kabar

Tangan usang konflik Yaman

Arab Saudi selalu bermain dalam konflik menahun di Yaman.

22 Januari 2015 02:59

Semua soal Arab Saudi. Tidak peduli seberapa rumit perang saudara baru bakal muncul di Yaman atau seberapa kuat pemberontak Al-Hutiyun kini menguasai Ibu Kota Sanaa dan istana presiden, Al-Hutiyun - pemberontak berpaham Syiah Zaidi - telah membikin takut Kerajaan Arab Saudi beraliran Wahabi.

Sudah lebih dari lima tahun konflik bersenjata meletup antara pasukan Saudi dan Al-Hutiyun, pernah mencaplok sebuah pegunungan dalam perbatasan Saudi. Seperti biasa, Saudi menyalahkan Iran dan Hizbullah. Al-Hutiyun pun sama, menuding kaum Sunni Yaman dan Saudi serta Amerika Serikat.

Penguasa pertama Yaman adalah seorang penganut Syiah Zaidi, bukan orang Sunni, selama dua Perang Dunia memperluas kekuasaan mereka hingga sebagian besar wilayah utara Yaman. Pemimpin sekte Syiah Zaidi Imam Yahya, keyakinan dan ajarannya memiliki banyak kesamaan dengan paham Sunni, berjuang menghadapi Saudi saat mereka menguasai Asir dan Najran.

Imam Yahya menyebut kedua daerah ini sebagai wilayah bersejarah Yaman. Ahli sejarah Timur Tengah dari Universitas Oxford, Inggris, Eugene Rogan, menggambarkan pengganti Imam Yahya, yakni putranya, Ahmad, memerintah dengan kejam.

Ketika Badr, putra dari Ahmad, tumbang lewat kudeta militer, Presiden Mesir Jamal Abdul Nasir menyokong republik baru Yaman. Tapi Saudi ingin menghancurkan rezim baru ini dengan mendukung pemberontak Syiah Zaidi.

Seperti di negara Arab lainnya, konflik Sunni-Syiah telah mengakar membikin 33 tahun kekuasaan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, berkeyakinan Syiah Zaidi, tidak bisa berjalan mulus. Kaum Sunni terus melawan hingga akhirnya Revolusi Arab bertiup dan berhasil menggulingkan rezim Saleh.

Luka lama pun robek. Konstitusi baru selepas Saleh tidak memuaskan kelompok Al-Hutiyun. Saudi sekarang khawatir pemberontak Syiah ini bakal menguasai wilayah utara Yaman, sebuah ancaman bagi stabilitas negeri Dua Kota Suci itu.

Bukan Al-Hutiyun menyebabkan keterlibatan Amerika di Yaman, tapi perkembangan AQAP (Al-Qaidah di Semenanjung Arab) - berpaham mirip Salafi-Wahabi di Saudi - faktornya. Gempuran udara dilakoni pesawat nirawak Amerika terhadap Al-Qaidah tentu saja atas izin pemerintah Yaman sokongan Saudi. Namun pada Desember 2009, juru bicara Al-Hutiyun mengungkapkan serbuan serupa juga menimpa pasukan mereka.

Keberhasilan Al-Hutiyun tiba di Sanaa telah membelah pasukan pemerintah: sebagian memerangi Al-Qaidah dengan dukungan Amerika dan sebagian lagi menumpas pemberontak Al-Hutiyun lewat sokongan Saudi.

AQAP telah bergerak ke arah utara buat menghadapi Al-Hutiyun. Mereka memperoleh dukungan dari kaum Sunni. Tapi Yaman bukan Suriah. Amerika kelihatan segan buat menghabisi Al-Hutiyun dan musuh mereka Al-Qaidah di Yaman. Saudi pun seolah tidak punya pilihan.

Poster wakil pemimpin Al-Qaidah Abu Muhammad al-Masri. Dia ditembak mati pada Agustus 2020 di jalanan di Ibu Kota Teheran, Iran. (FBI)

Amerika benarkan tewasnya wakil pemimpin Al-Qaidah di Teheran

Abu Muhammad al-Masri dibunuh pada 7 Agustus tahun lalu di sebuah jalan di Teheran.

Poster menunjukkan pemimpin baru Al-Qaidah, Saif al-Adl, dan mendiang Abu Muhammad al-Masri sebagai buronan Amerika Serikat. (US State Department)

Saif al-Adl pemimpin baru Al-Qaidah

Dewan Syura Al-Qaidah sudah menetapkan jalur suksesi pada 2015.

Poster wakil pemimpin Al-Qaidah Abu Muhammad al-Masri. Dia ditembak mati pada Agustus 2020 di jalanan di Ibu Kota Teheran, Iran. (FBI)

Pemimpin Al-Qaidah Aiman Zawahiri meninggal

Wakilnya, Abu Muhammad al-Masri, ditembak mati tiga bulan lalu di jalan di Teheran.

Kafe Lorca di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Trip Advisor)

Gelombang serangan udara hantam Riyadh

Arab Saudi keteteran menghadapi Al-Hutiyun.





comments powered by Disqus