IQRA

Kebangkitan dan Keruntuhan Turki (1)

Ambisi gila Erdogan

Recep Tayyip Erdogan - muslim taat, tersohor, berpikiran modernis, dan bapak keajaiban ekonomi Turki - sedang membawa Turki ke dalam bahaya karena ingin menjadi seperti sultan.

11 Oktober 2015 21:33

Ini adalah negaranya Recep Tayyip Erdogan: sebuah pemandangan pegunungan indah di Laut Hitam. Di perbukitan subur nan hijau, orang-orang tengah memetik pucuk teh dan hanya berhenti bila waktu salat tiba.

Erdogan menyebut para pemetik teh itu rakyatnya dan untuk mereka dia telah membangun sebuah masjid bergaya Kesultanan Usmaniyah di salah satu puncak tertinggi. Perlu 45 menit bermobil buat sampai ke masjid itu, namun banyak penduduk setempat lebih senang berjalan kaki mendaki untuk lebih mendekat kepada Tuhan dan Erdogan, presiden tercinta mereka.

"Saya berharap bisa mencium tangannya," tangis Aysel Aksay, 40 tahun. Meski napasnya hampir habis, dia masih bisa tersenyum. Aksay asal Guneysu, desa di kaki gunung di mana penduduknya memuja keluarga Erdogan.

Berjubah coklat dan berkerudung, Aksay menatap bangunan masjid terbuat dari pualam putih itu, berkilau diterpa sinar surya. Dia begitu bergembira dapat salat di sana walau cuma bisa dilakukan dalam ruangan khusus kaum hawa tanpa dilengkapi jendela. "Di hari peresmian, saya menyaksikan helikopter presiden terbang di atas desa kami," ujar Aksay. "Kami benar-benar bangga terhadap dia."

Banyak orang seperasaan dengan Aksay. Mereka memuja Erdogan, lelaki saleh dan sederhana telah menjadikan Turki maju dan sejahtera.

Jika sebagian wilayah lain di Turki seperti Guneysu, Erdogan - telah memerintah negara hampir sendirian selama 13 tahun - tidak akan kesulitan menang besar dalam pemilihan umum 7 Juni lalu. Tapi rakyat negara itu bukan sekadar etnik Turki dan AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) dia pimpin, hanya memperoleh 40,9 persen suara, sudah kehilangan mayoritas mutlak.

Kekalahan itu menghancurkan mimpi Erdogan untuk menjadikan dirinya sebagai orang paling berkuasa di negara presidensial itu hingga 2019. Lukanya kian parah setelah HDP (Partai Demokrasi Rakyat) pro-Kurdi berhasil menguasai sepuluh persen kursi di parlemen.

Erdogan masih berupaya menggapai mimpinya. Dia membiarkan perundingan membentuk pemerintahan koalisi gagal dan menetapkan pemilihan umum 1 November mendatang. Bagi Erdogan, satu-satunya hasil bisa diterima adalah mayoritas absolut bagi AKP. Erdogan akan mengorbankan segalanya untuk mewujudkan itu.

Recep Tayyip Erdogan - muslim taat, tersohor, berpikiran modernis, dan bapak keajaiban ekonomi Turki - sedang membawa Turki ke dalam bahaya karena ingin menjadi seperti sultan. Negaranya kini terancam perang saudara dan sedang menyalakan api konflik eksternal.

Dia ingin menggulingkan Presiden Suriah Basyar al-Assad tapi membiarkan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) buat waktu terlalu lama. Dia kini memerangi Kurdi, satu-satunya rekanan Barat untuk menumpas kaum ekstremis Islam. Erdogan sedang membuka palagan lama dan mengacaukan ketidakpercayaan serta nasionalisme. Dia memenjarakan wartawan dan para pengkritik. Serdadunya mengepung dan menembaki semua kota berpenduduk mayoritas Kurdi.

Erdogan terbiasa dengan tujuan-tujuan ambisius. Dia ingin menyelesaikan konflik Kurdi dan memajukan perekonomian. Dia mau memodernisasi negaranya dan bergabung dengan Eropa. Dia tidak sepenuhnya berhasil.

Turki, anggota NATO (Parkta Pertahanan Atlantik Utara), dianggap sebagai satu-satunya harapan demokrasi di dunia Islam. Negara ini telah menjadi jembatan antara Timur dan Barat serta sudah berada di jalur tepat buat menjadi anggota Uni Eropa.

Tapi Turki saat ini sudah bertolak belakang. Ia adalah sebuah negara terancam tergelincir dalam kegilaan kolektif, dipicu oleh fanatisme, nasionalisme terlalu berlebihan, dan teori-terori konspirasi ganjil.

Negara ini sudah terbelah. Di satu sisi ada Turkinya Erdogan. Ini termasuk kampung halamannya di Laut Hitam, kota-kota dengan keajaiban ekonomi di Provinsi Anatolia, seperti Kayseri dan tentu saja pusat pemerintahan Ankara. Di bagian lain terdapat wilayah para musuh. Membentang dari Diyarbakir berpenduduk mayoritas Kurdi, di mana orang-orangnya hidup dalam ketakutan, hingga Pegunungan Qandil, menjadi basis para pejuang Kurdi, dan akhirnya Istanbul, pusat demokrasi Turki.

Kedutaan Besar Turki di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. (Twitter)

Israel dan topeng Erdogan

Turki dan Israel juga sudah menandatangani perjanjian perdagangan bebas bilateral pada 14 Maret 1996 di Yerusalem dan berlaku mulai 1 Mei 1997.

Istana kepresidenan Turki di Ibu Kota Ankara. (Wikimedia Commons)

Tagihan listrik di istana Erdogan sebesar Rp 102,7 juta sehari

"Rakyat sudah muak melihat keangkuhanmu," kata pemimpin oposisi Kemal Kilicdaroglu.

Batalion Badri 313, pasukan elite Taliban dilatih di kamp Salahuddin, Afghanistan. (Manba al-Jihad)

Mengembalikan markas Al-Qaidah dari Sudan ke Afghanistan

Taliban dua kali menyelamatkan nyawa Bin Ladin.

Suasana di Turki setelah militer mengambil alih negara itu lewat kudeta. (Juli 2016)

Balas dendam Erdogan

Lebih dari itu, dia ingin melaksanakan balas dendamnya untuk kian memperkuat kekuasaannya. Sehabis kudeta gagal itu, dia kini telah menjelma sebagai diktator.





comments powered by Disqus