bisnis

Harga minyak jatuh, negara pengekspor di Timur Tengah tahun ini bakal rugi US$ 500 miliar

Pertumbuhan ekonomi di enam negara anggota GCC akan turun dari 3,3 persen tahun lalu menjadi 1,8 persen tahun ini.

26 April 2016 00:39

Negara-negara pengekspor minyak di Timur Tengah tahun lalu rugi US$ 390 miliar akibat melorotnya harga minyak mentah global sejak pertengahan 2014. IMF (Dana Moneter Internasional) kemarin memperkirakan negara pengekpor minyak di kawasan itu tahun ini rugi lebih dari US$ 500 miliar.

Dalam laporan terbarunya, IMF bilang tahun ini negara-negara pengekspor minyak di Timur Tengah akan rugi US$ 490 miliar-US$ 540 miliar dibanding 2014. Harga minyak anjlok ke kisaran US$ 30 sebarel Januari lalu, sedangkan harga emas hitam ini mencapai US$ 115 per barel pada pertengahan 2014.

Direktur IMF untuk Timur Tengah dan Asia Tengah Masud Ahmad menjelaskan kerugian ini berakibat pada defisit anggaran dan melambatnya pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi Arab Saudi, lantaran masih begitu bergantung pada pendapatan dari minyak.

Meski negara Kabah itu tengah berupaya merombak perkeonomiannya, 72 persen dari pendapatan Arab Saudi tahun lalu dari minyak. Arab Saudi tahun ini diperkirakan mengalami defisit US$ 90 miliar.

Laporan IMF itu menyebutkan pertumbuhan ekonomi di enam negara anggota GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) - Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman - akan turun dari 3,3 persen tahun lalu menjadi 1,8 persen tahun ini.

IMF telah mendorong keenam negara Arab Teluk itu buat melakukan reformasi ekonomi, termasuk mengurangi subsidi. Kebanyakan negara anggota GCC sudah menaikkan harga bahan bakar, tarif air dan listrik. Di luar mereka, negara pengekspor minyak Aljazair sudah meningkatkan harga bahan bakar, listrik, dan gas alam. Iran juga telah melakoni hal serupa untuk bahan bakar.

Masud Ahmad mengakui harga minyak bakal naik dari posisinya sekarang, namun tidak akan kembali ke kisaran harga di 2013 dan 2014 untuk waktu lama. "Artinya mereka (negara-negara pengekspor minyak) mesti memotong anggaran belanja dan berusaha meningkatkan pendapatan di luar minyak," katanya kepada Associated Press.

Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail al-Mazrui. (YouTube)

UEA tolak perpanjangan kesepakatan pengurangan produksi minyak OPEC+ hingga akhir 2022

OPEC+ menghadapi dua pilihan: menyerah kepada tuntutan UEA atau gagal memperpanjang kesepakatan sampai Desember 2022 sehingga bisa memicu harga minyak mentah dunia melonjak drastis.

Seorang teknisi tengah bertugas di sebuah fasilitas milik Saudi Aramco. (Twitter/@Saudi_Aramco)

Arab Saudi akan kurangi lagi produksi minyaknya satu juta barel mulai bulan depan

Mulai bulan depan, produksi minyak Saudi menjadi 7,492 juta barel per hari, jauh di bawah kapasitas produksi lebih dari 12 juta barel saban hari.

Seorang karyawan Saudi Aramco tengah bertugas. (saudiaramco.com)

Sepuluh negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia

OPEC memproduksi 41 persen dari total produksi minyak dunia. Pada 2018, 13 negara anggota OPEC mengekspor 25 juta barel minyak sehari atau 54 persen dari total ekspor minyak dunia sebesar 46 juta barel per hari.

Kilang milik Saudi Aramco, perusahaan minyak terbesar di dunia kepunyaan Arab Saudi. (saudiaramco.com)

OPEC dan non-OPEC sepakat kurangi produksi minyak 10 juta barel sehari pada Mei dan Juni

Arab Saudi tadinya berencana memproduksi 12,6 juta barel minyak per hari mulai 1 April.





comments powered by Disqus

Rubrik bisnis Terbaru

UEA akan bangun PLTS di Yordania dan listriknya bakal dijual ke Israel

PLTS itu akan menghasilkan 600 megawatt listrik untuk Israel dan Yordania bakal mendapat tambahan pasokan air seratus juta meter kubik.

26 November 2021

TERSOHOR