kabar

Berjabat tangan di Lausanne, bersorak riang di Teheran

"Apapun hasil akhir dari perundingan itu, kamilah pemenangnya," kata Behrang Alavi.

03 April 2015 14:09

Rakyat Iran kemarin malam turun ke jalan merayakan kesepakatan penyelesaian krisis program nuklir Iran. Mereka berharap perjanjian ini bisa mengakhiri isolasi, kesulitan ekonomi, dan menjauhkan dari ancaman perang.

Kabar baik dari Kota Lausanne, Swiss, ini kian manis karena bertepatan dengan hari terakhir libur perayaan tahun baru Nowruz.

Para pengemudi di jalan-jalan di Ibu Kota Teheran membunyikan klakson ketika tim juru runding Iran berjabat tangan dengan delegasi dari enam negara (Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, Cina, dan Jerman). Hingga Jumat pukul satu dini hari, mobil-mobil masih mengular di Val-e-Asr Avenue, jalan terpanjang di Teheran. Lelaki dan perempuan mengibarkan bendera nasional dan mengacungkan V sebagai tanda kemenangan dari jendela mobil terbuka.

"Apapun hasil akhir dari perundingan itu, kamilah pemenangnya," kata Behrang Alavi. "Sekarang kami bisa hidup normal seperti di negara lain."

Yang lain menyebarluaskan berita gembira itu melalui Twitter. "Musim dingin telah berakhir," tulis sebuah akun.

"(Kesepakatan) ini akan membawa harapan baru bagi kehidupan kami," ujar Ali, warga Teheran berumur 34 tahun. "Ini seperti seseorang telah menyumbat saluran udara saya dan sekarang saya sudah bisa bernapas. Semua orang bergembira, kami telah menunggu kabar ini terlalu lama."

Gara-gara program nuklir itu, Iran mendapat sanksi ekonomi dari Amerika dan Uni Eropa. Negara Mullah ini dilarang mengekspor minyak. Nilai tukar mata uang riyal Iran melorot terhadap dolar Amerika.

Para pengamat memperkirakan riyal Iran akan menguat dan bursa saham Teheran bakal bergairah saat dibuka besok, permulaan pekan di Iran.

Seorang karyawan perusahaan elektronik bilang banyak perusahaan mengandalkan pasokan barang dan bahan baku dari luar negeri menyambut gembira kesepakatan itu. "Bagi perusahaan kami, ini sebuah kehidupan baru," tuturnya. Dia menjelaskan perusahaannya selama ini membeli suku cadang asal Amerika di pasar gelap dengan harga lebih tinggi dan dibayar tunai.

Perusahaan-perusahaan multinasional berskala besar dari Amerika dan Eropa akan menjadi yang pertama mengambil keuntungan dari kesepakatan nuklir itu.

Saat dikenai sanksi, bank-bank asal Iran tidak boleh bertransaksi ke luar negeri. Sebab itu, perusahaan-perusahaan Iran berbisnis dengan pihak asing amat kesulitan buat mengirim fulus.

Said, 29 tahun, karyawan perusahaan penerbitan dan percetakan, juga ikut senang. "Karena dikenai sanksi, perusahaan hanya untung sedikit. kadang kami mesti tetap bekerja namun baru digaji beberapa bulan kemudian."

Tapi sebagian warga Iran meragukan dampak positif dari perjanjian nuklir itu buat mereka. "Itu cuma akan menolong para pejabat bepergian dan mengirim uang ke luar negeri lebih mudah," kata Kianoush Amiri, wartawan sekaligus penerjemah tinggal di Teheran.

Mehrdad juga bersuara sama. "Itu tidak akan mengubah kehidupan rakyat secara signifikan," ujarnya. "Ini hanya bagus buat Republik Islam dan sekutu-sekutunya di kawasan: Irak, Suriah, dan Yaman."

Majid, juga penduduk Teheran, mengharapkan perjanjian itu bisa membawa perubahan ke arah kebebasan sosial dan politik bagi rakyat Iran.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berbincang dengan Menteri Luar Negeri Iran Muhammad Javad Zarif di kantornya di Jakarta, 19 April 2021. (Biro Pers Kementerian Luar Negeri)

Iran puji sikap Indonesia soal isu nuklir Iran

Total perdagangan kedua negara tahun lalu meningkat 52 persen, yaitu mencapai US$ 215 juta dari nilai tahun 2019 sebesar US$ 141,60 juta.

Jenazah Brigadir Jenderal Muhsin Fakhrizadeh Mahabadi, kepala program nuklir Iran dibunuh Mossad pada 27 November 2020. (Twitter)

Iran akui Israel telah mencuri dokumen rahasia nuklir mereka

Pencurian itu dilakukan oleh Mossad pada 2018.

Kementerian Intelijen Iran pada 17 April 2021 mengumumkan Reza Karimi sebagai pelaku sabotase di reaktor nuklir Natanz. Pelaku sudah kabur dari Iran sebelum insiden itu terjadi. (IRIB)

Iran umumkan identitas pelaku sabotase fasilitas nuklir Natanz

Reza Karimi sudah kabur dari Iran sebelum ledakan terjadi di reaktor nuklir Natanz.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bin Salman enggan dukung usulan Netanyahu soal serang Iran

Pompeo juga tidak antusias menanggapi ide Netanyahu itu.





comments powered by Disqus