bisnis

IMF desak Saudi tidak terburu-buru dalam mereformasi ekonomi

Arab Saudi akan memperoleh pendapatan kotor US$ 67,7 miliar setahun pada 2020 dari kenaikan bahan bakar dan listrik.

08 Oktober 2017 22:01

IMF (Dana Moneter Internasional) mendesak pemerintah Arab Saudi untuk tidak terburu-buru dalam mereformasi ekonomi karena bisa berakibat negatif.

"Kalau proses konsolidasi fiskal terlalu cepat, itu akan merugikan bagi pertumbuhan dan mengakibatkan kenaikan harga tinggi terhadap bahan bakar dan energi," kata IMF dalam laporan terbarunya.

Arab Saudi tahun lalu meluncurkan program reformasi ekonomi melalui Visi 2030, sebagai upaya mengatasi defisit akibat melorotnya harga minyak mentah global sejak pertengahan 2014. Liberalisasi ekonomi ini meliputi privatisasi, pencabutan subsidi bahan bakar, air, listrik, dan pemberlakukan pajak.

Visi 2030 itu bertujuan agar negara Kabah itu tidak lagi terlalu mengandalkan sumber pendapatan dari minyak dan gas, serta mendorong tumbuhnya sektor swasta, dan membuka lapangan kerja bagi warga negara Saudi.

IMF sudah memprediksi Arab Saudi mengalami defisit selama 2015-2020. Defisit dalam tiga tahun terakhir mencapai US$ 200 miliar dan tahun diperkirakan US$ 53 miliar.

IMF menduga Arab Saudi akan memperoleh pendapatan kotor US$ 67,7 miliar setahun pada 2020 dari kenaikan bahan bakar dan listrik. Negara Dua Kota Suci itu juga diperkirakan meraup US$ 20 miliar per tahun dari penerapan cukai dan VAT (pajak pertambahan nilai).

Seorang teknisi tengah bertugas di sebuah fasilitas milik Saudi Aramco. (Twitter/@Saudi_Aramco)

Arab Saudi alami defisit Rp 160 triliun di kuartal ketiga 2020

Secara keseluruhan, pendapatan Saudi dari bidang di luar minyak meroket hingga 63 persen ketimbang tahun lalu.

Riyadh, Arab Saudi. (wikimedia commons)

Arab Saudi proyeksikan defisit tahun ini sebesar 12 persen

Negara Kabah itu memperkirakan pertumbuhan ekonominya tahun ini akan minus 3,8 persen, lebih optimistis ketimbang taksiran IMF, yakni minus 6,8 persen.

Riyadh, Arab Saudi. (wikimedia commons)

Arab Saudi alami defisit Rp 427 triliun di kuartal kedua 2020

IMF telah memperkirakan negeri Dua Kota Suci ini bakal menderita defisit sampai 2023.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Utang Arab Saudi melonjak 1.560 persen sejak Raja Salman berkuasa

Di akhir tahun lalu, utang negara Kabah itu mencapai Rp 2.719 triliun. Padahal sampai 2014, utang Saudi hanya Rp 175 triliun.





comments powered by Disqus