bisnis

Hizbullah gelontorkan dana subsidi Rp 144 miliar untuk BBM di Libanon

Hizbullah telah mengimpor 30 juta BBM dari Iran.

01 Desember 2021 07:08

Pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah mengklaim organisasinya telah menggelontorkan dana subsidi US$ 10,1 juta (kini setara Rp 144,6 miliar) untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di Libanon.

Dalam pidato melalui televisi Jumat pekan lalu, pemimpin organisasi Syiah ini menjelaskan sebanyak US$ 2,6 juta BBM dibagikan secara gratis kepada pemerintah-pemerintah kota, lembaga nirlaba, dan rumah-rumah sakit. Sedangkan US$ 7,5 juta lainnya dipakai agar BBM bisa dijual dengan harga sangat murah.

Hizbullah September lalu berhasil mengimpor BBM dari Iran, diangkut dengan kapal menuju Pelabuhan Baniyas, Suriah. Dari sana, BBM asal negara Mullah ini dikirim ke Libanon menggunakan truk. Secara keseluruhan, Hizbullah membeli 30 juta liter BBM dari Iran.

Nasrallah menegaskan Hizbullah akan terus mengimpor BBM. Impor selanjutkan akan dikhususkan bagi penduduk Libanon tinggal di dataran tinggi, sebagai persiaan menghadapi musim dingin.

Libanon memnag sedang mengalami krisis ekonomi. Bank sentral tidak mampu menyediakan cadangan devisa untuk mengimpor BBM menjadi kebutuhan pembangkit listrik.

Karena itu, salah satu kebinakan pertama pemerintahan baru dipimpin Perdana Menteri najib Mikati adalah menghapus subsidi BBM. Selama puluhan tahun, Libanon memberikan subsidi sangat besar sehingga harga BBM di negara Cedar itu termasuk paling murah meski Libanon bukan produsen minyak.

Sebelum krisis membekap dua tahun lalu, anggaran subsidi BBM dan kebutuhan pokok lainnya, termasuk roti, mencapai US$ 7 miliar saban tahun.

Krisis BBM melanda Libanon ini membuat Amerika Serikat mendorong impor gas untuk Libanon dari Mesir, disalurkan melalui Yordania dan Suriah.

Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah Saifuddin Hasyim dan putranya, Ridha Saifuddin (kanan). (Twitter)

Israel: Mantu mendiang Qasim Sulaimani selundupkan senjata dari Iran untuk Hizbullah

Selain Hizbullah, Iran juga menyokong dua milisi anti-Israel di Palestina, yakni Hamas dan Jihad Islam.

Kantor bank sentral Libanon (Banque du Liban) di Ibu Kota Beirut, Libanon. (Executive Magazine)

Bank sentral Libanon miliki cadangan emas senilai Rp 251,3 triliun

Salamah membantah Banque du Liban sudah bangkrut.

Bendera Libanon. (Saudi Gazette)

Libanon sudah bangkrut

Krisis ekonomi terburuk membekap Libanon sejak akhir 2019, termasuk depresiasi mata uang pound Libanon, serta mengalami kelangkaan bahan bakar dan obat-obatan.

Dua pemimpin Hamas Saleh al-Aruri dan Khalil al-Hayyah bertemu pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah di Libanon, 26 februari 2022. (Biro Pers Hamas)

Dua pemimpin Hamas bahas ketegangan di Syekh Jarrah dengan Nasrallah

Ketiga tokoh ini membicarakan pula perjuangan mereka untuk melumat Israel dan perkembangan situasi di Timur Tengah.





comments powered by Disqus