bisnis

Iran targetkan produksi minyak 4,8 juta barel sehari dalam lima tahun

Iran ingin menguasai kembali 14,5 persen dari total produksi minyak OPEC.

05 Juni 2016 11:15

Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh mengumumkan negaranya berencana meningkatkan produksi minyak menjadi 4,8 juta barel sehari dalam lima tahun.

Dia menambahkan untuk mewujudkan target itu Iran memerlukan investasi senilai US$ 70 miliar. "Iran menguasai 14,5 persen produksi minyak OPEC sebelum dikenai sanksi," kata Zanganeh Kamis lalu dalam pertemuan OPEC ke-169 di Kota Wina, Austria.

Zanganeh menjelaskan Iran memiliki cukup pembeli untuk menyerap produksi emas hitamnya. Dia bilang volume ekspor minyak Iran bulan lalu naik dua kali lipat ke angka 2,023 juta barel per hari.

Dia menekankan Iran siap membahas kuota produksi minyak OPEC, namun dia menegaskan negara Mullah itu ingin kembali ke kuota produksi minyaknya bukan batasan produksi seluruh anggota OPEC.

Dalam pertemuan itu, OPEC gagal menyepakati strategi buat mengerek harga minyak mentah dunia, melorot sejak pertengahan 2014. Sebab Iran dan Arab Saudi sama-sama ingin menaikkan produksi minyak mereka.  

Ladang minyak Yaran Utara di Iran. (Press TV)

Iran tawarkan diskon harga minyak ke Asia

Amerika berencana melarang Iran menjual minyaknya ke pasar internasional mulai 5 November mendatang.

Ladang minyak Yaran Utara di Iran. (Press TV)

Produksi minyak Iran sudah kembali ke level sebelum terkena sanksi

Produksi minyak Iran di kuartal pertama tahun ini sebanyak 3,796 juta barel tiap hari, melonjak dibanding 3,741 juta barel sehari di kuartal pertama tahun lalu.

Ladang minyak Kish di Iran, ditemukan oleh National Iranian Oil Company pada 2006. (PEDEC)

Iran akan tingkatkan ekspor minyak ke Eropa hingga 60 persen dalam dua bulan

Iran menargetkan total produksi minyak 4,5 juta barel sehari pada 2022.

Ladang minyak Iran. (Mehr)

Iran tetapkan 29 perusahaan asing boleh ikut tender proyek minyak dan gas

British Petroleum mundur karena khawatir hubungan Amerika-Serikat-Iran kembali menegang setelah presiden terpilih Donald Trump dilantik pada 20 Januari ini.





comments powered by Disqus