IQRA

Arab Supertajir dan Panama Papers (2)

Harta rahasia penguasa negara Kabah

Lewat dua perusahaan di British Virgin Islands, Raja Salman membeli dua rumah mewah di London seharga US$ 34 juta.

08 April 2016 10:29

Sebagian besar media internasional memusatkan perhatian pada konglomerat Rusia merupakan sahabat Presiden Vladimir Putin dalam skandal Mossack Fonseca menggegerkan dunia. Padahal Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz juga disebut dalam bocoran dokumen diperoleh surat kabar terbitan Jerman Süddeutsche Zeitung dan dibagikan kepada lebih dari seratus media oleh ICIJ (Konsorsium Internasional Wartawan Investigasi).

Menurut ICIJ, bocoran itu diperkirakan seratus kali lebih besar ketimbang Wikileaks.

Raja Salman - naik takhta Januari tahun lalu menggantikan mendiang abangnya, Raja Abdullah bin Abdul Aziz - memiliki peran tidak disebutkan dalam Safason Corporation SPF S.A. Perusahaan berlokasi di Luksemburg ini memiliki saham atas dua perusahaan di British Virgin Islands: Verse Development Corporation dibentuk pada 1999 dan Inrow Corporation dibikin pada 2002.

Inrow pada 2009 membeli sebuah rumah mewah digadai seharga US$ 26 juta. Verse melakoni hal serupa atas satu rumah digadai senilai US$ 8 juta. Kedua properti ini terletak di jantung Ibu Kota London, Inggris. Meski peran Raja Salman tidak disebutkan, namun dokumen pembelian menyebutkan terkait dirinya dan merupakan asetnya.

Tidaklah mengherankan kalau Raja Salman membeli kedua rumah supermewah itu. London merupakan salah satu lokasi favorit bagi kaum Arab supertajir untuk berinvestasi di sektor properti.

Apalagi hubungan Saudi-Inggris juga akrab. Ketika Raja Abdullah wafat, bendera setengah tiang dikibarkan pula di gedung parlemen, Istana Buckingham, dan kantor perdana menteri di Downing Street.  

Raja Salman juga pemilik Erga, sesuai nama istananya di Riyadh. Kapal pesiar supermewah seluas lapangan sepak bola ini terdaftar di London atas nama Crassus Limited, perusahaan dibentuk pada 2004 di British Virgin Islands.

Dia juga membikin satu lagi perusahaan cangkang di British Virgin Island bernama Park Property Limited pada 2005.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Nayif juga sepemikiran dengan pamannya itu. Pada 1 Oktober 2007, kantor cabang UBS di Paris membeli dua perusahaan Panama dari Mossack Fonseca, yakni Alyneth Limited dan Havelock Capital Corporation.

Dua hari kemudian, bank asal Swiss itu membuka rekening atas nama Havelock Capital Corporation dengan alasan benar-benar mendesak. Di hari sama, Pangeran Muhammad memberikan kuasa kepada pengacaranya atas dua perusahaan san rekening itu.

Pada Maret 2014, Pangeran Muhammad menutup rekening atas nama Havelock dan perusahaan itu sudah tidak aktif lagi sejak April 2014.

Hingga artikel ini dilansir Raja Salman belum memberikan komentar soal muncul namanya dalam bocoran dokumen disebut the Panama Papers itu, seperti dilansir al-bab.com.

Batalion Badri 313, pasukan elite Taliban dilatih di kamp Salahuddin, Afghanistan. (Manba al-Jihad)

Mengembalikan markas Al-Qaidah dari Sudan ke Afghanistan

Taliban dua kali menyelamatkan nyawa Bin Ladin.

Saif al-Adl, pemimpin baru Al-Qaidah. (FBI)

Berjihad ke Afrika

Al-Qaidah dipimpin Saif berhasil menjatuhkan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dalam pertempuran Mogadishu pada 1993.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.





comments powered by Disqus