IQRA

Kawin Kontrak di Irak (1)

Teman seranjang jam-jaman

Akad nikah berjalan singkat. Seorang ulama bertindak sebagai penghulu menanyakan apakah Rusul menerima uang lamaran US$ 200.

08 Oktober 2019 07:34

Ketika bangun tidur, Rusul menemukan dirinya sendirian. Suami barunya sudah pergi. Perkawinan mereka hanya berlangsung tiga jam.

Itu bukan pernikahan pertamanya bagi gadis remaja itu. Juga bukan perkawinan kedua, ketiga, atau keempat. Kenyataannya, di usia masih terbilang belia, dia sudah bersuami berkali-kali sampai dia lupa menghitung, seperti dilansir hasil investigasi BBC.

Kehidupan mengenaskan Rusul dimulai di tempat kerjanya. Dia menyaksikan gadis-gadis tidak lebih tua ketimbang dirinya, berpakaian serba ketat dengan riasan tebal berada dalam antrean. Lelaki-lelaki tua kemudian datang memilih mereka satu-satu. "Mereka gadis-gadis muda nan cantik, saya tidak mengerti kenapa mereka menjual diri seperti ini," kata Rusul.

Rusul juga rentan, dijauhkan dari keluarganya dan menjalani hidup mendukung kakaknya, Rula.

Meski hidup susah, dia sudah bersumpah tidak akan menggantungkan diri kepada pria untuk bertahan hidup. Ketika ada lelaki berusaha membujuk dengan menawari sejumlah fulus, dia selalu menolak.

Suatu hari, seorang lelaki datang ke tempat kerjanya dan mulai mengobrol dengan Rusul. Mereka berbincang mengenai masa lalu Rusul, kenapa dia memilih bekerja dibanding bersekolah, dan dari mana dia berasal. Rusul merasa pria itu benar-benar perhatian kepada dirinya.

Beban hidup memang makin berat. Tinggal di Ibu Kota Baghdad, Irak, adalah sebuah perjuangan. 

Walau awalnya berkomitmen ingin tetap sendiri, Rusul akhirnya mendambakan memiliki suami, orang akan mengurus keperlyan hidup dia dan kakak perempuannya. 

Pria itu datang saban hari ke tempat kerja Rusul buat menggaet perhatiannya. Dia akhirnya luluh dan rasa cinta pelan-pelan tumbuh dalam hatinya.

Dalam hitungan pekan, lelaki ini kemudian melamar dan Rusul mengiyakan. Keduanya lantas pergi ke kawasan Syiah di Kazimiyah, masih di Baghdad. Rusul kian girang saat mereka masuk ke kantor urusan pernikahan.

Akad nikah berjalan singkat. Seorang ulama bertindak sebagai penghulu menanyakan apakah Rusul menerima uang lamaran US$ 200. Ulama ini juga mengajukan surat kontrak nikah. 

Dalam hitungan menit sehabis ulama mendoakan pernikahan mereka, sang suami membawa Rusul ke sebuah apartemen, terletak tidak jauh dari kantor pernikahan. 

Meski gugup, Rusul merasa tenang lantaran sudah memiliki rumah layak untuk dia dan kakaknya menetap. Rusul mengikuti suaminya ke kamar tidur. Saat menutup pintu kamar, dia berdoa dalam hati supaya suami memperlakukan dirinya dengan baik dan rumah tangganya langgeng.

Hari-hari awal pernikahannya serasa cerita dongeng: manis dan menyenangkan. 

"Saya merasa beban saya terangkat," kata Rusul. "Saya akhirnya tidak harus mencukupi segala kebutuhan kami berdua (Rusul dan kakak perempuannya)."

Beberapa pekan berselang, suaminya menghilang. Rusul tidak tahu kalau pernikahan dia jalani sekadar buat seks atau bersenang-senang. 

Sejak saat itu Rusul beberapa kali berganti teman seranjang. Dia butuh uang dan lelaki menikahinya untuk waktu singkat perlu seks. 

 

 

 

 

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (FBI)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Amerika sokong Israel berjaya

Sejak 1985, Amerika memberikan hibah untuk kepentingan militer hampir US$ 3 miliar saban tahun buat Israel.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

01 Maret 2021

TERSOHOR