buku

Warna-warni Kota Benghazi

Benghazi pernah menjadi ibu kota kembar bersama Tripoli di zaman Raja Idris I.

26 September 2015 04:32

Nama Benghazi telah mendunia lantaran revolusi pecah di sana. Di kota terbesar kedua di Libya setelah Tripoli itu, demonstrasi besar-besaran anti-Muammar Qaddafi pertama kali meletup pada 17 Februari lalu. Kini berlanjut hingga bentrokan bersenjata antara pemberontak dan pasukan Qaddafi.

Situasi di Benghazi sudah mulai stabil dan kehidupan sekitar 650 ribu warganya berjalan normal. Toko-toko buka, ibu-ibu ditemani anak-anak gadis mereka ke pasar, dan anak-anak bermain dengan riang di luar rumah. Sebab pertempuran kini sudah menjauh dari Benghazi. Basis pertahanan tentara Qaddafi sekarang berada di Sirte, kota kelahiran pemimpin berusia 69 tahun itu, seperti dikutip dari buku Rahasia Muammar al-Qaddafi karya Faisal Assegaf (terbitan Hamaslovers, November 2011).

Di balik kehidupan normal di kota pernah menjadi ibu kota kembar bersama Tripoli di zaman Raja Idris I itu, ada sisi lain mewarnai kota luasnya sepersepuluh dari Jakarta ini. Angka pengangguran tinggi. Banyak anak muda usia produktif kerjanya hanya nongkrong di pinggir jalan atau jalan-jalan mengisi waktu. Terutama pada sore, jalan di sepanjang pantai penuh orang.

Apalagi di Lapangan Kebebasan (Midan Tahrir) menjadi pusat demonstrasi tujuh bulan lalu. Kawasan seolah menjadi alun-alun itu sekarang menjadi tempat paling banyak dikunjungi. Selain untuk mengenang orang-orang terbunuh selama berjuang melawan pengikut Qaddafi, mereka bisa memilih-milih pelbagai macam suvenir khas revolusi. Mulai dari kaus oblong, bendera, gantungan kunci, kalung, sajadah, topi, hingga dompet telepon seluler.

Semuanya berciri khas sama. Kalau tidak bergambar bendera tiga warna (merah, hitam, dan hijau dengan bulan sabit dan bintang di bagian tengah), berhiaskan Umar al-Mukhtar (tokoh perjuangan saat penjajahan Italia), jari tangan berbentuk huruf V, tanggal 17 Februari, atau gambar para syuhada.

Karena begitu banyak lelaki menganggur, alhasil mereka tidak berani menikah sebab tidak punya penghasilan tetap. Meski banyak perempuan berkulit bak pualam dengan wajah sedap dipandang, anak-anak muda tanggung itu hanya bisa menahan hasrat mereka dalam hati.

"Enaknya hanya seminggu, setelah itu paling berantem terus," kata Ali al-Afram, 24 tahun, bekerja sebagai resepsionis Hotel Daujal. Akibatnya, banyak pula perawan tua di Benghazi. Kecuali orang tua mereka nekat menikahkan putrinya. Seperti tradisi di negara-negara Arab, pernikahan kerap melalui perjodohan.

Usamah, terpaksa menjadi sopir taksi, mengakui sangat sulit mencari pekerjaan di Libya. "Semua ini ulah Qaddafi tidak memperhatikan rakyatnya," ujarnya. Padahal kalau mau, sebagai negara kaya minyak ini bisa makmur seperti Qatar atau Kuwait. Apalagi penduduknya hanya sekitar 6,5 juta orang.

Meski begitu, rata-rata keluarga di Benghazi mempunyai satu mobil biasanya diparkir di depan rumah mereka. Jadi jangan heran jika berkeliling Benghazi, sisi kiri dan kanan jalan dpenuhi mobil. Inilah mengherankan. Mobil-mobil itu seolah tidak pernah dicuci, bahkan banyak yang sudah tergores, lampu pecah, atau seperti rongsokan masih berkeliaran di jalan. Saya juga tidak menjumpai tempat pencucian mobil seperti yang menjamur di Jakarta.

Tapi itu yang kelihatan. Menurut Ali, banyak warga Benghazi menyembunyikan mobil-mobil mewah di vila mereka di luar kota. Jadi yang keluar hanya mobil kelas rendah dan menengah. "Mereka takut dicuri. Lihat saja nanti kalau rezim Qaddafi sudah berakhir, mobil-mobil seharga US$ 200 ribu akan berseliweran."

Satu lagi hal mengejutkan adalah tidak ada polisi lalu-lintas. Tidak seperti di Jakarta berada di tiap perempatan atau bersembunyi untuk menjebak pengendara sengaja melanggar.

Inilah harus menjadi pelajaran buat pemilik kendaraan bernotor di Jakarta. Walau tidak ada polisi, ketika lampu merah dan situasi jalan sepi, semua mobil berhenti (motor amat sangat jarang kelihatan). Tidak ada yang menerobos saat lowong. "Kami di sini mematuhi aturan," ujar Usamah.

Seperti di negara-negara Arab lainnya, kedai-kedai kopi pinggir jalan saban malam dipenuhi pengunjung. Mereka asyik mengobrol ditemani gahwah, kebab, atau syawarma. Sayangnya tidak ada bar, diskotek, atau prostitusi bisa menghangatkan udara malam dingin.

Dari kota berwarna-warni inilah, revolusi sekarang menyudutkan Qaddafi bertiup.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

Mobil milik Pangeran Walid bin Saud bin Abdul Aziz. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pelesiran sejenak di Jeddah

Terdapat sejumlah kedutaan besar di Jeddah dan suasananya lebih rileks dibanding kota-kota lain di Arab Saudi.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Faisal dan mimpi perubahan di Arab Saudi

Faisal, pemuda Arab Saudi lulusan dari sebuah universitas di Amerika, bersemangat membahas gagasan-gagasannya untuk perubahan di negaranya, hal tabu waktu itu.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Mengunjungi kompleks istana Raja Saud

Selepas kedua gerbang itu terdapat halaman seluas 2,6 kilometer persegi.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

14 September 2019
Pelesiran sejenak di Jeddah
07 September 2019

TERSOHOR