IQRA

Liputan dari Qatar (5)

Berselancar di gurun Qatar

Perhentian satu lagi di tepi Laut Merah, memisahkan Qatar dengan negara tetangganya, Arab Saudi.

28 Maret 2018 10:55

Saya tadinya membayangkan begitu asyiknya berselancar di gurun, berjarak sekitar sejam bermobil dari Ibu Kota Doha Qatar. Kami tiba di kawasan wisata itu Ahad sore lalu bersama seorang penulis asal Makassar, dua peneliti, dan Anto, staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Doha.

Ketika kami sampai di obyek wisata bernama Sealine Beach Dunes itu, sudah terdapat tiga empat Land Cruiser, termasuk kendaraan kami dikemudikan oleh Saleh, lelaki Qatar beristri perempuan Pakistan. "Kalau Jumat dan Sabtu (hari libur, pesertanya berjubel," kata Anto.

Sambil menunggu Saleh mengempiskan keempat ban mobilnya, seperti dilakukan empat pengemudi lainnya, kami menaiki unta. Beberapa pelancong bule juga melakoni hal serupa, seperti dilaporkan wartawan Albalad.co Faisal Assegaf dari Qatar.  

Beruntung sudah memasuki musim semi, suhu udara tidak kelewat panas. Tiupan angin menambah sejuk.

Sehabis itu, berselancar pun dimulai. Naik turun bukit pasir. Saleh begitu piawai mengemudikan mobilnya, menanjak sambil berbelok meski di sebelahnya terdapat kemiringan curam.

"Saya sudah memilihkan paket biasa tidak terlalu ekstrem," ujar Anto. "Karena di tempat ini risiko ditanggung sendiri. Tidak ada asuransi."

Kami berhenti dua kali. Di sebuah puncak bukit pasir untuk melepas penat dan ketegangan sambil memandangi keadaan sekitar. Perhentian satu lagi di tepi Laut Merah, memisahkan Qatar dengan negara tetangganya, Arab Saudi.

Kedua negara ini bermusuhan sejak awal Juni tahun lalu. Arab Saudi bareng Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Mereka beralasan negara Arab supertajir itu menyokong terorisme.

Keempat negara Arab ini juga memberlakukan blokade darat, laut, dan udara.

Setengah perjalanan, saya sudah merasa mual lantaran perut terkocok oleh gaya menyetir Saleh: berbelok mendadak, naik dan turun bukit pasir. Barangkali karena sebelumnya saya makan terlalu banyak.

Saya berupaya menahan meski keringat dingin mulai membasahi kening dan badan. Saya berhasil hingga acara berselancar di gurun selesai.

Tapi dalam perjalanan kembali ke Doha, saya meminta Saleh berhenti. Saya tidak kuat lagi. Hingga akhirnya saya memuntahkan hampir seluruh makanan.    

Bayangan saya di awal buyar. berselancar di gurun Qatar telah membikin perut saya mual.

Pemimpin kaum Syiah di Irak Ayatullah Ali Sistani. (Press TV)

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

Seorang anak di Kota Najaf, selatan Irak, membantu ayahnya membagikan air kepada para peziarah. (Twitter)

Gadis 13 tahun masih perawan maharnya Rp 2,8 juta

"Pernikahan kontrak (kawin mut'ah) dilarang kalau hanya sekadar untuk menjual seks, sebuah cara merendahkan kehormatan dan kemanusiaan kaum hawa," tutur Ayatullah Ali al-Sistani.

Gadis-gadis pengungsi asal Suriah di sebuah kamp di Libanon. (Unicef)

Gonta ganti suami, pakai kontrasepsi

Sejauh ini Rusul sudah tidur seranjang dengan lusinan pria dalam ikatan kawin kontrak. Sampai-sampai dia lupa angka pastinya.

Bangunan berisi kubur Imam Musa al-Kazhim, salah satu tempat paling dikeramqtkan kaum Syiah, terletak di Distrik Kazhimiyah, Ibu Kota Baghdad, Irak. (Twitter)

Teman seranjang jam-jaman

Akad nikah berjalan singkat. Seorang ulama bertindak sebagai penghulu menanyakan apakah Rusul menerima uang lamaran US$ 200.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

31 Oktober 2019
Teman seranjang jam-jaman
08 Oktober 2019

TERSOHOR