kabar

Miss Libanon dikecam lantaran berpose bareng Miss Israel

"Sejak hari pertama saya sangat berhati-hati menghindari berfoto atau berkomunikasi dengan Miss Israel," kata Saly Greige.

19 Januari 2015 09:46

Miss Libanon Saly Greige, 25 tahun, menerima banyak kecaman setelah berfoto bareng Miss Israel Doron Matalon. Insiden ini berlangsung di sela acara Miss Universe di Kota Miami, Amerika Serikat.

Para pengguna media sosial di Libanon mendesak Greige meminta maaf. Bahkan sebagian menuntut agar gelar Miss Libanon buat dirinya dicabut. Gara-gara foto selfie itu, tanda pagar "dua kata untuk Miss Libanon" menjadi topik terpopuler di Libanon selama akhir pekan lalu, seperti dilansir surat kabar terbitan negara itu Daily Star.

"Kamu (Greige) sebenarnya bisa menghindari bergaul dengan peserta dari Israel seperti dilakoni kontestan-kontestan asal Libanon sebelumnya," tulis seorang pengguna Twitter. "Jika kamu merasa terusik seperti kamu bilang, setidaknya kamu tidak tersenyum lebar."

Sebagian lagi menyerukan supaya predikat Miss Libanon atas Greige dicopot. Kasus serupa pernah menimpa Miss Libanon Huda at-Turk pada 1993. Titel Miss Libanon melekat kepada dirinya diambil karena dia berpose dengan Miss Israel.

Matalon mengunggah foto selfie kontroversial itu di akun Instagramnya 11 Januari lalu. Dalam foto itu, Greige diapit Matalon di sebelah kiri serta Miss Slovenia dan Miss Jepang di sebelah kiri.

Gadis bergelar magister teknik sipil ini berasal dari Al-Koura, utara Libanon. Dia mengaku sejak hari pertama pelaksanaan Miss World berusaha keras supaya tidak menjalin kontak dengan Miss Israel. Dia menulis pembelaan diri dalam akun Facebooknya.

"Sejak hari pertama saya sangat berhati-hati menghindari berfoto atau berkomunikasi dengan Miss Israel (dia berkali mencoba berpose bareng saya)," ujar Greige. "Saya sedang berfoto dengan Miss Slovenia, Miss Jepang, dan saya sendiri. Tiba-tiba saja Miss Israel datang dan ;angsung mengambil foto selfie serta menunggah di akun media sosialnya."

Matalon mengaku tidak kaget foto itu bakal memicu polemik, namun dia merasa sedih. "Sangat disayangkan, Kalian tidak boleh mengumbar permusuhan di luar konteks. Hanya tiga pekan dalam seumur hidup kami bisa bertemu gadis-gadis dari seluruh dunia dan negara tetangga," tulis Matalon dalam bahasa Inggris dan Ibrani di akun Instagramnya.

Libanon dan Israel sejatinya masih dalam keadaan perang meski situasi di perbatasan kedua negara relatif tenang setelah pasukan Israel mundur pada 2000. Warga Libanon diancam hukuman penjara bila nekat menelepon atau pergi ke Israel. Libanon juga melarang semua produk Israel masuk ke negara itu.

Israel berperang selama 34 hari menghadapi pasukan Hizbullah pada 2006. Perang ini menewaskan 1.200 warga Libanon, kebanyakan penduduk sipil, dan 160 orang Israel, sebagian besar tentara.

Pasukan pemerintah Libanon berjaga di Desa Khaldah, selatan Ibu Kota Beirut, setelah terjadi penyergapan oleh warga Sunni terhadap rombongan pelayat Hizbullah pada 1 Agustus 2021. (Twitter)

Militer Libanon tangkap satu pelaku penyergapan atas rombongan pelayat Hizbullah

Ali Syibli ditembak oleh warga Sunni sebagai balas dendam atas kematian adiknya tahun lalu.

Ali Khouri, anggota Hizbullah saat bertugas dalam Perang Suriah. Dia bareng dua koleganya, Ali Barakat dan Husam Harfusy, tewas dalam penyergapan oleh warga Sunni di Desa Khaldah, selatan Ibu Kota Beirut, Libanon, 1 Agustus 2021. (Albalad.co)

Identitas tiga anggota Hizbullah terbunuh dalam penyergapan oleh warga Sunni di Beirut

Ali Syibli, juga anggota Hizbullah, mengembuskan napas terakhir setelah ditembak oleh seorang warga Sunni dari klan Ghosn dalam sebuah resepsi pernikahan di Jiyah, desa di berjarak sekitar 23 kilometer sebelah selatan Beirut.

Ali Syibli, anggota Hizbullah saat berperang di Suriah. Warga Sunni Libanon dari klan Ghosn membunuh dia pada 31 Juli 2021 dalam sebuah resepsi pernikahan di Jiyah, desa di selatan Ibu Kota Beirut, Libanon. (Albalad.co)

Bentrokan Sunni-Syiah di Beirut tewaskan empat orang

Kejadian ini memicu kecemasan bentrokan bakal meluas. Perang sektarian pernah membekap Libanon selama 15 tahun pada 1975-1990.

Pernikahan putri dari Nawar as-Sahili, politikus dari Partai Hizbullah di Ibu Kota Beirut, Libanon, Juli 2021. (Screengrab)

Pesta pernikahan putri politikus Hizbullah digelar secara mewah saat ekonomi Libanon ambruk

Harga bahan pangan meroket 700 persen dan lebih dari 50 persen rakyat Libanon hidup di bawah garis kemiskinan. Pakaian sudah menjadi barang mewah. 





comments powered by Disqus