kabar

Jejak Saudi dalam intrik Yaman

"Saudi melihat Yaman bagian tidak terlindungi dari negara mereka," ujar Labib Kamhawi.

08 April 2015 04:14

Sudah dua pekan sejak pasukan koalisi Arab dipimpin Arab Saudi menggempur milisi Syiah Al-Hutiyun di Yaman. Namun para komandan di negeri Dua Kota Suci itu belum mengisyaratkan operasi militer bersandi Badai Gila ini bakal dihentikan dalam waktu dekat.

"Kita tidak seharusnya tak sabar untuk melihat hasil akhir," kata Brigadir Jenderal Ahmad Assiri, juru bicara pasukan gabungan, mengingatkan Jumat minggu lalu.

Intervensi Saudi dalam konflik bersenjata di Yaman berakar pada sesuatu lebih dalam ketimbang masalah ketidakstabilan di perbatasan atau kekhawatiran bakal menguatnya pengaruh Iran. Para pemimpin Arab Saudi dengan restu kaum ulama telah mengambil peran khusus sebagai pelindung bagi tetangganya di selatan (Yaman) dan negara-negara lain di Semenanjung Arab.

"Ini adalah sebuah anugerah...sekaligus menjadi tanggung jawab kita semua," kata Raja Salman bin Abdul Aziz saat menggelar pertemuan dengan elite-elite politik dan militer pekan lalu di istananya di Ibu Kota Riyadh.

Itu bukan sekadar seruan dari mantan menteri pertahanan naik takhta Januari lalu menggantikan mendiang Raja Abdullah. Ini menggambarkan posisi Saudi terhadap Yaman, terbentuk selama beberapa dasawarsa oleh campur tangan, huru hara, politik dan intrik kesukuan. Pernyataan Raja Abdullah itu juga mencerminkan ketegasan militer Saudi.

Dalam perhitungan Saudi, potensi kerugian akibat intervensi militer di Yaman - bahkan berisiko menciptakan ketegangan kawasan kian dalam dengan Iran - dibayangi oleh pentingnya sejarah untuk menjaga Yaman dalam cengkeraman Saudi. "Arab Saudi memandang dirinya sebagai saudara tua Yaman," ujar Ali al-Ahmad, Direktur Institute of Gulf Affairs, lembaga berkantor di Washington D.C., Amerika Serikat, kerap mengkritik kebijakan-kebijakan Saudi.

"Pandangan (itu), lebih dari sekadar Iran atau mengembalikan kekuasaan presiden Yaman sahabat Saudi (Abdurabbu Mansyur Hadi), ialah inti dari keputusan buat melancarkan serangan," tuturnya. "Bila para pemimpin Saudi tidak memerintahkan perang di Yaman, mereka akan sangat cemas."

Yaman bukan hanya sudah terpecah belah menjadi milisi-milisi membenci Barat merupakan sekutu Arab Saudi, namun juga bertempur satu sama lain. Kekuatan-kekuatan bersenjata ini termasuk AQAP (Al-Qaidah di Semenanjung Arab) mengklaim telah bersumpah setia kepada ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dan pemberontak Al-Hutiyun telah menguasai Ibu Kota Sanaa.

Tujuan jangka pendek dari serbuan udara pasukan koalisi Arab ke Yaman adalah mengembalikan pemerintahan Hadi, telah lari ke Saudi pekan lalu. Namun Saudi juga mempunyai tujuan jangka panjang, seperti dikatakan Assiri. "Salah satu tujuan dari misi ini adalah menyerang semua kelompok teror."

Namun Theodore Karasik, pengamat pertahanan negara-negara Arab Teluk, memiliki pandangan lain. "Kita sedang menyaksikan permulaan dari Doktrin Salman," katanya. "Doktrin ini bilang Arab Saudi mesti mengambil posisi buat melindungi para penguasa Arab Teluk dan memelihara status quo negara-negara sekutu di dunia Arab."

Peran lebih kuat secara militer di kawasan telah dimainkan Arab Saudi saat Raja Abdullah pada 2011 memenuhi permintaan bantuan dari Bahrain buat menumpas pemberontak Syiah, penduduk dominan di negara itu.

Tapi Yaman merupakan panggung lebih besar dan lebih berkepentingan buat Saudi. "Saudi melihat Yaman bagian tidak terlindungi dari negara mereka," ujar Labib Kamhawi, pengamat politik menetap di Ibu Kota Amman, Yordania.

Pada 1960-an Arab Saudi menerjunkan pasukan buat membantu dinasti Syiah berkuasa di Yaman Utara telah dikudeta oleh pasukan Sunni dukungan Mesir. Namun kepentingan nasional mengubah aliansi itu. Saudi berbalik arah menyokong dana dan senjata bagi pemerintahan Yaman sokongan Mesir di Yaman Utara, kemudian memisahkan diri dari Yaman Selatan berhaluan komunis.

Di lain pihak, paham Wahabi berpusat di Saudi kian meluaskan pengaruh mereka di Yaman lewat masjid-masjid dan kelompok didanai Saudi. Mereka menjadi sumber pengumpulan informasi intelijen dan perekrutan pejuang lokal untuk melawan milisi Al-Hutiyun.

Fulus Saudi juga berhasil membeli loyalitas para pemimpin Sunni dan Syiah di Yaman dan di perbatasan meski tapal batas antara kedua negara tidak pernah jelas. Jejak Saudi di Yaman kian dalam lewat proyek-proyek pembangunan disponsori oleh pengusaha kakap berdarah Yaman.

Raja Abdullah pada 2007 pernah menegaskan keamanan Yaman berkaitan erat dengan stabilitas Saudi. Dua tahun kemudian, seorang lelaki buronan kelahiran Saudi dan pernah dilatih oleh AQAP, berupaya membunuh Pangeran Muhammad Nayif dalam sebuah serangan bunuh diri. Pangeran Muhammad luka ringan. Saudi kemudian bersumpah meningkatkan operasi buat menumpas kelompok militan di Yaman, khususnya Al-Qaidah.

Situasi politik di Yaman kembali goyang sebelum Musim Semi Arab. Saudi pada 2011 ikut melengserkan Presiden Ali Abdullah Saleh memberi dia perlindungan dan perawatan kesehatan setelah dia mengalami luka bakar parah akibat istananya dibom para demonstran.

Saleh kini menyokong Al-Hutiyun buat kembali ke tampuk kekuasaan di Yaman. Hasil akhir dari perang terbaru ini bakal membentuk pelbagai macam faksi untuk mendongkel pengaruh Saudi di Yaman.

"Yaman tidak akan pernah sama lagi," ucap Hasyim Ahilbarra, koresponden Al-Jazeera biasa meliput di Yaman.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Amerika peringatkan warganya untuk tidak kunjungi Arab Saudi

Departemen Luar Negeri Amerika menegaskan serbuan peluru kendali dan pengebom nirawak Al-Hutiyun merupakan ancaman serius.

Universitas Jazan di Arab  Saudi terbakar akibat serangan milisi Al-Hutiyun pada 15 April 2021. (Twitter)

Kampus di Arab Saudi terbakar akibat serangan peluru kendali Al-Hutiyun

Hampir saban hari, Al-Hutiyun menargetkan lokasi strategis dan vital di Riyadh, Jeddah, Jazan, Abha, Najran, dan Khamis Musyaith. 

Grafiti menentang perang di Yaman. (Middle East Monitor)

Keteteran hadapi serbuan Al-Hutiyun, Saudi tawarkan perdamaian

Selama enam tahun palagan itu, Saudi belum mampu mengusir Al-Hutiyun dari Sanaa. 

Suasana di luar bandar Udara Raja Abdul Aziz di Kota Jeddah, Arab Saudi, Juni 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Al-Hutiyun serang bandar udara di Jeddah sehingga berhenti beroperasi dua jam

Dalam sembilan hari terakhir, Al-Hutiyun menyerang bandar-bandar udara di Saudi. 





comments powered by Disqus