buku

Ketamakan putra Raja Fahad

Anggota parlemen Inggris, Jonathan Atiken, menjadi boneka dari Pangeran Muhammad bin Fahad.

20 April 2019 13:43

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.   

*******

Ketamakan putra Raja fahad

Pada Sabtu malam di pertengahan Desember 1984. Saya tiba di 2 Bolney Gate, Knightsbridge dan manajer rumah menyambut kedatangan saya. Saya kerap bekerja dengan para staf di rumah itu dan mereka sudah sangat mengenali saya.

Putra kedua dari Raja Arab Saudi Fahad bin Abdul Aziz, Pangeran Muhammad bin Fahad bin Abdul Aziz (Asisten Menteri Dalam Negeri namun segera menjadi Gubernur Provinsi Timur) dan Pangeran Saud bin Nayif bin Abdul Aziz (anak dari Menteri Dalam Negeri Pangeran Nayif bin Abdul Aziz) akan tiba di London dalam sejam lagi. Saya sudah sering bekerja untuk mereka dan sekali lagi dipanggil untuk mengawal keduanya.

Ketika saya sedang bersantai di lobi, saya teringat bagaimana saya pada 1982 menemukan sebuah salinan tulisan dari Jonathan Aitken, Anggota Majelis Rendah parlemen Inggris, tergeletak di atas sebuah meja kopi. Saya mengambil dokumen itu dan membaca sejumlah pertanyaan ditebalkan menggunakan pulpen.

Dokumen itu menunjukkan Aitken telah mengajukan beberapa pertanyaan di parlemen mewakili Raja Fahad. Penguasa negara Kabah ini telah mengajukan sebuah proposal perdamaian untuk penyelesaian masalah Palestina dan pertanyaan diajukan Aitken di parlemen Inggris terkait dengan proposal damai Raja Fahad.    

Pada 1982, Raja Fahad telah mengambil langkah proaktif untuk penyelesaian konflik Arab-Israel, dengan menawarkan sebuah rencana perdamaian untuk pertama kali mengakui keberadaan negara Israel dengan syarat-syarat tertentu. Laporan Sir John Wilton tentang proposal damai Raja Fahad ke Majelis Rendah parlemen Inggris pada 31 Maret 1982 membuktikan pemerintah Inggris sangat menyadari kekuatan ekonomi Arab Saudi dan bagaimana kesetiaannya dapat berubah di saat-saat bergolak.

Wilton menggambarkan Arab Saudi sebagai sebuah kekuatan stabil tapi juga bisa berbalik arah. Saat ini Saudi memang anti-komunis, seperti Suriah. Mereka mungkin terpaksa mengubah kebijakan mereka dan berpaling ke Uni Soviet kalau Inggris atau Amerika Serikat tidak menekan Israel secara efektif.

Memasok persenjataan ke Arab Saudi akan menunjukkan sokongan Inggris kepada sebuah negara Arab secara terbuka dan secara keuangan berkomitmen membantu perjuangan Palestina. Sehingga dengan tidak langsung Inggris juga mendukung Palestina. Sokongan ini bakal menjamin pasoan minyak dari Saudi.

Tidak lama setelah saya tiba di rumah itu, terdengar suara sirene konvoi Pangeran Muhammad bin Fahad dan Pangeran Saud bin Nayif di luar. Saya kemudian membuka pintu lebar-lebar dan menyambut kehadiran kedua pangeran itu. Seperti biasa, mereka langsung menerobos masuk.

Namun ketika Pangeran Muhammad bin Fahad lewat, saya terkenang komentar para puteri kerajaan Arab Saudi, betapa menawannya Pangeran Muhammad bin Fahad. Posturnya tinggi, sekitar 190,5 sentimeter, dengan rambut berwarna hitam pekat. Badannya atletis dan penampilannya berwibawa. Di dalam rumah, dia selalu bergamis dan berturbah tapi kalau keluar tampil rapi.

Pangeran Saud bin Nayif berjalan di belakang Pangeran Muhammad bin Fahad saat memasuki rumah. Saya tahu betul kedua pangeran ini adalah kawan bisnis. Mereka memiliki sebuah perusahaan dagang (bernama Al-Bilad) dengan kantor cabang di seluruh dunia. Anggota parlemen Inggris, Jonathan Aitken, adalah direktur pelaksana dari kantor Al-Bilad di London.

Pangeran Saud bin Nayif juga mempunyai perusahaan lain bernama SNAS, kepanjangan dari Saud Nayif Al-Saud.

Kedua pangeran itu hampir memuncaki daftar orang-orang paling rakus dan korup di Arab Saudi. Mereka sering melibatkan diri dalam persekongkolan bedebah. Di Inggris, keduanya secara ilegal membeli saham mayoritas TV AM dan menempatkan Jonathan Aitken sebagai bos di stasiun televisi itu. Ketika keterlibatan Arab Saudi terbongkar, Pangeran Muhammad bin Fahad dan Pangeran Saud bin Nayif menjual semua saham mereka di TV AM.

Pangeran Muhammad bin Fahad, Fahad al-Athal, Said Ayas, dan beberapa temannya kemudian membeli kawasan peternakan Inglewood di Berkshire. Sekali lagi, Jonathan Aitken dijadikan direktur di sana.

Waktu saya bekerja untuk Pangeran Muhammad bin Fahad dan Pangeran Saud bin Nayif, saya membuka lebar-lebar kedua mata dan telinga saya. Saya menikmati intrik dan semua kesepakatan jahat mereka lakukan.

Setelah kedua pangeran masuk ke dalam rumah, saya bergosip dengan sopir sekaligus ajudannya, Jeff dan Gerry. Mereka bilang Pangeran Muhammad bin Fahad telah membikin marah Amerika mengenai sebuah kontrak telah disepakati. Menurut orang-orang Amerika itu, Pangeran Muhammad sudah mencuri kontrak untuk memasok sistem komunikasi telepon di seantero Arab Saudi.

Nilai kontrak pada Desember 1984 itu sebesar US$ 10 miliar. Seraya tertawa, Gerry bercerita Amerika telah mengirim seorang utusan untuk memnemui Raja Fahad agar memperoleh kontrak itu. Entah bagaimana, Pangeran Muhammad bin Fahad mengetahui sang utusan sedang dalam perjalanan.

Pangeran Muhammad bin Fahad lantas menghubungi menteri bertanggung jawab soal kontrak itu. Dia meminta sang menteri meneken kontrak atas nama Pangeran Muhammad. Alhasil, ketika utussan Amerika itu tiba di Arab Saudi, dia sudah terlambat.

Beruntung Raja Fahad selamat dari siatuasi politik memalukan. Sebab di saat bersamaan, Raja Fahad atau Putera Mahkota tidak bisa menemui Duta Besar Amerika Serikat William Porter.

Pangeran Muhammad bin Fahad berhasil mendapatkan kontrak untuk memasok telepon di seluruh Arab Saudi walau peserta tender lain menawarkan harga lebih murah. Ketika mereka ingin mengajukan protes, pangeran tidak pernah ada di tempat. Komisi diterima Pangeran Muhammad dari kontrak itu sebesar US$ 1,3 miliar. Juga ada komisi tambahan terkait kontrak pemeliharaan.

Jeff dan Gerry lalu berbicara tentang kerugian dialami Pangeran Muhammad bin Fahad dan melibatkan perusahaan Jepang bernama Petromonde. Perusahaan ini membeli minyak dari Saudi Aramco dan dijual lagi dengan mendapat laba. Kesepakatan antara Petromonde dan Pangeran Muhammad tanpa pembeli atau Petromonde menjadi bagian dari perusahaan milik Pangeran Muhammad, Al-Bilad. Karena rugi, Pangeran Muhammad harus membayar Petromonde sekitar US$ 11 juta saban bulan selama lebih dari setahun.

Saat sedang asyik mendengarkan cerita Jeff dan Gerry tiba-tiba pintu depan rumah diketuk orang. Saya mengintip dari celah pintu dan disambut oleh wajah Jonathan Aitken. Saya kemudian membukakan pintu. Aitken bergegas masuk dan mengadakan pertemuan dengan Pangeran Muhammad bin Fahad dan Pangeran saud bin Nayif sekitar 45 menit.

Saya selalu tersenyum saban kali melihat Jonathan Aitken di dekat Pangeran Muhammad bin Fahad. Dia bersikap begitu merendahkan diri di depan Pangeran  Muhammad. Dia kelihatan seperti boneka bisa disuruh sesuai keinginan Pangeran Muhammad.

Saya duduk lagi bareng Jeff dan Gerry, serta mulai berbicara tentang waktu di Cleve Lodge, kediaman kepunyaan Pangeran Saud bin Nayif, ketika Jonathan Aitken mengatakan kepada kami untuk membeli saham di sebuah perusahaan bernama BMARC.

Kami juga bergosip soal Cliff Garlick, sopirnya Aitken. Dia pernah menunjukkan sebuah apartemen diberikan Aitken kepada selingkuhannya, mantan presenter TV AM. Apartemen itu menjadi bayarannya.

Kehadiran Aitken seperti sebuah pergeseran topik pembicaraan. Saya mengungkapkan pertama kali melihat Aitken ketika saya bekerja dengan Pangeran Talal bin Abdul Aziz, sahabat dari dealer senjata Adnan Khashoggi.

Aitken berselingkuh dengan Soraya, istri dari Khashoggi. Hubungan gelap keduanya tidak terbongkar. Aitken memang memiliki reputasi sebagai penakluk wanita. Tingginya sekitar 188 sentimeter, berambut hitam, dan bertubuh atletis.       



Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

Mobil milik Pangeran Walid bin Saud bin Abdul Aziz. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pelesiran sejenak di Jeddah

Terdapat sejumlah kedutaan besar di Jeddah dan suasananya lebih rileks dibanding kota-kota lain di Arab Saudi.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Faisal dan mimpi perubahan di Arab Saudi

Faisal, pemuda Arab Saudi lulusan dari sebuah universitas di Amerika, bersemangat membahas gagasan-gagasannya untuk perubahan di negaranya, hal tabu waktu itu.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Mengunjungi kompleks istana Raja Saud

Selepas kedua gerbang itu terdapat halaman seluas 2,6 kilometer persegi.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

14 September 2019
Pelesiran sejenak di Jeddah
07 September 2019

TERSOHOR