IQRA

UEA Beli Pesawat Intel Israel (1)

Sentuhan Kochavi dan transaksi UEA-Israel

Isu Palestina bukan lagi ganjalan bagi negara-negara Arab Teluk buat menjalin hubungan dengan Israel. Israel, Arab Saudi, dan UEA rutin berbagi informasi intelijen mengenai ancaman dari Iran.

27 Agustus 2019 04:59

Selama beberapa pekan terakhir, sebuah pesawat jet eksekutif berwarna putih dan terlihat biasa saja lepas landas dari pangkalan udara Adh-Dhafra di Ibu Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), lantas terbang beberapa jam di atas Teluk Persia.

Kalau dipandangi lebih seksama lagi di bagian perut, buntut, dan belakangnya, jet itu bukan pesawat biasa. Ini adalah pesawat intai mutakhir milik UEA, dipakai buat mengumpulkan data-data intelijen elektronik dan salah satu sasarannya adalah Iran.

Penampakan pesawat mata-mata itu - baru-baru ini melakoni uji terbang - adalah tahap akhir dari sebuah kesepakatan raksasa dimulai satu dasawarsa lalu. Siapa koneksi ke Israel tidak diketahui sampai sekarang. Namun investigasi Haaretz menemukan orang di baik penjualan pesawat intai ke UEA itu adalah pengusaha Israel bernama Matanya "Mati" Kochavi.

Dokumen-dokumen diperoleh Haaretz, sebagian beraal dari bocoran Paradise Papers oleh ICIJ (Konsorsium Internasional Wartawan Investigasi) dan surat kabar Sueddeutsche Zeitung asal Jerman pada 2017 menunjukkan kesepakatan antara UEA dan Israel itu seniai tiga miliar shekel (Rp 12,1 triliun). Sebagian dari nilai transaksi dibayar tunai. Para pemimpin UEA juga terkait dengan sebuah perusahaan terlibat dalam pembelian pesawat mata-mata Israel itu.

Kenyataannya memang tidak ada hubungan diplomatik antara UEA dan Israel. Meski begitu negara Zionis itu dan negara-negara Arab Teluk memiliki musuh bersama, yakni Iran.

Menurut sebuah laporan dilansir the Wall Street Journal tahun ini, Israel, Arab Saudi, dan UEA rutin berbagi informasi intelijen mengenai ancaman dari negara Mullah itu. Sebuah penelitian dilansir Agustus tahun lalu oleh the Tony Blair Institute for Global Change menyebutkan nilai perdagangan antara israel dan negara-negara Arab teluk sebesar US$ 1 miliar saban tahun. Kalau dulu isu Palestina menjadi ganjalan untuk membina hubungan dengan Israel, saat ini Palestina bukan lagi masalah bagi mereka buat menjalin relasi.

Dalam sebuah wawancara khusus dengan surat kabar the Guardian Maret lalu, Jamal as-Suwaidi, pendiri the Emirates center for Strategic Studies and Research, membenarkan isu Palestina tidak lagi menjadi agenda prioritas bagi negara-negara Arab Teluk.
"Palestina tidak lagi menjadi kepentingan terdepan negara-negara Arab seperti puluhan tahun lalu karena tantangan, ancaman, dan beragam masalah dihadapi negara-negara di kawasan ini," katanya.

Jamal menambahkan mempertanyakan soal membangun hubungan dengan Israel tidak sebanding dengan ancaman dari Iran, Hizbullah, dan kelompok-kelompok teroris lainnya.

Dr Thedore Karasik, peneliti tentang tentang Rusia dan Timur Tengah di Jamestown Foundation (berkantor di Washington DC), menjelaskan alasan UEA membeli pesawat intai dari Israel adalah untuk membangun kemampuan mengumpulkan data intelijen secara independen tanpa harus bergantung kepada Amerika Serikat. UEA berkepentingan terhadap data intelijen tentang Libya, Yaman, dan Iran.

Selama bertahun-tahun, banyak angkatan udara di dunia memakai pesawat jet berbadan lebar untuk mengumpulkan informasi elektronik. Tapi dalam dua dasawarsa terakhir, sebuah jet eksekutif berukuran jauh lebih kecil dimodifikasi untuk perang intelijen. Di sepanjang perut pesawat ditanam mekanisme radar modern, antena, sensor, dan sistem pengumpulan informasi mutakhir.

Angkatan Udara Israel telah membangun skuadron Nachshon berisi pesawat jet Gulfstream 5 dilengkapi dengan peringatan serangan udara, kontrol lalu lintas militer, dan sistem pengumpulan informasi intelijen. Israel sudah menjual pesawat intai itu ke Italia dan Singapura.

Angkatan Udara Inggris membentuk skuadron Raytheon Sentinel dengan kemampuan mengumpulkan data intelijen. Skuadron ini menggunakan jet Bombardier Global Express dimodifikasi oleh Raytheon.

 

Pesawat Etihad Airways akan melayani penerbangan Abu Dhabi-Tel Aviv dua kali sepekan mulai 6 April 2021. (Etihad)

Etihad memulai penerbangan komersial perdananya ke Israel hari ini

Etihad akan melayani penerbangan Abu Dhabi-Tel Aviv dua kali sepekan.

Para pejabat Uni Emirat Arab melepas kepulangan sejumlah pejabat Amerika Serikat dan Israel dari Bandar Udara Abu Dhabi, 1 September 2020. (El Al spokesperson's office)

UEA batalkan rencana KTT Amerika-Israel-Arab

Pesertanya adalah para pejabat senior Amerika, Bin Zayid, Netanyahu, dan kepala negara dari Bahrain, Sudan, dan Maroko. 

Jet pribadi terbang dari Tel Aviv ke Dubai pada 15 Maret 2021. (Twitter)

Netanyahu batalkan lawatan ke UEA karena takut pesawatnya ditembak milisi Al-Hutiyun

Rencana itu sejatinya bakal menjadi lawatan resmi Netanyahu secara terbuka ke UEA setelah pada 2018 diam-diam terbang ke Abu Dhabi.

Bendera Uni Emirat Arab dan Israel. (WAM)

UEA umumkan rencana investasi Rp 143 triliun di Israel

Netanyahu menghubungi Bin Zayid setelah membatalkan lawatannya ke negara Arab Teluk itu kemarin lantaran tidak mendapat izin melintasi wilayah udara Yordania.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021

TERSOHOR