IQRA

Liputan dari Qatar (1)

Sapa Doha

"Tidak ada yang berubah. Segalanya tetap berjalan baik," kata lelaki India telah tinggal di Qatar selama 28 tahun ini.

23 Maret 2018 03:11

Jarum jam semalam menunjuk ke angka 22.17 (lebih lambat empat jam ketimbang Jakarta) saat roda pesawat Qatar Airways saya tumpangi dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, menyentuh aspal landasan di Bandar Udara Internasional Hamad, Ibu Kota Doha, Qatar.

Meski hari sudah larut, namun suasana malam Jumat di Doha masih ramai. Maklum saja, hari ini dan besok adalah libur mingguan di negara Arab Teluk itu, seperti dilaporkan oleh wartawan Albalad.co Faisal Assegaf dari Doha.

Kalau di Jakarta libur saban Sabtu dan Ahad, penduduk Qatar tidak masuk sekolah atau kerja tiap Jumat dan Sabtu. 

Keramaian ini menunjukkan Qatar tidak menderita akibat blokade darat, laut, dan udara dilakukan oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir. Keempat negara Arab ini memutuskan hubungan diplomatik sekaligus blokade terhadap Qatar sejak awal Juni tahun lalu. 

Arab Saudi sekawan menuding Qatar menyokong terorisme. Doha membantah tuduhan ini.

Menurut Ahmad, sopir bekerja di Bandar Udara Hamad, tidak ada bedanya tinggal di Qatar sekarang dengan sebelum permusuhan meletup dengan Saudi dan ketiga sekutunya itu. "Tidak ada yang berubah. Segalanya tetap berjalan baik," kata lelaki India telah tinggal di Qatar selama 28 tahun ini. 

Memang benar selama ini sekitar 80 persen kebutuhan makanan Qatar dipasok dari Saudi dan UEA. Namun  sejak bermusuhan, produk asal Iran dan Turki menggantikan posisi kedua negara tetangga Qatar itu. 

Kelangkaan makanan cuma terjadi dalam hitungan pekan. Sehabis itu, semuanya berjalan normal. "Hanya rasa di lidah berubah," ujar Atase Tenaga Kerja Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Doha Muhammad Yusuf. 

Dalam laporannya awal bulan ini, IMF (Dana Moneter Internasional) menyimpulkan efek dari blokade cuma sementara. Perekonomian dan pertumbuhan ekonomi Qatar kembali stabil setelah jalur perdangan baru terbentuk. 

Alhasil, Qatar masih bisa tersenyum menyapa para pengunjungnya, termasuk saya. 

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

Kedutaan Besar Arab Saudi di Ibu Kota Doha, Qatar. (Elhoda-group.com)

Saudi buka kembali kedutaannya di Doha beberapa hari lagi

Penerbangan langsung menghubungkan Saudi dan Qatar juga sudah dimulai sedari Senin lalu.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021

TERSOHOR