IQRA

Hikayat Qatar (1)

Fulus tidak selalu bikin mulus

Leluhur penguasa di ketiga negara Arab supertajir ini berasal dari suku Arab Badui sama, beragama dan makan makanan serupa.

09 Februari 2018 17:21

Bagi Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad bin Khalifah ats-Tsani, hanya sedikit tidak bisa dibeli dengan uang.

Semasa remaja dia bercita-cita menjadi petenis seperti Boris Becker. Karena itulah, orang tuanya membayar petenis legendaris asal Jerman itu untuk terbang ke Qatar buat mengajarkan Syekh Tamim secara privat.

Dia memang gila olahraga. Dia kemudian membeli Paris Saint-Germain, klub sepak bola Prancis, musim panas tahun lalu memboyong penyerang Brasil Neymar dengan harga transfer termahal sejagat, yakni US$ 263 juta.

Dia pun berhasil menjadikan Qatar sebagai negara muslim pertama menjadi tuan rumah Piala Dunia. Negara Arab Teluk ini diperkirakan menghabiskan anggaran US$ 200 miliar buat mempersiapkan turnamen sepak bola paling bergengsi di planet ini.

Kini, di usia 37 tahun, Syekh Tamim tengah terbelit masalah di mana fulus tidak bisa menjadi solusi.

Sejak Juni tahun lalu, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir memberlakukan blokade darat, laut, dan udara. Hubungan diplomatik terputus. Penerbangan dan pelayaran dari dan menuju Qatar terpaksa berubah jalur.

Bahkan hewan peliharaan juga menjadi korban akibat permusuhan ini. Sekitar 12 ribu unta Qatar biasa menikmati rumput di daratan Saudi diusir.

Saudi dan sekutunya menuding Qatar menyokong terorisme, bermesraan dengan Iran, dan menampung para buronan teroris. Meski tidak teraang-terangan Ruyadh dan Abu Dhabi berkomplot untuk menggulingkan Syekh Tamim dan singgasana.

Syekh Tamim membantah semua tuduhan tersebut. Dia menyebut Saudi dan UEA cemburu dengan kemajuan dan keterbukaan dinikmati rakyat Qatar. "Mereka tidak suka kebebasan kami," katanya dalam sebuah wawancara di Kota New York, Amerika Serikat, September tahun lalu. "Mereka melihat itu sebagai sebuah ancaman."

Boikot atas Qatar bukanlah tindakan agresif pertama dilakoni Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. Terobsesi untuk mengubah wajah negara Kabah, lelaki 32 tahun ini memenjarakan para pesaingnya atas nama kampanye antikorupsi dan meluluhlantakkan Yaman.

Pangeran Muhammad bin Salman telah mengubah pendekatan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Timur Tengah. Petualangannya ini berisiko menaikkan harga minyak, mengganjal upaya perdamaian Palestina-Israel, dan menciptakan perang dengan Iran.

Sengketa Qatar dengan Saudi dan UEA adalah perseteruan keluarga. Leluhur penguasa di ketiga negara Arab supertajir ini berasal dari suku Arab Badui sama, beragama dan makan makanan serupa. Sebab itu, Syekh Tamim, Pangeran Muhammad bin Salman, dan Putera Mahkota Abu Dhabi Syekh Muhammad bin Zayid an-Nahyan bersaudara sepupu.

Rute perjalanan sebuah jet pribadi membawa para pejabat Uni Emirat Arab dan Israel pada 17 Januari 2019 terbang langsung dari Abu Dhabi ke Tel Aviv. (Flight Radar 24)

UEA bantah kabar menteri luar negerinya luka diserang

Baru-baru ini juga muncul kabar telah terjadi upaya kudeta di Qatar.

Pemimpin kaum Syiah di Irak Ayatullah Ali Sistani. (Press TV)

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

Seorang anak di Kota Najaf, selatan Irak, membantu ayahnya membagikan air kepada para peziarah. (Twitter)

Gadis 13 tahun masih perawan maharnya Rp 2,8 juta

"Pernikahan kontrak (kawin mut'ah) dilarang kalau hanya sekadar untuk menjual seks, sebuah cara merendahkan kehormatan dan kemanusiaan kaum hawa," tutur Ayatullah Ali al-Sistani.

Gadis-gadis pengungsi asal Suriah di sebuah kamp di Libanon. (Unicef)

Gonta ganti suami, pakai kontrasepsi

Sejauh ini Rusul sudah tidur seranjang dengan lusinan pria dalam ikatan kawin kontrak. Sampai-sampai dia lupa angka pastinya.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

31 Oktober 2019
Teman seranjang jam-jaman
08 Oktober 2019

TERSOHOR