IQRA

Al-Qaidah Rebah (1)

Kudeta dalam Al-Qaidah

Sumbangan buat Al-Qaidah biasanya dalam kisaran ratusan ribu dolar Amerika telah mengering. Banyak donatur sudah beralih mendanai ISIS.

29 Juni 2015 00:04

5 Februari lalu para pejabat Yordania membenarkan guru ideologis dari Al-Qaidah Abu Muhammad al-Maqdisi telah keluar dari penjara. Meski dia kurang dikenal pihak Barat, pentingnya posisi Maqdisi dalam pemikiran Islam radikal tidak bisa ditandingi oleh ulama radikal mana saja masih hidup.

Lelaki Palestina berusia 56 tahun ini menjadi tersohor pada 1980-an saat dia menjadi ulama Islam radikal pertama menyatakan keluarga Kerajaan Arab Saudi ingkar atas agama sehingga halal diperangi. Waktu itu tulisan-tulisan Maqdisi begitu radikal. Sampai-sampai pendiri jaringan Al-Qaidah Usamah Bin Ladin berpikir mereka kelewat ekstrem.

Madisi dikenal mendidik langsung Abu Musab al-Zarqawi, pendiri ISI (Negara Islam Irak) merupakan Al-Qaidah cabang Irak dan akhirnya berevolusi menjadi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Dua orang ini sama-sama di penjara di Yordania pada 1990-an atas dakwaan terorisme.

Zarqawi, dibebaskan pada 1999 dan berbaiat kepada Al-Qaidah, kemudian menjadi pentolan Al-Qaidah tersohor mengkampanyekan konflik sektarian. Inilah memicu Maqdisi mengecam habis-habisan secara terbuka murid kesayangannya itu.

Pria disebut para analis terorisme Amerika Serikat sebagai ahli teori jihad masih hidup paling berpengaruh ini sekarang menjadi begitu murka terhadap ISIS. Tidak lama setelah pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi tahun lalu mengumumkan berdirinya khilafah islamiyah dan mengangkat dirinya sebagai khalifah, Maqdisi menyebut ISIS bahlul dan sesat.

Perang kata-kata antara Maqdisi dan ISIS bukan sekadar simbol terbelahnya radikalisme Islam. Juga sebuah pertanda Al-Qaidah, jaringan terorisme pernah begitu ditakuti, telah habis masa keemasannya.

ISIS bukan hanya menaklukkan Al-Qaidah di medan tempur di Suriah dan Irak, mereka menang pula dalam masalah pendanaan dan rekrutmen. ISIS telah berhasil menumbangkan rezim Al-Qaidah dari dalam. Al-Qaidah sebagai sebuah gagasan dan organisasi sekarang di ambang keruntuhan.

*****

Suatu sore di musim semi nan terik, tiga pekan setelah dibebaskan dari penjara, Maqdisi tengah duduk di atas sofa dalam rumah temannnya, Abu Qatada. Dia menggerutu soal ISIS: kelompok itu telah membohongi dan mengkhianati dirinya. Anggotanya tidak pantas menyebut diri mereka sebagai mujahidin.

"Mereka seperti kelompok mafia," kata Abu Qatada. Maqdisi mengangguk tanda setuju.

Maqdisi dan Abu Qatada awalnya berusaha mengembalikan ISIS di bawah kendali Al-Qaidah. Maqdisi berperan seperti seorang ayah membimbing anaknya baik-baik, sedangkan Abu Qatada menjadi polisi jahat mencemooh dan mencaci maki ISIS.

Selama lebih dari setahun keduanya mengaku bekerja di belakang layar, berunding dengan ISIS, termasuk Baghdadi, agar mau kembali dalam barisan Al-Qaidah. "ISIS tidak menghormati siapapun. Mereka menghancurkan gerakan jihad dan melawan seluruh umat," ujar Abu Qatada.

Kepala propaganda ISIS Abu Muhammad al-Adnani cukup mencemaskan kian tajamnya kritik dari dua ideolog Al-Qaidah itu. Dia pun memerintahkan semua akun media sosial ISIS menangkis kecaman Maqdisi dan Abu Qatada. ISIS lantas mengkampanyekan dua ulama Islam radikal ini sebagai antek Barat dan bagian dari persekongkolan melawan khilafah islamiyah.

Dalam edisi keenam Dabiq, majalah berbahasa Inggris terbitan ISIS, gambar satu halaman Maqdisi dan Abu Qatada diberi label ulama lebih sesat ketimbang iblis dan mesti dihindari. "Qatada dan saya sangat kritis terhadap mereka," ucap Maqdisi. "Karena itulah mereka benci."

Sehabis menuangkan teh ke dalam gelas-gelas kecil, Abu Qatada melanjutkan omongannya mengenai ISIS. Dia bilang ISIS itu mirip bau busuk telah mencemari lingkungan islam radikal. "Mereka lebih baik disebut sebagai kanker tumuh dalam gerakan jihad atau parasit di sebuah pohon harus dipangkas sebelum membunuh seluruh organisme."

Dia masih memiliki perumpamaan lain tentang ISIS. "Anda pergi ke sebuah restoran dan mereka bakal menyajikan makanan kelihatannya lezat dan menggoda," tuturnya. "Tapi ketika Anda masuk ke dapur, Anda akan menyaksikan dapur itu kotor dan penuh sampah sehingga Anda menjadi jijik."

Keduanya menyatakan ISIS telah memanfaatkan ajaran mereka sebagai legitimasi ideologis untuk merekrut jihadis dan menjadi dasar buat bertempur menghadapi Al-Qaidah dan afiliasinya. "ISIS mengambil semua karya agama kami," kata Maqdisi. "ISIS adalah buku dan hasil pemikiran kami."

Maqdisi dan Abu Qatada sepakat hal ini tidak bakal terjadi kalau Usamah Bin Ladin masih hidup. "Tidak seorang pun berani menentang dia," ujar Maqdisi. "Bin Ladin adalah seorang bintang. Dia memiliki karisma istimewa."

Namun penggantinya, Aiman az-Zawahiri, lemah. Dia sejak awal tidak memiliki kontrol atas seluruh cabang Al-Qaidah. "Zawahiri tidak mempunyai kontrol militer atau operasional. Dia telah terbiasa terisolasi," tuturnya.

Menurut Maqdisi, struktur organisasi Al-Qaidah sudah hancur. "Hanya mengandalkan saluran komunikasi dan kesetiaan."

ISIS pun kian menggerogoti loyalitas pejuang Al-Qaidah untuk berbalik arah menyokong mereka.

Dr Munif Samara, veteran jihad di Afghanistan serta teman dekat Maqdisi dan Abu Qatada, mengungkapkan sumbangan buat Al-Qaidah biasanya dalam kisaran ratusan ribu dolar Amerika telah mengering. Banyak donatur sudah beralih mendanai ISIS.

Aiman Dean, mantan anggota Al-Qaidah sekarang menjadi mata-mata Inggris, bilang salah satu sumbernya di Waziristan, Pakistan, menjelaskan tahun lalu saja para komandan Al-Qaidah di sana menjual komputer jinjing dan mobil mereka untuk membeli makanan dan membayar sewa tempat.

"Saat ini kami meyakini ada kudeta dalam Al-Qaidah," kata Samara.

Saif al-Adl, pemimpin baru Al-Qaidah. (FBI)

Berjihad ke Afrika

Al-Qaidah dipimpin Saif berhasil menjatuhkan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dalam pertempuran Mogadishu pada 1993.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Berjihad ke Afrika

Al-Qaidah dipimpin Saif berhasil menjatuhkan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dalam pertempuran Mogadishu pada 1993.

19 Juli 2021

TERSOHOR