IQRA

Transformasi Kaum Hawa Saudi (1)

Revolusi Lingerie

Perubahan itu mulai terasa sejak Arab Saudi mengizinkan perempuan bekerja di toko pakaian dalam.

20 Juli 2015 11:39

Berabaya corak hitam putih dan rambutnya diwarnai merah tersembunyi di balik kerudung. Dia baru saja bercerai.

Hanin al-Amri, 27 tahun, adalah pelayan toko sepatu di Mal Laut Merah, salah satu pusat belanja terbesar di Kota Jeddah, Arab Saudi. "Saban hari saya bilang terima kasih, terima kasih, terima kasih saya kini bebas," katanya.

Dia dijodohkan. Dia baru bertemu calon suaminya setelah bertunangan. Dia berjanji kepada Hanin bakal toleran dan bersikap terbuka. Namun setelah menikah, suaminya memaksa Hanin bercadar. Dia dilarang bekerja dan dia tidak bahagia. "Dia tidak ingin saya senang," ujar Hanin.

Hanin hanya tinggal di rumah, tidak berpenghasilan, dan tidak mengerjakan apapun. Dia sudah memiliki satu anak perempuan tapi dia merasa tertekan. Suaminya mengontrol semua gerak geriknya. Setelah dua tahun menikah keduanya bercerai.

Setelah itu dia mulai mencari pekerjaan. Pertama kali menjual kosmetik. Dia kemudian bekerja di sebuah toko sepatu.

Empat tahun lalu hanya ada sedikit perempuan menjadi pelayan toko. Kebanyakan yang bekerja di toko-toko adalah lelaki dari Filipina, Bangladesh, dan Malaysia. Orang asing - berjumlah sepertiga dari penduduk Arab Saudi - sebagian besar bekerja sebagai sopir, pelayan restoran, penjaga rumah, atau pelayan di toko pakaian dan kosmetik, bahkan toko pakaian dalam.

Di negara ketat memisahkan kaum hawa dan adam ini, perempuan membeli pakaian dalam dilayani lelaki serba salah.

Hanin pun mengalami hal serupa. Dia pernah memberitahu ukuran branya kepada seorang pelayan lelaki di toko pakaian dalam. "Dia bilang saya salah ukuran. Saya benar-benar malu," tuturnya.

Apalagi toko-toko pakaian di Arab Saudi tidak dilengkapi ruang ganti. Alhasil, Hanin melakoni hal seperti dilakukan semua perempuan di negara Kabah itu. Dia ambil sebuah beha secara acak, bayar ke kasir lalu pergi. Dan biasanya bra dibeli kelonggaran atau kesempitan.

Perubahan mulai terasa tiga tahun lalu. Pada 2012 Arab Saudi menerapkan undang-undang membolehkan perempuan bekerja di toko pakaian dalam. Perlahan kaum hawa mendapat hak menjual abaya, kosmetik, tas tangan, sepatu, mainan anak, dan pakaian. Lambat tapi pasti pria tersingkir dari profesi pelayan toko.

Perubahan dramatis terlihat sejak Raja Abdullah bin Abdul Aziz naik takhta satu dasawarsa lalu. Untuk pertama kalinya pula dia menunjuk beberapa perempuan menjadi anggota Majelis Syura atau dewan penasihat raja. Transformasi ini terjadi karena makin banyak perempuan bekerja, bukan sekadar menjadi pegawai negeri, guru, dan dokter. Mereka kian berpendidikan dan berpenghasilan.

Di atas semua itu, kian banyak kaum hawa di Arab Saudi berseliweran di luar rumah. Mereka bebas bepergian di dalam negeri, setidaknya untuk menginap di hotel dan membikin perusahaan. Bahkan sekarang ada tempat-tempat penampungan perempuan dan di sana membahas masalah kekerasan terhadap kaum hawa bukan lagi tabu.

Hanin tadinya juga takut berbicara kepada orang asing. "Namun kemudian saya mulai terbuka dan bertemu banyak orang. Saya mulai menikmati hidup," katanya.

Ketika masih berumah tangga, suaminya selalu memata-matai dan melarang Hanin omong dengan lelaki asing di toko tempat dia bekerja. Keduanya kerap cekcok di rumah. Namun setelah merasa berpenghasilan cukup, Hanin mengajukan cerai dan dia sekarang bebas.

Hanin kini sudah manajer toko. Tapi dia masih ingin mencari pekerjaan lebih baik. Sebab itu dia kuliah malam untuk meraih gelar sarjana bidang sosiologi.

Dia baru saja pulang berlibur dari Dubai, Uni Emirat Arab. Dia bilangĀ  tidak pernah merasa sebahagia itu.

Boleh jadi banyak perempuan Arab Saudi merasakan hal serupa. Semua berkat Revolusi Lingerie.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Amerika sokong Israel berjaya

Sejak 1985, Amerika memberikan hibah untuk kepentingan militer hampir US$ 3 miliar saban tahun buat Israel.

Konsep Kuil Suci ketiga bakal dibangun buat menggantikan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. (jta.org)

Tiga sandungan gagalkan pembentukan negara Palestina

Palestina hanya bisa menjadi negara dengan syarat mereka atau Israel mengambil langkah kompromi sangat amat menyakitkan: mengalah untuk urusan Yerusalem. Bisa dipastikan kedua pihak bertikai tidak mau melakoni itu.

Duta Besar Amerika buat Israel David Friedman, utusan khusus Amerika bagi Timur Tengah Jason Greenblatt ikut merobohkan tembok saat peresmian terorongan menuju kompleks masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, 30 Juni 2019. (Facebook/Screen capture)

Isu Palestina konflik agama

Bagi Palestina dan Israel, merebut dan mempertahankan Yerusalem adalah kewajiban atas nama agama dan itu tidak dapat dikompromikan.

Satu keluarga miskin di Kota Gaza bepergian menggunakan gerobak keledai, 22 Otober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Belah Palestina berkah Israel

Tidak adanya persatuan ini memang diinginkan oleh Israel dan begitulah taktik penjajah: memecah belah rakyat jajahan mereka.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

bocah gaza

Amerika sokong Israel berjaya

Sejak 1985, Amerika memberikan hibah untuk kepentingan militer hampir US$ 3 miliar saban tahun buat Israel.

25 November 2020

TERSOHOR