IQRA

Petaka Zionisme (2)

Zionisme dan anti-Semitisme

Pimpinan Zionis menken perjanjian dengan Hitler untuk memaksa warga Yahudi pindah ke Palestina.

16 Maret 2015 01:09

Theodor Herzl (1860-1904) mengakui anti-Semitisme akan mempermulus tujuan mendirikan negara bagi bangsa Yahudi. Dia menegaskan bagaimana pun caranya, anti-Semit harus menjadi isu politik internasional.

Anti-Semit akan menjadi teman terpercaya kita, negara-negara (mendukung) anti-Semit adalah sekutu kita, tulis Herzl dalam bukunya Der Judenstaat (Negara Israel) halaman 19. Buku ini diluncurkan pada 14 Februari 1896 di Leipzig, Jerman, dan Austria.

Herzl adalah wartawan Yahudi keturunan Austria-Hungaria. Dia dilahirkan pada 2 Mei 1860 di Past, Hungaria. Nama aslinya Benjamin Zeev Herzl.

Sejumlah hasil penelitian menyebutkan imigrasi warga Yahudi ke Israel makin meningkat di saat anti-Semit juga naik. Para pemimpin Zionis mengkampanyekan isu itu untuk mendorong kaum Yahudi keluar dari negara tempat tinggal mereka lantaran merasa sudah tidak aman. Anti-Semit diperlukan untuk menjaga mayoritas Yahudi di Israel.

Inilah yang terjadi saat rezim Adolf Hitler berkuasa di Jerman. Kongres Yahudi Amerika pada Maret 1933 menyerukan unjuk rasa besar-besaran di Madison Square Garden, New York, untuk memboikot semua produk asal Jerman. Alhasil, 40 ribu orang berdemonstrasi anti-Hitler. Seruan serupa juga disampaikan kepada seluruh kaum Yahudi sejagat untuk memboikot produk Jerman dan menolak semua kepentingan ekonomi negara itu.

Hasilnya, Hitler marah besar. Lantaran demonstrasi tidak berhenti, pada 28 Maret 1933 Hitler memerintahkan memboikot semua toko dan perusahaan milik kaum Yahudi di Jerman. Kampanye ini berhasil, warga Yahudi di negara itu merasa tidak nyaman dan ingin keluar.

Karena itulah, masih di tahun sama, pimpinan Zionis di Jerman meneken Perjanjian Perpindahan dengan pemerintahan Hitler. Berdasarkan kesepakatan itu, warga Yahudi dipaksa pindah ke wilayah Palestina, tempat akan menjadi berdirinya negara Israel. Sebelum anti-Semit meningkat di Jerman, amat sedikit kaum Yahudi bersimpati atas gerakan Zionis.

Dengan perjanjian itu pula, Hitler mendirikan 40 kamp pelatihan bagi warga Yahudi sebagai persiapan tinggal di Palestina. Hingga akhir 1942, sedikitnya ada satu kamp Kibbutz telah mengibarkan calon bendera Israel.

Untuk memastikan kaum Yahudi itu tidak lari ke negara lain, kaum Zionis tidak segan bertindak kejam. Atas dasar pengaruh mereka pula, lima kapal berisi pengungsi Yahudi asal Jerman ditolak masuk ke Amerika Serikat. Mereka akhirnya dikirim kembali ke Jerman dan akhirnya dibunuh tentara Nazi di dalam kamp gas beracun.

Prinsip keji ini dianut pula oleh David Ben Gurion, perdana menteri pertama Israel. "Jika saya tahu bisa menyelamatkan semua anak (Yahudi) di Jerman dengan membawa mereka ke Inggris dan hanya setengah dari mereka dapat diungsikan ke Eretz Israel, saya akan mengambil pilihan kedua," ujar Ben Gurion pada 7 Desember 1938. "Ini bukan sekadar persoalan menyelamatkan nyawa anak-anak Yahudi, namun bagaimana memelihara sejarah rakyat Israel."

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Amerika sokong Israel berjaya

Sejak 1985, Amerika memberikan hibah untuk kepentingan militer hampir US$ 3 miliar saban tahun buat Israel.

Konsep Kuil Suci ketiga bakal dibangun buat menggantikan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. (jta.org)

Tiga sandungan gagalkan pembentukan negara Palestina

Palestina hanya bisa menjadi negara dengan syarat mereka atau Israel mengambil langkah kompromi sangat amat menyakitkan: mengalah untuk urusan Yerusalem. Bisa dipastikan kedua pihak bertikai tidak mau melakoni itu.

Duta Besar Amerika buat Israel David Friedman, utusan khusus Amerika bagi Timur Tengah Jason Greenblatt ikut merobohkan tembok saat peresmian terorongan menuju kompleks masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, 30 Juni 2019. (Facebook/Screen capture)

Isu Palestina konflik agama

Bagi Palestina dan Israel, merebut dan mempertahankan Yerusalem adalah kewajiban atas nama agama dan itu tidak dapat dikompromikan.

Satu keluarga miskin di Kota Gaza bepergian menggunakan gerobak keledai, 22 Otober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Belah Palestina berkah Israel

Tidak adanya persatuan ini memang diinginkan oleh Israel dan begitulah taktik penjajah: memecah belah rakyat jajahan mereka.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

bocah gaza

Amerika sokong Israel berjaya

Sejak 1985, Amerika memberikan hibah untuk kepentingan militer hampir US$ 3 miliar saban tahun buat Israel.

25 November 2020

TERSOHOR