IQRA

UEA Beli Pesawat Intel Israel (4)

Banyak informasi hilang seputar kontrak penjualan

Pesawat mata-mata kedua pesanan UEA masih menjalani uji terbang di timur laut London.

06 Oktober 2019 13:22

Ketika ditanya Haaretz mengenai kesepakatan penjualan pesawat mata-mata ke Uni Emirat Arab (UEA), Matanya Kochavi melalui sebuah agen hubungan masyarakat menyatakan tidak akan berkomentar.

The Appleby, firma hukum mengurus transaksi atas nama Advanced Integrated Systems (AIS), perusahaan raksasa berkantor pusat di Ibu Kota Abu Dhabi, UEA, dan banyak menghabiskan waktu menyiapkan struktur organisasi dan logistik nan rumit untuk memfasilitasi pengiriman pesawat intelijen itu.

Dalam beragam dokumen, dua pemimpin UEA - Presiden Syekh Khalifah bin Zayid an-Nahyan dan saudara tirinya, Putera Mahkota Syekh Muhammad bin Zayid an-Nahyan - disebut memiliki kaitan dengan AIS. Menurut terminologi keuangan profesional kedua orang ini berpotensi melakukan korupsi dalam pembelian pesawat mata-mata asal israel itu.

Sejumlah dokumen memang tidak menyebutkan seperti apa kaitan kedua pemimpin UEA ini dengan AIS. Tapi, menurut ahli Timur Tengah dari lembaga Gulf State Analytics, Theodore Karasik, AIS merupakan perusahaan kepunyaan pemerintah UEA. Informasi ini sangat sensitif sehingga tidak muncul dalam catatan registrasi perusahaan.

Dokumen-dokumen Appleby 2015 - beberapa tahun setelah transaksi bernilai ratusan juta dlar Amerika Serikat itu rampung - menunjukkan firma hukum itu kaget dengan beberapa hal dalam proses transaksi. Pertama, tidak ada pembiayaan dari pihak luar lantaran sebagian transaksi dilakukan dengan uang tunai.

Selain itu, beragam informasi terkait transaksi penjualan pesawat intel Israel ke UEA juga hilang. Misalnya soal nomor rekening bank dipakai dan formulir Foreign Account Tax Compliance Act (FATCA), mesti diajukan oleh lembaga finansial di luar Amerika ketika warga Amerika secara langsung atau tidak langsung melakukan transaksi atas bantuan mereka. Dokumen-dokumen Appleby ini tidak menjelaskan bagaimana isu ini diselesaikan.

Setelah penjualan rahasia pesawat mata-mata Israel ke UEA dilansir, perwakilan Appleby mengontak Haaretz, untuk memberikan klarifikasi: "Paradise Papers bukan dibocorkan oleh seseorang dari Appleby tapi terjadi lantaran data diretas."

Kesepakatan akhirnya tercapai dan tahun lalu, jet eksekutif mata-mata bikinan Israel diterbangkan dari Inggris ke UEA. Sehabis adaptasi lanjutan dan pemasangan sejumlah sistem, uji coba penerbangan dilakukan beberapa kali baru-baru ini, sebelum pesawat intel itu diserahkan kepada Angkatan Bersenjata UEA. Pesawat mata-mata kedua pesanan UEA masih menjalani uji terbang di timur laut London.

Ketika kedua pesawat intel itu beroperasi, militer UEA bakal mempunyai kemampuan intelijen mutakhir: pesawat ini dapat menyadap dan mengidentifikasi komunikasi sedang dilakukan, mencari lokasi dan memetakan sistem elektronik dioperasikan oleh Iran, termasuk radar dan sistem pertahanan udara melindungi instalasi-instalasi nuklirnya.

Negara lain di kawasan, seperti Arab Saudi, juga dapat menjadi sasaran bagi kedua pesawat mata-mata UEA terbaru itu.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Amerika sokong Israel berjaya

Sejak 1985, Amerika memberikan hibah untuk kepentingan militer hampir US$ 3 miliar saban tahun buat Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021

TERSOHOR