IQRA

Kebangkitan dan Keruntuhan Turki (3)

Mantera syahid Erdogan

Turki tengah mengobarkan perang terhadap media luar negeri.

12 Oktober 2015 21:40

Beberapa hari setelah Erdogan meresmikan masjid di puncak gunung di atas Desa Guneysu, dia menghadiri pemakaman jenazah polisi bernama Ahmet Camur, juga dijejali ribuan orang di Kota Caykara. Penguburan orang-orang terbunuh menjadi pemandangan hampir saban hari di tenggara Turki.

Erdogan muncul di hadapan para pelayat dengan sayap bendera Turki. Sambil memegang sebuah mikrofon, tangan Erdogan satunya lagi bersandar di peti mayat Camur. "Kita mengucapkan selamat jalan kepada syuhada kita yang kita yakini telah mati syahid," katanya. "Keluarganya pasti berbahagia, sanak kerabatnya tentu gembira!" Kepada ribuan pelayat Erdogan mengingatkan para syuhada duduk di sebelah Nabi Muhammad di surga.

Mehmet Camur, kembaran almarhum, benar-benar terpukul. Dia menerima kunjungan pelayat berhari-hari tapi dia menolak berbicara, terutama kepada wartawan asing. Dia hanya menyampaikan satu kalimat pahit, "Saudara kembar saya telah mengabdikan hidupnya buat tenggara Turki."

Tidak semua kerabat tentara atau polisi Turki tewas terhibur oleh mantera mereka telah mati syahid. Dalam prosesi pemakaman seorang tentara Agustus lalu, seorang anggota keluarganya memprotes, "Erdogan telah mengirim pemuda ini ke dalam kubur."

*****

Di Caykara, foto seorang syuhada tergantung di pintu-pintu toko, tapi siapa saja ingin mencari tahu siapa dia bakal dipandangi dengan tatapan curiga. Pemilik sebuah kedai teh, seorang lelaki tua bertopi tinggi khas Turki, adalah satu dari sedikit orang bisa diajak omong.

Dia bilang Ahmet Camur adalah pria baik. Seperti kebanyakan orang di Caykara, dia menyokong AKP. "Kami ini orang taat beragama, karena itulah kami mencintai Erdogan," katanya. "Tapi pemakaman-pemakaman ini tidak akan membuat dia menang dalam pemilihan umum."

Tiba-tiba saja lelaki tua itu bungkam dan kedua matanya melebar. Dua polisi muncul di warungnya, satu berseragam dan seorang lagi berpakaian sipil. Mereka ingin tahu apa saja yang ditanyakan. Kemudian mereka meminta kartu identitas. Satu dari dua polisi itu lantas pergi membawa semua paspor. Ketika kembali, dia membuat sebuah catatan dan menyerahkan seluruh paspor. "Kalian boleh pergi sekarang," ujarnya dengan nada mengancam.

Bagi pemerintah, pertempuran untuk tetap menguasai pesan-pesan politik sama penting dengan perang menghadapi kaum pemberontak di tenggara negara itu. Itulah kenapa koresponden asing dan wartawan media independen Turki dilarang meliput pemakaman para syuhada. Hanya pers propemerintah dibolehkan.

Kebebasan berbicara dan berekspresi tengah menurun di Turki. Bertahun-tahun kantor media diserbu dan para jurnalis ditangkapi. Tapi tidak seburuk sekarang. Akhir Agustus lalu, dua reporter Inggris dibekuk dan dituduh terlibat kegiatan teroris. Mereka awalnya ditahan dalam penjara superketat lalu dideportasi. Tidak lama setelah itu, satu wartawan Belanda bernasib sama.

Turki tengah mengobarkan perang terhadap media luar negeri. "Seperti Reuters, BBC, CNN, dan Spiegel," tutur Menteri Kebudayaan Turki Yalcin Topcu.

Ini menunjukkan betapa gugupnya pemerintah bakal gagal lagi menjadi mayoritas absolut di parlemen setelah pemilihan umum baru nanti. Selama bertahun-tahun monopoli AKP di kekuasaan terjamin. Sekarang tidak ada bukti strategi Erdogan bakal berhasil. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan tidak ada satu partai pun akan menang signifikan sehabis pemilihan umum 7 Juni lalu.

Pesawat jet eksekutif Gulfstream 5 dimodifikasi menjadi pesawat intelijen. (Moneyinc.com)

Kongkalikong AIS dan AGT

Nama Israel cuma sekali disebut dalam dokumen berasal dari Swiss, menggambarkan mengenai struktur perusahaan AGT.

Rute perjalanan sebuah jet pribadi membawa para pejabat Uni Emirat Arab dan Israel pada 17 Januari 2019 terbang langsung dari Abu Dhabi ke Tel Aviv. (Flight Radar 24)

Sentuhan Kochavi dan transaksi UEA-Israel

Isu Palestina bukan lagi ganjalan bagi negara-negara Arab Teluk buat menjalin hubungan dengan Israel. Israel, Arab Saudi, dan UEA rutin berbagi informasi intelijen mengenai ancaman dari Iran.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sedang mengajari cucunya, Ahmet Akif Albayrak, di Marmaris, pada 15 Juli 2016. (Hurriyet Daily News)

Lempar foto Erdogan pakai pot bunga, ibu dan anaknya dipenjara 11 bulan

Gurcen marah karena konvoi kampanye AKP membunyikan musik dengan suara keras. Waktu itu ibunya sedang sakit.

Suasana di Turki setelah militer mengambil alih negara itu lewat kudeta. (Juli 2016)

Balas dendam Erdogan

Lebih dari itu, dia ingin melaksanakan balas dendamnya untuk kian memperkuat kekuasaannya. Sehabis kudeta gagal itu, dia kini telah menjelma sebagai diktator.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Kongkalikong AIS dan AGT

Nama Israel cuma sekali disebut dalam dokumen berasal dari Swiss, menggambarkan mengenai struktur perusahaan AGT.

02 September 2019
Unjuk gigi Khashoggi
06 November 2018

TERSOHOR