bisnis

Dua dinar berbeda bakal diterbitkan di Libya

Libya bakal makin tersungkur bila pemerintahan di Tripoli dan Tobruk tidak mau berdamai dan bersatu memimpin Libya.

22 Mei 2016 07:56

Risiko kericuhan ekonomi dipicu oleh miliaran dolar dua mata uang berbeda bakal mulai dilansir di Libya bisa melemahkan pemerintahan persatuan di Tripoli.

Pertarungan politik antara pemerintahan dipimpin Fayiz Sarraj di Tripoli dan diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa serta pemerintahan di Tobruk loyal kepada Jenderal Khalifah Haftar di timur Libya, mengarah pada gelombang perpecahan di lembaga-lembaga keuangan di negara itu, di mana dua bank sentral mengancam menerbitkan dua mata uang dinar berbeda.

De La Rue, perusahaan pencetak mata uang berpusat di Basingstoke, Inggris, dan merupakan pemasok dinar Libya jangka panjang ke pemerintahan di Tripoli, telah mengirim 70 juta dinar ke negara itu bulan lalu. De La Rue dalam proses pengiriman 1 miliar dinar ke Libya sebelum dan selama Ramadan.

Gubernur bank sentral di Tobruk, Ali Salim al-Hibri, pernah diakui sebagai gubernur bank sentral oleh IMF (Dana Moneter Internasional), mengklaim telah mencetak 4 miliar dinar dengan bantuan Rusia.

Sejumlah diplomat asing di Libya bilang dua dinar berbeda itu akan memiliki nomor serial, detail keamanan, dan cap air berlainan. Bahayanya adalah dua dinar berbeda itu bakal membanjiri Libya dan tidak bisa saling ditukarkan di bank-bank. Kedua dinar berbeda itu juga bakal memperburuk inflasi telah mencapai 14 persen setahun.

Para diplomat mencemaskan akan terjadi kerusuhan mata uang, ditambah seringnya pemadaman listrik sepanjang Ramadan, akan mengikis kepercayaan terhadap pemerintahan bentukan PBB.

Pembicaaraan damai antara dua gubernur bank sentral Libya digelar di Ibu Kota Tunis, Tunisia, mandek.

The Wall Street Journal melaporkan bank sentral di Tobruk menguasai koin emas dan perak senilai US$ 185 juta, namun tidak memiliki akses lantaran kodenya dipegang bank sentral di Tripoli.

Konflik mata uang dinar ini bakal kian memperburuk krisis likuiditas, disebabkan keengganan rakyat Libya menabung di bank. Ketiadaan uang tunai di bank-bank memicu antrean mengular dan pembatasan penarikan fulus.

Jumlah uang tunai di bank-bank turun dari 6 miliar dinar pada 2013 menjadi 3 miliar dinar tahun lalu.

Total uang beredar di Libya saat ini senilai 24 miliar dinar, dua kali lebih banyak ketimbang jumlah uang beredar di Inggris, naik 15 miliar dinar dibanding 2013. Situasi tidak aman memaksa pebisnis dan individu menolak menyimpan duit mereka di bank.

Dalam sebuah konferensi di Wina Senin lalu, masyarakat internasional setuju untuk lebih menyokong pemerintahan Sarraj di Tripoli. Peserta konferensi sepakat untuk menyuplai senjata ke pemerintahan baru dan melatih dua ribu anggota pasukan pengamanan presiden. Pasukan ini bakal menjaga gedung-gedung kementerian dan fasilitas minyak.

Para diplomat asing takut dukungan bagi pemerintah bakal hancur kecuali bisa menyediakan layanan dasar bagi rakyat, seperti listrik, dalam jangka menengah menciptakan persatuan di kalangan tiga pemimpin lembaga: bank sentral, NOC (perusahaan minyak nasional), dan dewan infrastruktur.

Libya mampu menghasilkan 1,5 juta barel minyak sehari sebelum pecah perang pada 2011. Beberapa sumber di Inggris mengklaim produksi emas hitam anjlok ke angka seratus ribu barel dari setengah juta barel per hari tahun lalu. Pemerintahan Libya di Tobruk juga memblokir ekspor minyak.

Ladang minyak Asy-Syarara telah ditutup lebih dari 18 bulan. Perusahaan patungan NOC dan Repsol, berjarak sekitar 800 kilometer barat daya Tripoli, mempunyai kapasitas produksi 370 ribu barel saban hari.      

Libya bakal makin tersungkur bila pemerintahan di Tripoli dan Tobruk tidak mau berdamai dan bersatu memimpin Libya.

Kilang minyak di Iran. (Press TV)

Iran temukan ladang minyak baru dengan cadangan 50 miliar barel

Jumlah cadangan minyak negara Mullah itu saat ini sekitar 150 miliar barel.

Tim eksplorasi Saudi Aramco. (saudiaramco.com)

Aramco akan tawarkan setengah persen sahamnya kepada investor individual

Buat tahap awal, Aramco akan melepas dua persen sahamnya di Bursa Saham Arab Saudi (Tadawul).

Suasana di luar bandar Udara Raja Abdul Aziz di Kota Jeddah, Arab Saudi, Juni 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Saudi berlakukan pajak bandar udara mulai 1 Januari 2020

Pajak itu besarannya 21 riyal untuk penerbangan sekali jalan.

Tim eksplorasi Saudi Aramco. (saudiaramco.com)

Aramco raup pendapatan bersih Rp 951 triliun

Aramco tahun lalu memperoleh laba Rp 1.554 triliun dan Rp 656 triliun di semester pertama tahun ini.





comments powered by Disqus