kabar

Televisi Turki diperingatkan sebab gunakan kata "Tuhan" bukan "Allah"

Pemakaian kata "Tuhan" diyakini bisa merusak persepsi anak-anak soal Allah.

13 Februari 2015 07:04

Dewan Tertinggi Radio dan Televisi (RTUK), badan pengawas lembaga penyiaran di Turki, telah memperingatkan stasiun televisi swasta TV2 karena menggunakan kata "Tuhan" bukan "Allah".

Menurut RTUK, lebih memilih memakai kata "Tuhan" bisa menimbulkan pengaruh negatif terhadap persepsi anak-anak mengenai Allah. Mereka menambahkan dengan tindakan itu TV2 telah menghina nilai-nilai nasional dan sentimental masyarakat.

"Hampir seluruh masyarakat di Turki adalah muslim. Dalam masyarakat muslim, Allah itu Maha Esa dan satu-satunya Tuhan," kata RTUK, seperti dilaporkan surat kabar Hurriyet Daily News kemarin.

Penggunaan kata "Tuhan" itu terdapat dalam sebuah program di TV2. RTUK sebelumnya telah mendenda stasiun televisi ini karena isi salah satu acaranya dianggap melanggar aturan.

Mahmud Syekhruhu, pilot yang melarikan Presiden Tunisia Zainal Abidin bin Ali ke Arab Saudi pada 14 Januari 2011. (Middle East Eye)

Mantan Presiden Tunisia Zainal Abidin bin Ali wafat

Perdana Menteri Tunisia Yusuf Syahid bilang dirinya akan mengizinkan mayat Bin Ali dimakamkan di negara asalnya.

Ulama tersohor Arab Saudi Syekh Salman al-Audah. (Twitter)

Arab Saudi segera adili lagi ulama-ulama pengkritik Bin Salman

Dalam sidang sebelumnya,jaksa telah menuntut hukuman mati terhadap Syekh Salman, Syekh Awad, dan Syekh Ali al-Umari.

Uskup Agung Sebastia Theodosios, salah satu pemuka Kristen Orthodoks di Yerusalem. (Nadezhda Kevorkova/Russia Today)

Orang Kristen Palestina juga bilang Allahu Akbar

"Bagi kami, kata Allah tidak identik dengan Islam. Ini adalah sebuah kata dalam bahasa Arab untuk Sang Pencipta alam semesta," kata Uskup Theodosios.

Aysen Gurcan merupakan menteri berjilbab pertama di Turki. Dia diangkat sebagai menteri kebijakan keluarga dan sosial. (iha.com.tr)

Menteri berjilbab pertama di Turki

Aysen Gurcan ditunjuk sebagai menteri kebijakan keluarga dan sosial.





comments powered by Disqus