bisnis

Kuwait proyeksikan defisit US$ 25 miliar untuk anggaran belanja mendatang

Rencana anggaran ini disusun berdasarkan asumsi harga minyak dunia US$ 55 per barel.

22 Januari 2019 20:51

Kuwait memprediksi defisit sebesar 7,7 miliar dinar (US$ 25,4 miliar) dalam tahun anggaran mendatang, dimulai 1 April 2019 hingga 31 Maret 2020.

Menteri Keuangan Nayif al-Hajraf bilang belanja negara diproyeksikan naik 4,7 persen ke angka 22,5 miliar dinar. Kabinet sudah menyetujui rancangan anggaran itu kemarin dan bakal diajukan ke parlemen untuk disahkan.

"Anggaran tahun berikutnya bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mempertahankan rasio kapeks sebesar 17 persen, memperketat pengeluaran tidak perlu, dan terus melakukan reformasi fiskal secara bertahap," kata Al-Hajraf.

Dalam anggaran tahun mendatang, Kuwait memproyeksikan pendapatan 16,3 miliar dinar dengan asumsi harga minyak global US% 55 per barel, lebih tinggi ketimbang asumsi dalam tahun anggaran berjalan sebesar US$ 50 tiap barel.

Dari total anggaran direncanakan, sebanyak 71 persen dipakai buat gaji pegawai dan subsidi.

Jasim as-Saadun, Kepala Konsultan Eknomi Asy-Syal, menilai rencana anggaran itu tidak berupaya untuk menyesuaikan dengan penurunan harga minyak. "Tidak ada penciptaan lapangan kerja dan diversifikasi dari minyak," ujarnya.

Seperti lima negara Arab Teluk lainnya, Kuwait mengalami defisit sejak harga minyak mentah global anjlok pada pertengahan 2014.

Menteri Keuangan Arab Saudi Muhammad al-Jadaan. (Arab News)

Arab Saudi proyeksikan defisit Rp 698 triliun pada 2020

IMF pernah memprediksi Saudi bebas dari defisit pada 2023.

Ibu Kota Kuwait City, Kuwait. (emirates.com)

Kuwait defisit Rp 154 triliun

Pengeluaran untuk gaji pegawai negeri dan subsidi meliputi 75 persen dari total anggaran belanja negara.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (alriyadh.com)

Arab Saudi defisit Rp 125 triliun di kuartal kedua tahun ini

Ketimbang periode serupa tahun lalu, pengeluaran di kuartal kedua tahun ini naik lima persen, dengan 27 persen kenaikan di belanja modal dan 71 persen untuk subsidi.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

IMF prediksi Arab Saudi alami defisit 6,5 persen

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negeri Dua Kota Suci itu tahun ini sebesar 1,9 persen.





comments powered by Disqus