IQRA

Misi Gagal Tim 6 SEAL (1)

Sabtu berdarah di Syabwah

"Saya pastikan nyawa saya dalam bahaya. Jadi saya duduk di sini sekarang meminta jika ada yang bisa dilakukan, tolong kerjakan," kata Luke Somers.

15 Desember 2014 00:02

Keheningan masih membungkus sebuah desa terpencil di Provinsi Syabwah, selatan Yaman, Sabtu dini hari dua pekan lalu. Penduduk desa di atas bukit itu - dari suku Abyan - masih tidur lelap di tengah suhu musim dingin menusuk tulang.

Dari atas kapal induk USS Makin Island berlabuh di lepas pantai Teluk Aden, Yaman, V-22 Osprey terbang menuju sasaran. Helikopter multimisi ini mengangkut 40 tentara istimewa: 36 personel Tim 6 SEAL dibantu empat anggota pasukan elite Yaman.

Operasi penyelamatan sandera itu dimulai pukul satu dini hari setelah ada lampu hijau dari Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama. Misi mereka membawa pulang hidup-hidup Luke Somers, wartawan foto asal negara itu, dan guru asal Afrika Selatan, Pierre Korkie.

Mereka berkejaran dengan waktu lantaran maut bakal menjemput Somers paginya. Kepala Biro Keamanan Nasional Yaman Mayor Jenderal Ali al-Ahmadi mengatakan pihaknya menerima informasi AQAP (Al-Qaidah di Semenanjung Arab) bakal membunuh Somers pada Sabtu pukul enam pagi.

"Mereka ingin membunuh dia (Somers)," kata Ali di sela konferensi tahunan Manama Dialogue di the International Institute for Strategic Studies, Bahrain. "Mereka mestinya mengeksekusi dia pagi hari ini (Sabtu)."

Sabtu itu merupakan batas waktu ditetapkan Al-Qaidah buat pemerintah Amerika memenuhi sejumlah tuntutan mereka - kemungkinan besar uang tebusan - sebagai syarat pembebasan Somers. Dalam rekaman video tiga menit dilansir Rabu dua pekan lalu, Al-Qaidah memberi tenggat tiga hari.

Video itu menayangkan permohonan Somers untuk diselamatkan. "Sekarang sudah lebih dari setahun sejak saya diculik di Sanaa (ibu kota Yaman)," katanya. "Saya pastikan nyawa saya dalam bahaya. Jadi saya duduk di sini sekarang meminta jika ada yang bisa dilakukan, tolong kerjakan."

Rekaman itu memuat pula pernyataan Nasir bin Ali al-Ansi, dedengkot penculik. Dia menyarankan Obama tidak mengulangi misi penyelamatan gagal sebelumnya dan menyebut itu tindakan bodoh.

Dalam misi penyelamatan dua pekan sebelumnya di Provinsi Hadramaut, timur Yaman, pasukan SEAl tidak menemukan Somers dan Korkie di lokasi. Mereka berhasil menyelamatkan delapan sandera: enam orang Yaman, satu Arab saudi, dan seorang lagi asal Ethiopia. Insiden itu menewaskan tujuh anggota Al-Qaidah.

Tapi Obama kukuh tidak mau mengubah kebijakan buat menyelamatkan warga negaranya menjadi tawanan teroris. Gedung Putih menolak membayar uang tebusan meski tiga warganya baru-baru ini dipenggal kelompok ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). "Nyawa Luke benar-benar dalam bahaya. Seperti operasi penyelamatan sandera saat ini dan sebelumnya, Amerika akan memakai semua kemampuan militer, intelijen, dan diplomatik untuk membawa pulang warganya dalam keadaan selamat di mana saja mereka disekap," ujar Obama dalam pernyataan tertulis.

Obama pun memerintahkan misi penyelamatan Somers dijalankan lagi meski berisiko sandera bisa terbunuh.

V-22 Osprey, helikopter mampu lepas landas dan mendarat vertikal atau di lintasan pendek, mendarat beberapa ratus meter dari sasaran: sebuah kompleks berisi empat rumah dan dipagari tembok. Bersenjata berat dilengkapi kaca mata penginderaan malam, 40 pasukan khusus itu mulai memanjat bukit.

Nahas. Kurang dari seratus meter kehadiran tim penyelamat ketahuan oleh para penculik, berjumlah sekitar setengah lusin. Mereka memang sudah mengira Amerika bakal melancarkan lagi misi serupa.

Karena itu setelah mendengar anjing penjaga menyalak, baku tembak antara pasukan elite dan Al-Qaidah pecah. Seorang penjaga segera berlari - jauh dari jangkauan tembak - ke arah rumah tempat Somers dan Korkie disekap. Di tengah pertempuran itulah keduanya dieksekusi.

Namun Guardian menulis versi lain. "Ketika pasukan memasuki tempat di mana sandera ditawan, mereka meminta kepada para penculik untuk menyerah karena sudah dikepung," tutur sumber intelijen senior Yaman kepada kantor berita Reuters.

Setelah baku tembak usai, pasukan menemukan Somers dan Korkie tergetak dalam keadaan luka parah. Korkie meninggal di atas V-22 Osprey, sedangkan Somers mengembuskan napas terakhir di USS Makin Island.

Pemimpin suku di desa tempat misi penyelamatan gagal terjadi, Tariq ad-Daghari al-Aulaki, bilang pasukan komando Amerika telah menyerbu empat rumah, menewaskan sedikitnya empat militan Al-Qaidah dan delapan warga sipil, termasuk kakek 70 tahun.

"Baku tembak itu menimbulkan kepanikan. Sembilan dari yang terbunuh berasal dari suku saya," katanya. Dia menambahkan penduduk desa Sabtu itu menguburkan korban meninggal dan mengumpulkan selongsong peluru.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Chuck Hagel membenarkan operasi penyelamatan gagal itu. "Tawanan Somers dan seorang warga non-Amerika dbunuh oleh teroris AQAP selama misi penyelamatan," ujarnya lewat pernyataan tertulis saat berkunjung ke Ibu Kota Kabul, Afghanistan.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

Haji Bakar, perancang ISIS. (france24.com)

Kuat karena Baath

Sejak rezim Saddam terguling akibat invasi Amerika pada 2003, orang-orang ini kehilangan penghasilan dan kekuasaan. Sekarang ISIS menjadi kendaraan buat mereka memperoleh kembali status itu.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021

TERSOHOR