kabar

Tujuh negara penyokong ISIS

Mereka adalah Arab Saudi, Turki, Qatar, Israel, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.

22 November 2015 20:19

Banyak kalangan awam bingung bagaimana milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) bisa begitu kuat dan kekuasaan mereka meluas hanya dalam dua tahun.

Rupanya, menurut Profesor Tim Anderson dari the Centre for Research on Globalization, lembaga riset dan organisasi media independen berpusat di Montreal, Kanada, ada tujuh negara penyokong kelompok dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu. Mereka adalah Arab Saudi, Turki, Qatar, Israel, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.

Berikut peranan ketujuh negara itu, merupakan ringkasan dari buku the Dirty War on Syria karya Tim Anderson dan bakal dirilis, seperti dilansir Global Research Jumat lalu.

Arab Saudi

Pada 2006 diarahkan oleh Washington untuk menciptakan ISI (Negara Islam Irak) untuk mencegah Irak mendekat ke Iran. Lima tahun kemudian Arab Saudi mempersenjatai pemberontakan kelompok Islam radikal di Daraa, Suriah.

Negara Kabah ini mendanai dan mempersenjatai hampir seluruh kelompok Islam garis keras di Suriah, menjaga mereka tetap terpecah belah agar tetap terkontrol.

Turki

Membiarkan wilayahnya menjadi jalur aman bagi para jihadis asing buat menyeberang ke utara Suriah.

Bersama Arab Saudi, Turki membikin 'Tentara Penaklukan' dipimpin Jabhat an-Nusrah (sayap Al-Qaidah di Suriah) untuk menginvasi utara Suriah pada 2015.

Turki mengatur penjualan minyak Suriah dicuri oleh ISIS dan memberikan perawatan medis bagi para jihadis ISIS.

Qatar

Selama 2011-2013 menggelontorkan miliaran dolar Amerika ke kelompok Islam radikal terkait Al-Ikhwan al-Muslimun, seperti Faruq. Setelah 2013 mendukung koalisi 'Tentara Penaklukan' dan poros Turki-SaudiIsrael

Memasok senjata dan layanan kesehatan ke seluruh pemberontak Islam di Suriah, termasuk Jabhat Nusrah dan ISIS. Membuat pusat koordinasi di perbatasan Golan.

Inggris dan Prancis

Menyuplai senjata ke kelompok pemberontak Islam, bekerja sama erat dengan kelompok-kelompok Al-Qaidah, secara sistematis bergabung dan mengirim senjata kepada mereka.

Amerika Serikat

Mengarahkan dan mengkoordinasi keenam negara di atas, membikin pangkalan militer di Turki, Yordania, Qatar, Irak, dan Arab Saudi.

Amerika juga mempersenjatai para pemberontak Suriah akhirnya membelot ke ISIS. Mendesak ISIS keluar dari wilayah-wilayah Kurdi tapi membiarkan mereka menyerang Suriah. Para pejabat Irak bilang Amerika langsung memasok kebutuhan ISIS lewat udara.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir bercengkerama dengan keluarga Abu Muhammad, pengungsi asal Suriah tinggal di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Israel akui pasok senjata ke para pemberontak Suriah

Namun sokongan dari Israel ini masih lebih kecil ketimbang bantuan dari Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir bercengkerama dengan keluarga Abu Muhammad, pengungsi asal Suriah tinggal di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Israel danai dan persenjatai 12 kelompok pemberontak di Suriah

Tiap pemberontak mendapat bayaran US$ 75 saban bulan. Juga ada dana tambahan untuk 12 kelompok pemberontak buat membeli senjata di pasar gelap Suriah.

Militer Israel memberikan pertolongan pertama terhadap satu dari empat anak yatim piatu Suriah menjadi korban luka dalam perang, sebelum dilarikan ke rumah sakit di Israel pada 29 Juni 2018. )the Israel Defense Forces)

Israel selamatkan 800 relawan Helm Putih dari Suriah

Evakuasi itu dilakukan setelah Inggris, Jerman, dan Kanada bersedia memberikan suaka.

Bos Mayapada Group Dato Tahir berbincang dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, pada 27 Oktober 2016. (KBRI Amman buat Albalad.co)

Senjata bikinan Israel ditemukan dalam gudang senjata ISIS

Israel dan ISIS memang memiliki kepentingan sama, yakni menggulingkan rezim Basyar al-Assad disokong oleh Iran.





comments powered by Disqus