IQRA

Kebangkitan dan Keruntuhan Turki (2)

Tergelincir ke arah perang saudara

Meningkatnya kekerasan menguntungkan posisi Erdogan sebab dia bisa menempatkan dirinya sebagai penjamin stabilitas menjelang pemilihan umum.

12 Oktober 2015 03:15

Gultan Kisanak menutup kedua matanya karena kaca-kaca jendela di kantornya mulai bergoyang. Saban beberapa menit, jet-jet tempur terbang di atas kantor Balai Kota Diyarbakir menuju Pegunungan Qandil. Di sana, di wilayah otonomi Kurdistan, Angkatan Udara Turki membombardir posisi PKK (Partai Buruh Kurdistan) sejak 24 Juli lalu. PKK merupakan partai terlarang di negara itu.

Kisanak, 54 tahun, adalah perempuan tegap dengan rambut beruban sebahu. Sejak tahun lalu telah menjadi wali kota Diyarbakir - wanita pertama menduduki posisi itu. Partai pro-Kurdi HDP menginstruksikan seluruh kantor penting harus dipimpin bareng oleh satu lelaki dan seorang perempuan.

Semasa kampanye pemilihan umum, HDP bukan saja menyatakan sebagai partainya orang Kurdi, tapi juga menyokong kesetaraan gender dan hak-hak kaum gay. Di atas semua itu, para kandidat anggota parlemen dari HDP berjanji bila terpilih bakal menolak rencana Erdogan membangun sistem presidensial.

Hasilnya HDP meraup 13 persen suara dalam pemilihan umum 7 Juni lalu. Penduduk di Diyarbakir, kota terbesar di tenggara Turki, girang betul. Mereka menari di jalan-jalan hingga membunyikan klakson mobil dan menyalakan kembang api.

Kegembiraan itu baru berlangsung tiga bulan lalu. Sekarang terasa suram. Saat malam turun, suasana senyap. Toko-toko tutup cepat dan orang-orang lebih memilih berdiam diri dalam rumah demi alasan keamanan.

Hampir tiap hari terjadi bentrokan antara pasukan keamanan Turki dan para pendukung PKK. Di Cizre, dekat perbatasan antara Suriah dan Irak, jam malam sudah diberlakukan awal September. Kota berpenduduk 113 ribu orang ini terperangkap dan paling tidak 30 orang telah ditembak dan dibunuh, menurut warga setempat. Situasinya kembali seperti saat pecah perang saudara, dimulai pada 1984 dan menewaskan 40 ribu orang.

Walau tidak fasih berbahasa Kurdi, Kisanak juga berjuang untuk nasib bangsa Kurdi tapi tidak pernah dengan cara kekerasan. Pada 1983, setelah terjadi kudeta militer, Turki mengharamkan bahasa Kurdi. Tidak lama setelah itu, PKK mulai melakukan agitasi agar orang-orang Kurdi berjuang mendirikan negara sendiri dan melawan Ankara.

Kisanak, masih merasa tidak nyaman ketika berbicara dalam bahasa Kurdi, adalah produk dari kebijakan penindasan untuk melenyapkan segala hal mengenai Kurdi: bahasa, tradisi, dan identitas.

*****

Kenyataannya, banyak hal lebih mudah bagi generasi muda adalah sebuah pencapaian Erdogan. Dia merupakan kepala pemerintahan Turki pertama berbicara mengenai persoalan Kurdi pada Agustus 2005.

Dia meminta maaf atas kesalahan-kesalahan telah dilakoni negara terhadap minoritas terbesar di Turki itu dan menggembar-gemborkan permulaan baru. Proses perdamaian dengan pemberontak Kurdi adalah insiatif berani Erdogan. Dia menginvestasikan miliaran euro untuk membangun infrastruktur di wilayah tenggara menjadi basis etnik Kurdi, mencabut larangan atas bahasa Kurdi, dan mengizinkan membangun stasiun televisi dan radio berbahasa Kurdi.

Tiga tahun lalu, perundingan dimulai dengan memenjarakan pendiri PKK Abdullah Ocalan, pada Februari 2015 mendesak para pengikutnya mengakhiri perlawanan. Waktu itu Ocalan berbicara soal keputusan bersejarah. Namun setengah tahun kemudian, kata-katanya itu tidak bermakna lagi. Erdogan menghentikan proses perdamaian.

Kisanak menilai AKP kini mengarahkan Turki ke perang saudara karena HDP sudah masuk ke dalam parlemen. Erdogan memerlukan tambahan suara untuk mengamankan mayoritas absolutnya dan menyingkirkan HDP dari parlemen.

Banyak orang Kurdi sependapat dengan Kisanak. Rakyat sekarang meyakini meningkatnya kekerasan menguntungkan posisi Erdogan sebab dia bisa menempatkan dirinya sebagai penjamin stabilitas menjelang pemilihan umum. Atau bahkan dia bisa menunda pesta demokrasi itu dengan alasan keamanan nasional.

Pemerintah menuding para pemberontak Kurdi memulai kekerasan. "PKK telah memanipulasi proses perdamaian dan secara diam-diam melengkapi persenjataan dan menanam ranjau," kata Muhsin Kizilkaya, anggota parlemen berdarah Kurdi dari AKP.

Penyebabnya barangkali bisa diperdebatkan, tapi yang pasti kekerasan mulai meledak lagi pada 20 Juli, sehari setelah seorang pengebom bunuh diri, diduga terkait milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), membunuh lebih dari 30 orang di Suruc, kota dekat perbatasan Suriah.

Paling anyar, dua serangan bunuh diri Sabtu lalu menghantam para pengunjuk rasa pro-Kurdi, menewaskan lebih dari seratus orang.

Dua hari setelah insiden di Suruc, pemberontak PKK menembak mati dua polisi di apartemen mereka di Ceylanpinar, sekitar 200 kilometer dari lokasi bom bunuh diri. PKK menyebarluaskan pesan eksekusi itu sebagai balasan atas serangan di Suruc. PKK mengklaim dua polisi itu adalah penyokong ISIS. Kemudian pada 24 Juli, pemerintah mulai mengebom basis PKK.

Sejak kampanye militer dimulai, pemerintah bilang berhasil menewaskan dua ribu pejuang Kurdi. Angka ini belum termasuk warga sipil dan tentara Turki dibunuh oleh PKK.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

Kedutaan Besar Turki di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. (Twitter)

Erdogan: Kami ingin hubungan lebih baik dengan Israel

Turki adalah negara muslim pertama mengakui Israel dan menjalin hubungan resmi sejak 1949.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021

TERSOHOR