mengincar proyek minyak di Iran terkait kehadiran tiga utusannya dalam konferensi minyak di Ibu Kota Teheran, Sabtu-Ahad lalu.

Dalam konferensi itu Iran menawarkan skema baru kontrak minyak unuk menggaet para investor asing. Kontrak model baru ini memiliki jangka waktu lebih lama, yakni 15-20 tahun dan bahkan bisa diperpanjang hingga 25 tahun. Kian banyak produksi dihasilkan, investor mendapat kompensasi lebih besar.

Sedangkan kontrak model lama berisiko tinggi dan pemerintah Iran bisa membeli kembali saham di perusahaan gabungan dengan investor asing.

Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina Wianda Pusponegoro membenarkan pihaknya memang mengirim tiga orang untuk menghadiri konferensi itu. Mereka berasal dari divisi pengembangan bisnis. Namun dia belum bisa memastikan apakah Pertamina bakal ikut dalam tender proyek minyak di negara Mullah itu.

"Semua proyek investasi potensial selalu kami pertimbangkan," kata Wianda kepada Albalad.co melalui WhatsApp hari ini. "Semua kami kaji berdasarkan skala keekonomian, potensi cadangan, dan teknoekonomi."

Wianda menjelaskan investasi dilakoni Pertamina bertujuan meningkatkan produksi. Dia menambahkan ladang minyak dikelola Pertamina di luar negeri saat ini menghasilkan 79 juta barel minyak sehari.

Konferensi itu, menurut sejumlah pejabat Kementerian Perminyakan Iran, dihadiri 137 perusahaan asing, termasuk Repsol, British Petroleum, Royal Dutch Shell, Total, Technip, Schlumberger, Eni, Enel, Rosneft, Lukoil, Gazprom, Inpex, Statoil, dan Daewoo. Juga datang satu penasihat energi bagi pemerintah Inggris, menurut seorang diplomat Barat.

Iran berharap bisa menggaet US$ 150 miliar (Rp 2.066 triliun) dari investasi luar negeri dalam lima tahun mendatang untuk membangun kembali industri energi mereka.

Iran, anggota OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak), saat ini mengekspor 1,1 juta barel minyak mentah per hari. Negara Mullah itu berharap bisa kembali ke volume ekspor 2,2 juta barel, terakhir berlaku tiga tahun lalu. Total produksi minyak Iran sekarang 3,1 juta barel saban hari. Negara dengan cadangan minyak terbesar keempat di dunia ini mengharapkan mampu menggenjot produksi sampai 5,7 juta barel tiap hari paling lambat 2021.

Pompa bensin ADNOC. (Gulf Business)

ADNOC dan Pertamina teken perjanjian pengembangan minyak dan gas

Ruang lingkup proyek tercakup dalam perjanjian termasuk investasi Uni Emirat Arab (UEA) di sektor hulu minyak dan gas, kilang dan petrokimian, LNG, LPG, avtur, dan stasiun pengisian bahan bakar umum di Indonesia.

Ladang minyak Yaran Utara di Iran. (Press TV)

Iran tawarkan diskon harga minyak ke Asia

Amerika berencana melarang Iran menjual minyaknya ke pasar internasional mulai 5 November mendatang.

Kilang minyak. (Gulf Business)

Pertamina gandeng perusahaan asal Oman buat bangun kilang di Bontang

Pertamina berharap kilang berkapasitas 300 ribu barel per hari itu bisa beroperasi pada 2025.

CEO Saudi Aramco Amin Nasir (tengah dan berkemeja batik biru) berpose bareng Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik usai pertemuan di Jakarta, 7 Juli 2017. (Twitter/@Saudi_Aramco)

Pertegas komitmen buat proyek kilang Cilacap, CEO Aramco temui bos Pertamina

Proyek ini bakal meningkatkan kapasitas kilang di Cilacap menjadi 400 ribu dari 348 ribu barel sehari.





comments powered by Disqus