IQRA

Liputan dari Qatar (6)

Tuan rumah minus tradisi

Kehadiran Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol, belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

30 Maret 2018 19:52

Dengan gaya meyakinkan Matthias Krug, Head of Newsroom di Supreme Committee of Delivery & Legacy (SCDL), merupakan panitia Piala Dunia 2022, mempresentasikan persiapan Qatar untuk menyelenggarakan turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia itu.

Hal ini membikin saya yakin negara Arab supertajir itu memang siap lahir batin sebagai negara Arab dan muslim pertama menggelar Piala Dunia.

Ada delapan stadion bakal dipakai untuk Piala Dunia 2022, yakni Stadion Al-Bait, Stadion Ar-Rayyan, Stadion Ath-Thumama, Stadion Al-Wakrah, Stadion Internasional Khalifah, Stadion Lusail, Stadion Yayasan Qatar, dan Stadion Ras Abu Abud.

Stadion Al-Bait - berkapasitas 60 ribu tempat duduk - terletak di Kota Al-Khor, berjarak sekitar 60 kilometer sebelah utara Ibu Kota Doha. Al-Khor terkenal sebagai lokasi penyelam mutiara dan nelayan.

Stadion ini bakal menjadi tempat pertandingan babak semifinal Piala Dunia 2022 dan dirancang berbentuk mirip tenda kaum Arab badui atau nomaden. Stadion Al-Bait direncanakan selesai pembangunannya akhir tahun ini.

Stadion Ar-Rayyan terletak tidak jauh dari Doha akan memiliki 40 ribu tempat duduk. Markas klub sepak bola Ar-Rayyan ini bakal menjadi lokasi pertandingan penyisihan grup hingga perempat final Piala Dunia 2022 dan akan dibuka tahun depan.

Stadion Ath-Thumama - mampu menampung 40 ribu penonton - juga akan menjadi lokasi pertandingan penyisihan grup sampai tahap perempat final Piala Dunia 2022. Berlokasi sekitar 12 kilometer dari Doha, stadion ini didesain berbentuk gahfiyah atau peci tradisional biasa dipakai kaum lelaki Arab dan akan diresmikan pada 2020.  

Stadion Al-Wakrah, berkapasitas 40 ribu tempat duduk, akan menjadi lokasi pertandingan penyisihan grup hingga babak perempat final. Stadion rancangan mendiang arsitek Zaha Hadid ini bakal diresmikan tahun ini.

Stadion Internasional Khalifah merupakan stadion Piala Dunia 2022 pertama kali diresmikan tahun ini dan sudah dipakai menjadi tempat pelaksanaan Piala Emir. Stadion berkapasitas 40 ribu kursi ini bakal menjadi lokasi laga penyisihan grup sampai babak perempat final.

Stadion Lusail, berjarak sekitar 15 kilometer sebelah Doha, ini bakal menjadi lokasi pertandingan pembuka, final, dan penyisihan grup Piala Dunia 2022. Stadion ini dijadwalkan diresmikan pada 2020.  

Stadion Yayasan Qatar - berkapasitas 40 ribu penonton - direncanakan rampung pembangunannya tahun depan. Stadion ini akan menjadi tempat pertandingan penyisihan grup hingga babak perempat final.

Stadion Ras Abu Abud dengan 40 ribu tempat duduk akan berada di tepi pantai di kawasan barat Teluk Doha. Stadion ini akan menjadi lokasi laga penyisihan grup sampai babak perempat final.

Untuk membangun delapan stadion dan beragam fasilitas pelengkapnya serta infrastruktur pendukung, Qatar menggelontorkan dana US$ 200 miliar (Rp 2.571 triliun).

Meski akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, aura itu belum saya rasakan. Hanya pembangunan saja terlihat getol dilakukan di sana sini, seperti dilaporkan wartawan Albalad.co Faisal Assegaf dari Doha. Barangkali lantaran turnamen itu masih empat tahun lagi.

Seorang ekspatriat asal Asia mengakui Qatar memang tidak memiliki tradisi sepak bola sekuat Indonesia. "Pertandingan-pertandingan  liga domestik selalu sepi penonton," katanya. "Kadang kami, kaum ekspatriat didrong untuk menonton laga di stadion gratis dan mendapat suvenir cuma-cuma."

Padahal Qatar sudah mendatangkan Xavi Hernandez, mantan bintang FC Barcdelona sekaligus bekas kapten tim nasional Spanyol. Tapi itu rupanya belum cukup untuk mendongkrak warga Qatar menjadi penggila bola.

Bayangan saya kembali ke tanah air. Kalau saja Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia, mungkin suasananya bakal sangat jauh berbeda. Kehebohan dan gegap gempita sudah terasa walau turnamen sepak bola presitisius itu masih empat tahun lagi.

Sayangnya, Indonesia memang kuat secara tradisi tapi lemah secara finansial.

Pemimpin kaum Syiah di Irak Ayatullah Ali Sistani. (Press TV)

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

Seorang anak di Kota Najaf, selatan Irak, membantu ayahnya membagikan air kepada para peziarah. (Twitter)

Gadis 13 tahun masih perawan maharnya Rp 2,8 juta

"Pernikahan kontrak (kawin mut'ah) dilarang kalau hanya sekadar untuk menjual seks, sebuah cara merendahkan kehormatan dan kemanusiaan kaum hawa," tutur Ayatullah Ali al-Sistani.

Gadis-gadis pengungsi asal Suriah di sebuah kamp di Libanon. (Unicef)

Gonta ganti suami, pakai kontrasepsi

Sejauh ini Rusul sudah tidur seranjang dengan lusinan pria dalam ikatan kawin kontrak. Sampai-sampai dia lupa angka pastinya.

Berselancar di gurun Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Berselancar di gurun Qatar

Perhentian satu lagi di tepi Laut Merah, memisahkan Qatar dengan negara tetangganya, Arab Saudi.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Kawin mut'ah tidak terhormat dan mirip pelacuran

"Bagi kami, seorang ulama itu sangat istimewa tapi akhirnya saya menyadari pemakai sorban itu penipu," tutur Rana.

31 Oktober 2019
Teman seranjang jam-jaman
08 Oktober 2019

TERSOHOR