kabar

Pelaku Teror Paris tadinya pecandu ganja dan tidak pernah salat

Ibrahim bisa mengisap tiga sampai empat linting ganja sehari, namun dia tidak pernah memakai kokain.

18 November 2015 10:03

Seperti Abdul Hamid Abu Aud, diyakini sebagai dalang Teror Paris, Ibrahim Abdussalam tadinya bukan muslim saleh. Menurut mantan istrinya, Naimah, lelaki 31 tahun itu bekas pecandu ganja dan tidak pernah salat.

Ibrahim, satu dari sembilan pelaku serangan teroris di Ibu Kota Paris, Prancis, Jumat malam pekan lalu, meledakkan diri di luar kafe Comptoir Voltaire. Tindakannya ini melukai tiga orang dan hanya menewaskan dirinya sendiri.

Milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) mengaku bertanggung jawab atas serangan teror menewaskan seratusan orang dan melukai tiga ratusan lainnya itu.

Naimah bilang bekas suaminya itu pemalas karena memang tidak memiliki pekerjaan meski dia lulusan pendidikan diploma jurusan teknik listrik. "Kegiatannya saban hari mengisap ganja dan tidur seharian," katanya dalam wawancara khusus dengan MailOnline di rumahnya di kawasan Molenbeek, Ibu Kota Brussels, Belgia.

Dia menambahkan Ibrahim bisa mengisap tiga sampai empat linting ganja sehari, namun dia tidak pernah memakai kokain. Atau kerjaannya di rumah menonton film dan mendengarkan musik hip-hop Arab.

Selama dua tahun menikah, pasangan ini hanya mengandalkan jaminan sosial seribu euro per bulan. "Kami tidak punya anak karena kami tidak memiliki cukup uang untuk membesarkan mereka," ujarnya.

Ibrahim terlahir dari keluarga muslim tidak religius. Ayahnya, sopir bus bernama Abdurrahman, cuma salat sepekan sekali saban Jumat. Ibunya juga jarang masak. Dia lebih suka keluar rumah tiap malam makan pizza bareng teman-temannya.

Jadi lumrah saja, kata Naimah, Ibrahim tidak pernah salat di rumah apalagi berjamaah di masjid. Dia juga suka minum bir dan vodka walau tidak tiap hari.

Keduanya bertemu pertama kali pada 2004 di sebuah bar di jantung Brussels. "Sejak saat itu kami selalu jalan bersama. Dia mengajak saya makan di restoran, pergi menonton film di bioskop, atau mendengarkan musik Arab," tutur Naimah. "Saya senang dan akhirnya jatuh cinta."

Mereka lantas menikah dua tahun kemudian di sebuah aula kecil berkapasitas 20 orang di Molenbeek. Dilanjutkan pesta di sebuah restoran malamnya. Orang tua Ibrahim atau saudara kandungnya tidak ada yang datang. "Mereka keluarga modern. Tiap orang memiliki kehidupan masing-masing," kata Naimah, 36 tahun.

Dia mengungkapkan ketika remaja Ibrahim pembuat onar. Dia pernah dua kali dipenjara karena mencuri: pertama tiga bulan dan selanjutnya setengah tahun. Bahkan sebelum itu dia pernah membakar rumah orang tuanya.

Meski begitu, Naimah mengakui bekas suaminya tidak pernah mengasari dirinya atau orang lain. Mereka bercerai 2006 walau suratnya baru keluar dua tahun lalu.

Tulisan di tembok kediaman duta besar Turki untuk Iran di Ibu Kota Teheran. (Twitter)

Serbuan Turki ke basis Kurdi di Suriah sebabkan lima anggota ISIS kabur dari penjara

Sehari setelah kaburnya lima anggota ISIS dari Penjara Jirkin, sebuah bom mobil kemarin pagi meledak di Penjara Giwaran, Kota Hasakah.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Amerika akan kirim tiga ribu tentara lagi buat jaga Arab Saudi

Keputusan untuk menambahkan pasukan Amerika di Saudi ini terjadi sebulan setelah dua fasilitas milik Saudi Aramco di Abqaiq dan Khurais diserang.

Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi Filippo Grandi menyerahkan sertifikat penunjukan pangeran asal Qatar Syekh Tsani bin Abdullah bin Tsani ats-Tsani sebagai UNHCR Eminent Advocate kepada perwakilannya, Syekh Khalifah bin Tsani ats-Tsani di markas UNHCR di Kota Jenewa, Swiss, 9 Oktober 2019. (UNHCR/Jean Marc Ferré)

Pangeran Qatar jadi UNHCR Eminent Advocate setelah sumbang Rp 495 miliar buat pengungsi Bangladesh dan Yaman

Itu merupakan sumbangan terbesar pernah diterima UNHCR sejak lembaga itu didirikan 69 tahun lalu





comments powered by Disqus