buku

Rekonsiliasi nasional

"Mereka (Fatah) adalah penghambat bagi perjuangan untuk membebaskan semua wilayah Palestina dari penjajahan Israel," kata Mahmud Zahar.

31 Juli 2015 21:34

Persatuan dan kesatuan adalah syarat mutlak bagi suatu bangsa buat melawan penjajah. Namun yang terjadi di Palestina malah kebalikan. Mereka terpecah: Hamas versus Fatah, religius dan sekuler, tradisional melawan kebaratan.

Gambaran seperti itu terdapat dalam keluarga Ahmad Yusuf, pejabat senior Hamas. Dari enam bersaudara, tiga anggota Hamas dan sisanya merapat ke Fatah. Koleganya, Basam Naim, dokter bedah lulusan Jerman, bercerita soal bibinya. Dia mempunyai tujuh anak: dua di Hamas, dua di Fatah, dua di Jihad Islam, dan satu lagi agnostik, seperti dikutip dari buku Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan karya Faisal Assegaf (terbiatan hamaslovers, Agustus 2014).

Keluarga Rajub juga senasib. Jibril Rajub adalah pengikut setia Yasir Arafat. Pada 1990-an dia pernah ditunjuk sebagai kepala keamanan untuk Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dia lebih senang bersetelan jas dan kerap menggelar rapat dengan pengusaha-pengusaha lokal di hotel mewah di Kota Hebron. Sedangkan adiknya, Nayif Rajub, adalah anggota Hamas. Berpenampilan sederhana dan berjenggot tebal. Selain mengajar di Universitas Al-Quds, Hebron, dia suka memberi ceramah di masjid.

Sejatinya, perbedaan-perbedaan seperti contoh di atas lumrah saja dalam masyarakat demokratis. Tapi faktanya, elite-elite politik Palestina belum siap berdemokrasi. Ketika Fatah masih berkuasa, Jibril memenjarakan Nayif. Dengan congkak dia menyatakan dalam kampanye pemilu 2006, Hamas harus belajar dari Fatah. "(Karena) kami telah memimpin revolusi. Kami sudah 41 tahun memimpin rakyat Palestina."

Oposisi tidak diharamkan dalam demokrasi. Tapi Fatah tidak sekadar menolak kemenangan Hamas. Mereka berupaya menggulingkan rezim dianggap organisasi teroris oleh Israel dan Amerika Serikat itu. Tentu saja ini sebuah kebodohan. Fatah mestinya sadar sikap arogan mereka itu hanya menguntungkan penjajah Israel. Mereka berhasil mengadu domba dua faksi terbesar dan paling berpengaruh di Palestina ini.

Sebab itu, perdamaian antara Fatah dan Hamas perlu segera diwujudkan. Memang benar ini bukan perkara mudah. Fatah selama ini berkuasa dan mendominasi PLO dianggap masyarakat internasional sebagai perwakilan resmi rakyat Palestina, pastinya tidak mau kehilangan muka. Seharusnya kekalahan mereka dari Hamas dalam pesta demokrasi juga dipantau pengawas asing, termasuk Carter Foundation milik mantan Presiden Amerika Jimmy Carter, menjadi momentum buat Fatah bercermin dan memperbaiki diri.

Fatah memandang Hamas sebagai musuh bebuyutan. Kedua kelompok ini memang berbeda pandangan dan ideologi. Hamas mengusung Islam sebagai basis politik bersumpah tidak akan pernah mengakui negara Israel. Sedangkan Fatah beraliran nasionalis sekuler selama ini bersedia berunding dengan Israel meski tidak pernah memperoleh hasil menyenangkan.

Fatah awalnya meremehkan Hamas. Namun ketika gerakan dibentuk para aktivis Al-Ikhwan al-Muslimun ini kian besar dan berpengaruh, Fatah merayu mereka agar mau bergabung. Ketika Fatah didirikan pada 1957, mereka mampu merekrut anggota-anggota terbaik Al-Ikhwan.

Syekh Ahmad Yasin juga disasar saat Fatah mulai melancarkan perlawanan bersenjata terhadap Israel dengan harapan negara-negara Arab mau berperang menghadapi negara Zionis itu. Namun tawaran pada 1965 itu dia tolak. Syekh Yasin beralasan negara-negara Arab tidak siap dan bahkan tidak mau memerangi Israel.

Dia yakin mereka akan kalah dan Palestina bakal makin kehilangan wilayah. Pandangan Syekh Yasin ini terbukti benar dalam Perang Enam Hari, Juni 1967. Negara-negara Arab takluk dan Israel berhasil mencaplok Jalur Gaza serta Tepi Barat.

Pemimpin senior Hamas di Gaza Mahmud Zahar baru-baru ini menegaskan lagi pintu rekonsiliasi dengan Fatah sudah tertutup. Hamas tidak akan pernah mau berdamai dengan kelompok bekerja sama dengan Israel. "Mereka (Fatah) adalah penghambat bagi perjuangan untuk membebaskan semua wilayah Palestina dari penjajahan Israel," katanya.

Para pentolan Hamas dan Fatah mesti segera sadar, kekuasaan mereka perebutkan hanya bersifat semu. Hakikatnya mereka masih dijajah Israel.

Demi sebuah otoritas semu, Palestina kini terbelah: Tepi Barat dan Jalur Gaza. Ini kebodohan bangsa Palestina dan negara-negara Arab tidak mau bersatu.

Presiden Palestina Mahmud Abbas bertemu Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, November 2017. (Wafa)

Abbas akan jadi calon presiden dari Fatah

Pemilihan legislatif terakhir digelar di 25 Januari 2006 dan dimenangkan oleh Hamas.

Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah saat mengunjungi kamp pengungsi Palestina di Libanon pada 6 September 2020. (Biro Pers Hamas buat Albalad.co)

Pemimpin Hamas diprediksi menang dalam pemilihan presiden Palestina

Hamas menang dalam pemilihan legislatif pada Januari 2006. Tapi pemerintahan dipimpin Perdana Menteri Haniyah bubar di Juni 2007.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sokongan Mesir dan Iran

"Iran sangat berkomitmen terhadap Hamas. Mereka membiayai sayap militer dan pemerintahan Hamas," kata Ahmad Yusuf, penasihat Ismail Haniyah.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Masa depan Gaza

Ada lima faktor utama menentukan masa depan Gaza: komitmen dan soliditas Hamas, rekonsiliasi nasional, blokade Israel, sokongan Mesir dan Iran, serta perubahan tatanan global.





comments powered by Disqus