IQRA

Perang Dingin Saudi-Iran (2)

Paranoia Saudi terhadap Syiah

Dalam perspektif Riyadh, Iran ingin menjadi kekuatan dominan di Timur Tengah. Amerika akan menarik diri. Sehingga bergantung pada Arab Saudi buat mengembalikan keseimbangan kekuatan di kawasan.

27 Mei 2016 01:17

Beginilah situasi di Awamia, kota berdebu di pesisir Teluk Persia, Arab Saudi. Di sana seperti sedang terjadi perang saudara. Sebuah pos pemeriksaan dikelilingi tembok tinggi berdiri di pintu masuk kota. Sebuah kendaraan militer diparkir di depannya.

Tembok beton juga mengelilingi kantor polisi, kantor pembangkit listrik, dan kantor balai kota, berlokasi di alun-alun Awami. Tembok beton ini dipenuhi coretan:

"Mereka membunuh kami karena kami Syiah!" "Pergi ke neraka kalian curang!" "Kami tidak akan pernah menyerah!" "Kami tidak akan pernah melupakanmu, Nimr!" "Nimr kami tidak mati!"

Pada malam 1 Januari 2016, Arab Saudi melaksanakan hukuman mati terhadap ulama Syiah Syekh Muhammad Nimr an-Nimr, warga Awamia, bareng 46 tahanan lainnya, kebanyakan didakwa kasus terorisme. Ini eksekusi terbesar dilaksanakan dalam satu hari di Saudi selama lebih dari tiga dasawarsa terakhir.

Arab Saudi memiliki komunitas Syiah, jumlahnya sepuluh persen lebih dari total penduduk di negara ini. Dan Syekh Nimr adalah salah satu tokoh dari warga minoritas Syiah di Saudi.

Syekh Nimr secara terbuka menantang rezim Bani Saud berkuasa di Saudi. Dia menuding penguasa negara Kabah itu secara sistematis menindas kaum Syiah. Pemerintah membantah tudingan ini dan balik menuduh Syekh Nimr sebagai teroris dikontrol Iran. Riyadh bilang Syekh Nimr bertanggung jawab atas terbunuhnya sejumlah personel keamanan Arab Saudi.

Setelah eksekusi Syekh Nimr, para pengunjuk rasa marah dan kelihatannya terorganisir menyerbu Kedutaan Besar Arab Saudi di Ibu Kota Teheran, berakibat pada Riyadh memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Iran juga memulangkan seluruh diplomatnya dari Saudi dan sejak itu Perang Dingin meletup di antara dua kekuatan terbesar di Timur Tengah ini.

Saudara kandung mendiang Syekh Nimr, Muhammad an-Nimr, 52 tahun, tengah duduk di kantornya di pinggiran Awamia saat ditemui Der Spiegel. Dia berabaya putih dan barkafiyeh kotak-kotak warna merah putih. "Eksekusi terhadap 46 tahanannya lainnya hanyalah dalih untuk membunuh saudara saya," katanya.

Muhammad an-Nimr tidak terdengar marah, dia berkomentar dengan sabar. "Tahanan-tahanan lainnya sudah dihukum mati sejak lama," dia melanjutkan. "Syekh Nimr adalah inspirasi kami, khususnya bagi kaum muda. Dia dipuja di sini."

Ulama Syiah itu memang kerap dipenjara, terakhir dia ditahan pada musim panas 2012. Tidak lama sebelum dia ditangkap, Putera Mahkota Pangeran Nayif bin Abdul Aziz meninggal.

Seperti inilah komentar Syekh Nimr menanggapi kematian Pangeran Nayif. "Ulat dan cacing akan memakan jasadnya, dia akan mengalami siksaan dalam kuburnya. Dia telah memaksa kami hidup dalam ketakutan dan penderitaan...tidak pantaskah kami bergembira atas kematiannya?"

Lima bulan sebelum saudara kandungnya itu ditangkap, putranya Muhammad an-Nimr masih berusia 17 tahun ditahan. Selama Musim Semi Arab ini, Ali an-Nimr memang ikut dalam sejumlah demonstrasi dan telah divonis hukuman mati. Ali bakal dipancung dan disalib.

"Putra saya masih anak-anak ketika ditangkap," kata Muhammad an-Nimr. Ali sebenarnya sudah mendaftar ke universitas. "Sekarang dia sudah mendekam dalam penjara lima tahun."

Eksekusi ulama Syiah dan hukuman mati bagi keponakannya telah mengagetkan seluruh dunia. Namun Arab Saudi menunjukkan kepada masyarakat internasional mereka merasa ditekan oleh Iran dan sedang memprovokasi konflik sektarian, bahkan di negaranya sendiri.

Sejak Maret tahun lalu, Arab Saudi menggempur pemberontak Syiah Al-Hutiyun di Yaman. Namun operasi militer ini gagal. Rusaknya kota-kota di Yaman dan banyaknya penduduk sipil tewas malah menguntungkan Iran.

Ketika ditemui di tempat prakteknya di Teheran pukul sembilan malam, mantan Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Velayati baru saja selesai menangani pasien terakhirnya, seorang bocah tujuh tahun mengalami sakit dalam telinganya. Sejak pensiun sebagai diplomat, Velayati kembali ke profesi lamanya sebagai dokter anak.  

Sebagai penasihat kebijakan luar negeri bagi pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, Velayati merupakan lingkaran paling dekat dalam kekuasaan. Februari lalu, dia terbang ke Ibu kota Moskow untuk membahas masa depan Suriah dengan Presiden Vladimir Putin.

Di tempat prakteknya, Velayati bilang persahabatan Iran dan Yaman sudah berjalan dua ribu tahun. Dia menekankan 1.500 tahun lalu Iran mengirim pasukan ke ujung selatan Semenanjung Arab itu dan berhasil mengusir penjajah Ethiopia dari Yaman.

"Seperti Ethiopia, Saudi saat ini juga akan kalah total di Yaman," ujar Velayati. "Air sudah menenggelamkan mereka sampai leher."

Padahal kenyataannya, Presiden Yaman Abdu Rabbu Mansyur Hadi disokong oleh Arab Saudi dan diakui masyarakat internasional. Namun dia bilang pemerintahan Hadi tidak sah dan akan segera disingkirkan.

Dia kembali menyandarkan badannya ke kursi. Bagi Velayati, sanksi dua dasawarsa atau belum genap seratus tahun rezim Bani Saud berkuasa di Saudi, tidak akan memapu mengalahkan kebesaran sejarah Kerajaan persia berusia lebih dari empat ribu tahun.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adil al-Jubair juga memiliki sikap jelas soal konflik di Timur Tengah. "Perang di Yaman bukanlah perang kami inginkan," katanya kepada Der Spiegel Februari lalu. "Kami tidak punya pilihan. Ada sebuah milisi Syiah radikal (Al-Hutiyun) beraliansi dengan Iran dan Hizbullah telah mengambil alih negara itu."

Wawancara dengan Der Spiegel itu berlangsung di sela konferensi keamanan di Kota Munich, Jerman. Malam sebelumnya, dia berjumpa Menteri Luar Negeri Iran Muhammad Javad Zarif buat membahas gencatan senjata di Suriah untuk pertama kali sejak kedua negara putus hubungan diplomatik.

Sebelumnya keduanya saling menjelekkan. "Arab Saudi aktif menyokong ekstremisme kekerasan adalah ancaman global sebenarnya," tulis Zarif dalam sebuah opini di surat kabar the New York Times. "Strategi Saudi adalah mengekalkan dan membikin bertambah buruk ketegangan di kawasan."

Jubair membalas dengan klaim, "Bukan Arab Saudi mendukung terorisme, tapi Iran, satu-satunya aktor paling sering berperang di kawasan."

Dalam perspektif Riyadh, Iran - negara berpenduduk hampir 80 juta orang, tiga kali lebih banyak ketimbang Arab Saudi - ingin menjadi kekuatan dominan di Timur Tengah. Hegemoni lama, Amerika Serikat, akan menarik diri. Sehingga bergantung pada Arab Saudi buat mengembalikan keseimbangan kekuatan di kawasan.

Itulah inti dari kebijakan luar negeri baru Arab Saudi bersifat agresif. Bagi sebuah negara selama berpuluh-puluh tahun dinilai Barat sebagai sekutu strategis, pemasok minyak bisa diandalkan, dan aktor militer berpandangan defensif, itu sebuah gebrakan radikal dari masa lalu dengan konsekuensi tidak bisa dibayangkan.    

Pemimpin kaum Syiah di Irak Ayatullah Ali Sistani. (Press TV)

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

Seorang anak di Kota Najaf, selatan Irak, membantu ayahnya membagikan air kepada para peziarah. (Twitter)

Gadis 13 tahun masih perawan maharnya Rp 2,8 juta

"Pernikahan kontrak (kawin mut'ah) dilarang kalau hanya sekadar untuk menjual seks, sebuah cara merendahkan kehormatan dan kemanusiaan kaum hawa," tutur Ayatullah Ali al-Sistani.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Calon raja Saudi surati presiden Iran minta berdamai

Pesan ingin disampaikan Bin Salman kepada Iran adalah ingin membahas isu bilateral, kondisi kawasan, dan bagaimana bisa mengakhiri perang  Yaman tanpa mempermalukan Saudi.

Gadis-gadis pengungsi asal Suriah di sebuah kamp di Libanon. (Unicef)

Gonta ganti suami, pakai kontrasepsi

Sejauh ini Rusul sudah tidur seranjang dengan lusinan pria dalam ikatan kawin kontrak. Sampai-sampai dia lupa angka pastinya.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

31 Oktober 2019
Teman seranjang jam-jaman
08 Oktober 2019

TERSOHOR