bisnis

Larangan Binladin Group ikut tender proyek pemerintah dicabut

Sebab perusahaan ini terlibat dalam beragam proyek strategis bagi perekonomian Arab Saudi. Apalagi hanya sedikit perusahaan lokal mampu mengerjakan proyek-proyek raksasa.

06 Mei 2016 10:20

Pemerintah Arab Saudi telah mencabut larangan bagi perusahaan konstruksi Saudi Binladin Group untuk ikut tender proyek pemerintah, seperti dilansir surat kabar Al-Watan kemarin.

Keputusan ini dinilai bakal mengurangi kesulitan keuangan tengah dhadapi Binladin Group usai musibah derek di Makkah. Binladin Group, pelaksana proyek perluasan Masjid Al-Haram, dikenai sanksi setelah sebuah derek raksasa jatuh di masjid paling disucikan oleh umat Islam itu pada 11 September 2015. Insiden ini menewaskan 111 jamaah haji dan mencederai lebih dari 200 lainnya.

Empat hari kemudian, Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz memutuskan tidak akan memberikan proyek-proyek baru didanai pemerintah kepada Binladin Group. Para pejabat eksekutif perusahaan milik keluarga besar Usamah Bin ladin, pendiri Al-Qaidah, itu juga dilarang bepergian ke luar negeri.

Mengutip seorang sumber, Al-Watan melaporkan larangan bepergian ke luar negeri bagi sejumlah petinggi Biladin Group juga sudah dicabut.

Menanggapi kabar menggembirakan itu, menurut seorang juru bicara Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi, Binladin Group akan mulai mengerjakan proyek miliaran dolar di Bandar Udara Internasional Raja Abdul Aziz di Kota Jeddah.

Ada alasan kuat untuk mencabut sanksi bagi Binladin Group. Sebab perusahaan ini terlibat dalam beragam proyek strategis bagi perekonomian Saudi. Apalagi hanya sedikit perusahaan lokal mampu mengerjakan proyek-proyek raksasa. Kesulitan keuangan tengah dihadapi Binladin Group juga bisa memperlemah ekonomi dalam skala luas.

Hingga artikel ini dilansir pejabat Binladin Group dan pemerintah belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar.

Tekanan keuangan terhadap perusahaan konstruksi terbesar kedua di dunia itu kian kuat setelah pemerintah Saudi menghemat belanja anggaran, akibat melorotnya harga minyak mentah global sejak pertengahan 2014.

Dalam beberapa pekan terakhir ribuan karyawan berunjuk rasa menuntut perusahaan melunasi tunggakan gaji selama beberapa bulan. Hingga Senin lalu, Binladin Group telah memecat 77 ribu ekspatriat, termasuk sembilan ribu dari Indonesia. Sekitar 12 ribu warga Saudi bekerja di Binladin Group juga terancam diberhentikan.

Perusahaan dengan karyawan berjumlah 200 ribu ini diperkirakan memiliki utang US$ 30 miliar di bank lokal dan internasional. Binladin Group saban bulan menghabiskan US$ 1,7 miliar buat gaji pegawai dan tunggakan gaji belum dibayarkan senilai US$ 3,6 miliar.

Ilusstrasi soal Saudi Binladin Group. (Arab News)

Binladin Group akan restrukturisasi utang sebesar Rp 287-430,5 triliun

Binladin Group telah berubah nama menjadi Binladin Group Global Holding setelah 36,22 persen sahamnya diambil alih oleh Istidama, anak usaha dari Kementerian Keuangan Arab Saudi.

Logo Saudi Binladin Group. (Arab News)

Pemerintah Arab Saudi ambil alih manajemen Binladin Group

Istidama memperoleh 36,22 persen saham Binladin Group dari tiga Bin Ladin bersaudara , yaitu Bakr, Saleh, dan Saad, ditangkap atas tudingan korupsi oleh komisi dipimpin oleh Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman.

Istana milik Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz di Tangier, Maroko. (Maghreb Daily News)

Puluhan ribu pekerja Binladin Group dikerahkan untuk bangun istana Raja Salman

Pembangunan istana itu selesai 1 Agustus lalu dan sudah digunakan Raja Salman buat liburan musim panas.

Saudi Binladin Group, perusahaan konstruksi terbesar di Arab Saudi. (Gulf Business)

Saudi Binladin Group akan kurangi staf dan berganti nama

Pemerintah Saudi sudah menguasai 35 persen saham dan mengambil alih manajemen di Binladin Group.





comments powered by Disqus