buku

Mengunjungi kompleks istana Raja Saud

Selepas kedua gerbang itu terdapat halaman seluas 2,6 kilometer persegi.

17 Agustus 2019 23:49

Albalad.co berhasil mendapatkan izin dari penulis buku Saudi Bodyguard, Mark Young, untuk menerjemahkan sekaligus menerbitkan isi bukunya di Albalad.co. Seperti biasa, rubrik buku ini muncul saban Sabtu dan dimulai sejak 11 November 2017.

Albalad.co sejatinya memperoleh salinan buku Saudi Bodyguard dalam bentuk PDF tersebut langsung dari Mark Young, mantan pengawal para pangeran dan puteri di Kerajaan Arab Saudi, pada 1 September 2017. Baru ketika perkembangan dramatis terjadi saat ini di negara Kabah itu, Albalad.co memutuskan melansir terjemahan dari isi buku setebal lebih dari 400 halaman dan diterbitkan pada 2010 itu.

Mark Young, berasal dari Inggris, adalah pemegang sabuk hitam karate. Ayahnya adalah mantan anggota pasukan elite Inggris dan bekas anggota MI6, dinas intelijen Inggris.

Sejak Mei 1976, dia mulai menjadi instruktur dan membuka tiga sekolah karate. Tiga tahun kemudian, dia memulai kariernya sebagai pengawal pribadi keluarga kerajaan Arab Saudi. Tugas pertamanya adalah mengawal Pangeran Talal bin Abdul Aziz, ayah dari pemilik Kingdom Holding Company, Pangeran Al-Walid bin Talal, ditahan di Hotel Ritz Carlton di Ibu Kota Riyadh, selama November 2017-akhir Januari 2018.

Pangeran Al-Walid termasuk dalam 201 kaum elite Arab Saudi - meliputi pangeran, pejabat, dan pengusaha kakap - ditangkap atas tudingan korupsi. Penangkapan ini atas perintah Komisi Pemberantasan Korupsi, dibentuk beberapa jam sebelumnya dan diketuai oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young ini bercerita dengan bahasa bertutur sebagai orang pertama mengenai pengalamannya selama menjadi pengawal pribadi keluarga Kerajaan Arab Saudi, termasuk Raja Salman bin Abdul Aziz.

*******

Mengunjungi kompleks istana Raja Saud

"Mark, Mark, apakah kamu sudah bangun?" terdengar suara di luar pintu kamar. Ketika saya membuka pintu, saya melihat Sultan berdiri dengan wajah tersenyum lebar. "Saya akan berkemas-kemas dulu dan segera menyusulmu," kata saya.

Dengan cekatan saya, kami sudah keluar menuju Mercedes milik Pangeran Misyari bin Saud bin Abdul Aziz dan Majid sudah menunggu kami. "Ahlan, ahlan yaa Majid. Kaif haal? kata saya. "Alhamdulillah, bi khair," jawabnya.

Saya menemukan hampir semua kalimat dipakai di Arab Saudi merujuk kepada Allah. Tapi ironisnya, keluarga kerajaan jarang menjalankan ajaran Islam. Kalau para pangeran dan puteri bisa seenaknya tidak mempraktekkan ajaran Islam bebas dari hukuman, namun warga biasa di Arab Saudi bakal dihukum, bahkan bisa dikenai hukuman mati.

Hukuman-hukuman mereka terima kerap tidak sebanding dengan pelanggaran dilakukan keluarga kerajaan hampir saban hari. Kalau mereka juga dikenai sanksi serupa, pasti jumlah pangeran dan puteri kerajaan tinggal sedikit.

Mesin Mercedes sudah dinyalankan dan penyejuk udara sudah mendinginkan suhu dalam mobil sebelum Pangeran Misyari datang. Koper saya dan barang-barang lainnya sudah dimasukkan ke dalam bagasi Mercedes dan Chevrolet 4x4 diparkir di belakangnya. Ketika Pangeran Misyari melangkah ke arah kami, orang-orang menyambut dia dan saya pun menyambut dengan lebih sopan.

Majid kemudian membawakan koper Pangeran Misyari dan meunggu sampai dia masuk ke dalam mobil. Dia mengisyaratkan kepada saya untuk duduk di sebelahnya. Sultan duduk di samping Majid di jok depan.

Di bandar udara Dhahran, kami langsung menuju pesawat sudah menunggu. Duduk di kabin kelas satu, kami bersiap untuk lepas landas. Saya dapat merasakan Pangeran Misyari sedang gusar dan saya ingat dia tidak nyaman kalau naik pesawat. Penerbangan berjalan lancar dan dalam sejam kami sudah mendarat di bandar udara di Ibu Kota Riyadh.

Saya berjalan di belakang Pangeran Misyari dan Sultan. Saya membawakan koper Pangeran Misyari sambil melihat-lihat arsitektur bandar udara Riyadh. Bangunannya indah, modern, dan bersih. Saya sempat terpeleset.

Saya kemudian memandang ke depan dan melihat Pangeran Misyari dan Sultan sedang di pos pemeriksaan dijaga tentara bersenjata. Saya bergegas menyusul dan berhasil melewati pos pemeriksaan.

Rupanya alarm berbunyi. Saya memandang ke arah para penjaga dan mereka juga melihat ke arah saya. Saya batnya-tanya dalam hati ada masalah apa. Saya berdiri mematung sambil menahan napas, berharap magasin 9 milimeter itu tidak mengarah ke kepala saya. Hingga akhirnya Pangeran Misyari balik badan dan melihat apa yang menyebabkan keributan terjadi. Ketika menyadari saya dalam masalah, dia memerintahkan kepada para penjaga untuk membiarkan saya lewat.

Saat saya melewati mereka, mata-mata mereka memandang penuh curiga ke arah saya. Saya kemudian bertanya epada Pangeran Misyari, "Yang Mulia, ada apa sebenarnya?" "Tidak ada apa-apa, Mark," jawabnya. "Hanya detektor mencium pistol saya dalam koper kamu bawa. Itu saja." Saya tidak menyangka dia membawa pistolnya di Saudi.

Ketika kami hampir tiba di pintu keluar bandar udara, seseorang kelihatan seperti pejabat mendekati kami dan memberi salam kepada Pangeran Misyari. Dia mengantar kami ke mobil Mercedes tengah menunggu. Sang sopir memasukkan barang-barang kami ke dalam mobil.

"Mark, kita akan pergi ke vila saya di An-Nasiriyah, lokasi istana ayah saya berada. Dia membangun satu vila untuk tiap anak-anaknya dalam kompleks itana." Saya membayangkan kalau Pangeran Misyari berkata benar karena Raja Saud mempunyai lebih dari seratus anak

"Setelah kita tiba di sana, kita akan ke rumah Pangeran Muhammad (bin Saud) untuk makan siang. Pangeran Muhammad adalah salah satu abang saya. Dia menjabat menteri pertahanan ketika ayah kami menjadi raja," ujar Pangeran Misyari. Saya belum pernah bertemu Pangeran Muhammad.

Saat kami mendekati sebuah pintu gerbang sangat besar, Pangeran Misyari bilang, "Pintu gerbang ini adalah batas akhir dari pagar tembok mengelilingi kompleks istana."

Pintu gerbang itu setinggi hampir sebelas meter dan selebar 36,5 meter. Di balik pintu gerbang ini terdapat dua gerbang, satu untuk masih dan satunya lagi buat keluar. Dia atas kedua gerbang itu ada simbol Arab Saudi: pohon kurma dan pedang. Di atasnya terdapat pahatan bendera Arab Saudi dari batu.

Selepas kedua gerbang itu terdapat halaman seluas 2,6 kilometer persegi. Saya cuma mengambil napas ketika membayangkan seperti apa rupa kompleks istana itu kalau semua pagar tembok mengelilingi kompleks itu berdiri.

Sang sopir lantas menghentikan mobilnya dan membukakan pintu bagi Pangeran Misyari. Ketika sang pangeran berjalan menuju vilanya, seorang pelayan membukakan pintu masuknya. Sultan dan saya menyusul, saya membawakan koper pentingnya. Sedangkan sopir mengangkut koper kami ke dalam lorong vila.

Vila itu dibangun bergaya Mediterania dan hanya terdiri dari satu lantai. Bangunannya besar tapi tidak ada hal istimewa mengenai dekorasinya. Saya cuma memperhatikan beragam tanaman tumbuh dalam komplkes istana itu, membikin say kaget lantaran iklim di Riyadh kelewat panas.

Tentu butuh usaha keras dan waktu lama untuk kawasan itu subur dan hijau. Sultan menunjukkan kepada saya kamar bakal saya huni. Saya lalu mengambil koper saya dan membawa ke dalam kamar. Saya kemudian bergegas mandi dan keluar menuju ruang tengah menunggu yang lain.

Sambil duduk di sofa, saya mengambil waktu semenit untuk menyadari betapa beruntungnya saya dapat berkunjung ke Arab Saudi. Dengan uang bakal saya terima ketika pulang, itu sudah cukup buat lima pekan. Sebagai tamu dari Pangeran Misyari, saya tidak perlu membayar semua pengeluaran selama di Arab Saudi.

Ketika sedang asyik melamun, Pangeran Misyari masuk ke ruang tengah. Saya langsung berdiri. "Apakah kamu sudah siap, Mark? Kalau sudah, kita berangkat sekarang." "Ya Tuan, saya sudah siap," jawab saya.

Pangeran Misyari berjalan duluan. Dia langsung duduk di depan setir dan menyuruh saya duduk di sampingnya. Kami lantas pergi menuju vila Pangeran Muhammad. Selama perjalanan, dia bercerita sedikit mengenai sejarah ayahnya dan tentang An-Nasiriyah.

 

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Berburu tikus gurun

"Saya harus mengakui kamu sedikit tergesa-gesa saat mau menangkap Jerboa tadi," ujar Pangeran Misyari seraya tertawa.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Menolak ikut makan malam di rumah Pangeran Muhammad bin Fahad

Menahan paspor, melarang memakai telepon ke luar negeri, menyensor surat kabar, majalah dan mengontrol program televisi adalah siasat pemerintah Saudi untuk mengawasi rakyatnya.

Mobil milik Pangeran Walid bin Saud bin Abdul Aziz. (Mark Young/Saudi Bodyguard)

Pelesiran sejenak di Jeddah

Terdapat sejumlah kedutaan besar di Jeddah dan suasananya lebih rileks dibanding kota-kota lain di Arab Saudi.

Buku Saudi Bodyguard karya Mark Young. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Faisal dan mimpi perubahan di Arab Saudi

Faisal, pemuda Arab Saudi lulusan dari sebuah universitas di Amerika, bersemangat membahas gagasan-gagasannya untuk perubahan di negaranya, hal tabu waktu itu.





comments powered by Disqus

Rubrik buku Terbaru

Berburu tikus gurun

"Saya harus mengakui kamu sedikit tergesa-gesa saat mau menangkap Jerboa tadi," ujar Pangeran Misyari seraya tertawa.

05 Oktober 2019
Pelesiran sejenak di Jeddah
07 September 2019

TERSOHOR