bisnis

Perusahaan konstruksi raksasa di Arab Saudi bangkrut

Saudi Oger hanya akan beroperasi sampai 30 Juni. Ribuan ekspatriat asal Asia sudah pulang ke negara masing-masing tanpa menerima gaji.

17 Juni 2017 10:38

Saudi Oger, perusahaan konstruksi raksasa di Arab Saudi kepunyaan Perdana Menteri Libanon Saad Hariri, telah bangkrut dan mengakibatkan ribuan pekerjanya tidak digaji.

Sejumlah sumber mengungkapkan para pekerja Saudi Oger, kebanyakan ekspatriat, sudah tidak digaji berbulan-bulan dan banyak yang sudah pulang ke negara masing-masing.

Melorotnya harga minyak mentah global dimulai tiga tahun lalu mengakibatkan pemerintah Arab Saudi tidak mampu membayar perusahaan-perusahaan swasta telah mereka kontrak untuk pembangunan proyek. Sebagian besar di sektor kontruksi, dikuasai dua perusahaan raksasa Saudi Oger dan Saudi Binladin Group.

Binladin Group sampai harus berutang untuk melunasi tunggakan gaji karyawannya. Perusahaan milik keluarga besar mendiang Usamah Bin Ladin, pendiri Al-Qaidah, ini sudah memecat sekitar 70 ribu tenaga kerja asing.

Namun beberapa sumber bilang persoalan membelit Saudi Oger, sudah beroperasi di negara Kabah itu hampir 40 tahun, lebih dalam dan menghadapi kebangkrutan.

"Pada intinya mereka (Saudi Oger) sudah tutup," kata seorang sumber mengetahui kasus itu. "Mereka masih mempunyai satu kontrak di Jeddah untuk membangun sebuah istana, selain itu tidak ada."

Mantan karyawan saudi Oger hanya ingin ditulis dengan nama Robert mengatakan Saudi Oger hanya akan beroperasi sampai 30 Juni. "Dalam dua pekan, kita tidak akan bicara lagi tentang Saudi Oger," ujarnya. "Saya sudah kehilangan masa depan saya.

Sejak Juli tahun lalu, Saudi Oger berutang gaji kepada dirinya US$ 43 ribu. Robert sudah berhenti Januari lalu.

Seorang sumber lainnya mengatakan setelah perundingan antara Prancis dan Saudi, 200 warga Prancis bekerja di Saudi Oger akhirnya menerima tunggakan gaji selama sembilan bulan. Tapi yang membayar pemerintah Saudi, bukan Saudi Oger.

Namun ribuan ekspatriat asal Asia sudah pulang ke negara masing-masing tanpa menerima gaji. Saudi Oger memiliki 38 ribu tenaga kerja asing dua tahun lalu.

Sesuai rencana, para ekspatriat itu diterbangkan dengan biaya pemerintah Saudi. Riyadh juga membantu mengajukan gugatan kepada Saudi Oger. "Tapi sampai kini belum ada hasil," tuturnya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Todays Zaman)

Turki memulai lagi penerbangan kargo dengan Israel

Di hari sama pesawat kargo Israel mendarat di Istanbul, Erdogan mengecam rencana aneksasi wilayah Tepi Barat.

Kota Dubai, Uni Emirat Arab. (Twitter/DXBMediaOffice)

70 persen perusahaan di Dubai terancam tutup gegara dampak Covid-19

Pertumbuhan ekonomi Dubai tahun lalu hanya 1,94 persen, paling rendah sejak krisis keuangan global pada 2008-2009.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Utang Arab Saudi melonjak 1.560 persen sejak Raja Salman berkuasa

Di akhir tahun lalu, utang negara Kabah itu mencapai Rp 2.719 triliun. Padahal sampai 2014, utang Saudi hanya Rp 175 triliun.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Arab Saudi borong saham Boeing, Citigroup, Disney, dan Facebook

PIF telah membeli saham seharga Rp 12,3 triliun di British Petroleum, Rp 10,6 triliun di Boeing, Rp 7,4 triliun di Walt Disney, serta saham senilai Rp 7,8 triliun di Citigroup dan Facebook.





comments powered by Disqus