IQRA

Investor Arab di Liga Eropa (2)

Saling salip Qatar dan UEA

Qatar lebih peduli pada olahraga sebagai kebanggaan dan identitas nasional ketimbang keuntungan ekonomi.

10 Agustus 2015 11:29

Entah apa yang ada dalam pikiran orang-orang Arab supertajir ini. Bukannya memajukan sepak bola di negara sendiri, mereka lebih memilih menghamburkan fulus membeli atau menjadi sponsor klub Eropa.

Dimulai oleh Emirates Airline pada 2004 meneken kontrak bernilai US$ 180 juta sebagai sponsor buat Arsenal, termasuk mengubah nama markas klub Liga Primer Inggris itu menjadi Stadion Emirates. Tiga tahun lalu kerja sama ini diperpanjang hingga musim 2018-2019 dengan nilai kontrak US$ 240 juta.

Langkah maskapai asal Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), itu berlanjut. Mereka lantas menjadi sponsor utama seragam AC Milan (Italia), Real Madrid (Spanyol), Paris Saint Germain (Prancis), Hamburg SV (Jerman), dan Olympiacos FC (Yunani).

Kehebohan langsung meledak saat pemilik konglomerasi Abu Dhabi United Group (ADUG) Syekh Mansyur bin Zayid an-Nahyan dari Abu Dhabi, UEA, mengambil alih Manchester City, juga bermain di Liga Primer Inggris, dari mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, membeli City setahun sebelumnya.

Keputusan ini langsung disusul dengan menggaet Etihad Airways, maskapai asal Abu Dhabi, sebagai sponsor utama kostum City dan berhak mengganti nama markas tim menjadi Stadion Etihad. Nilai kontrak selama satu dasawarsa ini berjumlah 400 juta pound sterling.

Royal Emirates Group, perusahaan UEA kepunyaan Syekh Butti bin Suhail al-Maktum dari Dubai, menyusul. Dia merogoh kocek sekitar US$ 100 juta untukĀ  mengakuisisi Getafe CF, klub La Liga Spanyol.

Hasan Abdullah Ismaik, pengusaha Yordania menetap di Ibu Kota Abu Dhabi, merupakan pengecualian. Pembeliannya atas TSV 1860 Munich, klub divisi dua Jerman tengah terbelit masalah keuangan, tidak termasuk dalam strategi olahraga UEA.

Tidak seperti pesaingnya Qatar, UEA walau membeli klub Eropa, mereka lebih memusatkan perhatian pada aspek perdagangan dari olahraga, dengan menjadi sponsor, menggelar sekaligus membiayai turnamen-turnamen internasional.

"Qatar lebih peduli pada olahraga sebagai kebanggaan dan identitas nasional ketimbang keuntungan ekonomi," kata James M. Dorsey, peneliti senior di the S. Rajaratnam School of International Studies di Nanyang Technological University, Singapura. Mereka menjadi sponsor kostum Barcelona, klub La Liga Spanyol, dengan nilai kontrak US$ 225 juta.

Buat menyaingi pembelian Manchester City, Syekh Abdullah bin Nasir ats-Tsani, pemilik Qatar Sports Investments, memborong 70 persen saham Paris Saint Germain dan membeli Malaga FC.

Stasiun televisi Al-Jazeera tidak mau ketinggalan. Mereka mengucurkan 300 juta euro buat membeli hak siar liga Prancis, Liga Champions, Liga Europa, dan sejumlah laga bergengsi di liga Jerman serta Italia.

Namun fulus tidak bisa membeli segalanya. Qatar pernah gagal memiliki Manchester United, peraih juara Liga Primer Inggris terbanyak. Tawaran mereka beberapa ratus juta dolar di bawah dari angka diminta.

Dubai International Capital beberapa tahun lalu juga tidak mampu membeli Liverpool FC. Nasib serupa dialami Qatar ketika berupaya mengakuisisi AS Roma.

Meski begitu, dua negara Arab Teluk superkaya ini bakal terus bersaing di kancah sepak bola Eropa.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

Pesawat Emirates Airline. (Arabian Business)

Tolak layani rute Dubai-Tel Aviv, pilot Emirates Airline ditangguhkan

Emirates membuka rute Dubai-Tel Aviv bulan depan.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021

TERSOHOR