IQRA

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl (1)

Saif al-Adl: setia, efisien, dan pragmatis

Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin.

25 Februari 2021 15:48

Dengan kematian Hamzah Bin Ladin (putra dari mendiang pendiri Al-Qaidah Usamah Bin Ladin), Abu Muhammad al-Masri, serta pemimpin Al-Qaidah Aiman az-Zawahiri, maka pemimpin baru jaringan buatan Bin Ladin itu adalah lelaki Mesir dikenal dengan nama samaran Saif al-Adl. Seperti Abu Muhammad, Saif juga mencari perlindungan di Iran dan dilarang meninggalkan negara Mullah itu.

Sila baca:

Pemimpin Al-Qaidah Aiman Zawahiri meninggal

Duka Al-Qaidah di negara Mullah

Tidak banyak diketahui tentang pergerakan dan kegiatan Saif tapi pengalamannya sebagai pemimpin militer, intelijen, dan keamanan, serta perencana serangan teror, membuat dia berpotensi menjadi pemimpin baru Al-Qaidah berbahaya, seperti ditulis Ali Soufan dalam bukunya Anatomy of Terror: From the Death of Bin Laden to the Rise of the Islamic State dan dilansir oleh CTC Sentinel pada 21 Februari 2021.

Sebelum tewas dalam serangan pasukan elite Amerika Serikat, SEAL, pada awal Mei 2011 di Kota Abbottabad, Pakistan, Usama Bin Ladin sudah menentukan penggantinya. Berdasarakan kesepakatan peleburan antara Al-Qaidah dengan EIJ (Jihad Islam Mesir), mantan pemimpin EIJ Aiman az-Zawahiri bakal menjadi pengganti Bin Ladin.

Namun sebelum menduduki posisi itu, Zawahiri harus memperoleh baiat (sumpah setia) dari Dewan Syura Al-Qaidah. Syarat ini tidak dia dapatkan. Sehingga Al-Qaidah menugaskan seseorang dengan integritas dan loyalitas tidak terbantahkan. Dia sudah sedari awal bergabung dengan Al-Qaidah, tokoh terkemuka dan disegani, dan eks anggota pasukan komando Mesir. Dia adalah Saif al-Adl.

Sejak 2002 atau 2003, Saif telah menetap di Iran. Statusnya berubah-ubah. Kadang ditahan dalam penjara, lain waktu menjadi tahanan rumah. Sampai akhir 2010, dia dibolehkan bolak balik ke Waziristan, di utara Pakistan, kemudian basis Al-Qaidah.

Pada Mei 2011, Saif menikmati kebebasan menjadi pemimpin sementara Al-Qaidah, organisasi tempat dia mengabdikan diri selama 22 tahun. Banyak orang di Al-Qaidah berharap penunjukannya itu menjadi permanen.

Saif dan Zawahiri sangat berbeda. Saif adalah anggota setia, pemimpin militer dan intelijen mampu mengubah Al-Qaidah dari bekas milisi melawan Uni Soviet di Afghanistan menjadi organisasi teroris paling berbahaya di dunia.

Sedangkan Zawahiri sebaliknya. Dia adalah pemimpin gagal. Ketika EIJ bergabung dengan Al-Qaidah, anggotanya tinggal sepuluh orang.

Saif termasuk orang menentang peleburan antara Al-Qaidah dan EIJ. Tapi dia sadar Bin Ladin ingin fusi itu terjadi untuk meneruskan kepmimpinannya. Sehabis kematian Bin Ladin, Saif bergerak dengan efisien. Dia mampu mendapatkan baiat dari semua anggota Dewan Syura Al-Qaidah kecuali satu orang, yakni Harun Fazul, mantan sekretaris pribadinya.

Harun Fazul lantas menjadi pemimpin Al-Qaidah di Afrika Timur dan kerap menentang perintah Zawahiri. Dia terbunuh dalam waktu hampir bersamaan dengan penetapan Zawahiri sebagai Emir Al-Qaidah. Sebagian laporan menyebutkan Harun dibunuh oleh Asy-Syabab, milisi Al-Qaidah di Somalia, karena menolak berbaiat kepada Zawahiri.

Setelah tugas beratnya itu diselesaikan, Saif kembali ke Iran pada musim gugur 2011.

Selama kepemimpinan Bin Ladin, Saif tidak segan terang-terangan menunjukkan penolakan perintah Bin ladin kalau dia yakini keliru. Tapi dia membuktikan sebagai anggota setia Al-Qaidah. Jika bertindak, dia benar-benar efisien.

Dia atas semua itu, Saif orangnya pragmatis. Meski menentang paham Syiah, tapi dia sadar Iran satu-satunya tempat buat berlindung setelah Al-Qaidah melancarkan serangan 11 September 2001 terhadap dua kota penting di Amerika Serikat: New York dan Washington DC.

Kini tinggal Saif, nama besar sejak Al-Qaidah berdiri, masih tersisa. Ketika pasukan Amerika Serikat menguasai Kandahar di akhir 2001, mereka menyita ratusan ribu dokumen berisi rincian sejarah, struktur, dan anggota Al-Qaidah, termasuk daftar 170 pendirinya. Dalam daftar ini, Usamah Bin Ladin di nomor pertama dan Saif al-Adl di urutan kedelapan.

Walau lebih dari sekali Saif tanpa takut menyuarakan pendapat berbeda dari Bin Ladin, kesetiannya kepada lelaki Arab Saudi berdarah Yaman itu tidak terbantahkan. Tidak seperti banyak petinggi Al-Qaidah asal Mesir - termasuk Zawahiri - Saif tidak pernah berbaiat kepada kelompok lain.

Bertahun-tahun, saat Al-Qaidah pindah dari Afghanistan ke Afrika Timur dan kembali ke Afghanistan, Saif selalu berada di samping Bin Ladin. Dia menjadi rang kepercayaan untuk menyelesaikan segala persoalan dan kerap mampu mendapatkan solusinya.

Dia adalah orang kepercayaan Bin Ladin ke negara-negara musuh dan berbagai cabang Al-Qaidah. Juga diutus untuk memperluas operasi, mulai dari Yaman ke Somalia hingga Iran. Bin Ladin, diburu banyak orang, sangat mempercayai Saif lebih dari yang lainnya.

Sampai menjelang serangan 11 September 2001, Saif berada di urutan keempat dalam rantai komando Al-Qaidah, setelah Bin Ladin, Zawahiri, dan Abu Hafs al-Masri. Tapi Bin Ladin kemudian mengubah rantai komando itu dengan memasukkan Abu Muhammad al-Masri dan Abu Khair al-Masri (salah satu anggota Dewan Syura EIJ) di atas Saif. Sekarang tersisa cuma Saif.

Saif adalah salah satu tentara profesional paling berpengalaman dalam gerakan jihadis dunia. Bekas luka di tubuhnya menunjukkan pengalamannya dalam bertempur. Sebuah bekas luka di bawah mata kanannya terkena pecahan bom dan parutan di tangan kanan sisa pertempuran melawan tentara Amerika dan sekutunya di Somalia.

Dia sangat terdidik dengan bahasa Inggris cukup fasih. Para mantan rekannya menggambarkan dia sebagai diplomat lihai berwajah seram. Dia juga pemarah dan bisa bertindak kejam terhadap pengkhianat. Di waktu-waktu senggang, dia senang menunjukkan keterampilannya bermain sepak bola.

Dia telah menjadi buronan noor wahid Amerika. Kepalanya dihargai US$ 5 juta lalu dinaikkan menjadi US$ 10 juta atas perannya dalam serangan bom terhadap Kedutaan Besar Amerika di Nairobi dan Daar as-Salam pada 1998 dan menewaskan 224 orang.

Hanya sedikit diketahui tentang dirinya. Dia mampu menyembunyikan rekam jejak kehidupannya semasa kecil dan remaja. Dia bahkan pernah mengumumkan kematiannya di usia 20-an tahun buat menghapus jejaknya. Dia berhasil membikin badan-badan intelijen Barat meyakini dia adalah orang lain.

Namun Saif adalah pemimpin baru Al-Qaidah lebih berbahaya ketimbang Bin Ladin. Dia loyal, efisien, dan pragmatis.

Saif al-Adl, pemimpin baru Al-Qaidah. (FBI)

Berjihad ke Afrika

Al-Qaidah dipimpin Saif berhasil menjatuhkan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dalam pertempuran Mogadishu pada 1993.

Saif al-Adl sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 oleh Al-Qaidah. (Tangkapan layardari video Departemen Pertahanan Amerika Serikat)

Bergabung dengan gerakan jihad

Pada 1991, Saif naik menjadi pimpinan Al-Qaidah lapis kedua, hanya menerima perintah dan melapor kepada Bin Ladin dan tiga orang kepercayaannya.

Pemimpin Al-Qaidah Saif al-Adl. (FBI)

FBI salah orang, mengira Saif padahal Makkawi

Pada 1987, Hasan mengantar adiknya, Saif, ke Bandar Udara Kairo untuk terbang ke Makkah buat berumrah sebelum mencari pekerjaan. Itulah terakhir kali keluarganya melihat Saif.

Poster menunjukkan pemimpin baru Al-Qaidah, Saif al-Adl, dan mendiang Abu Muhammad al-Masri sebagai buronan Amerika Serikat. (US State Department)

Saif al-Adl pemimpin baru Al-Qaidah

Dewan Syura Al-Qaidah sudah menetapkan jalur suksesi pada 2015.





comments powered by Disqus

Rubrik IQRA Terbaru

Berjihad ke Afrika

Al-Qaidah dipimpin Saif berhasil menjatuhkan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dalam pertempuran Mogadishu pada 1993.

19 Juli 2021

TERSOHOR