kabar

Pemimpin Syiah di Irak berhenti kasih khutbah Jumat

Pada Juni 2014, Ali al-Sistani menyerukan kepada seluruh rakyat Irak untuk angkat senjata memerangi ISIS

06 Februari 2016 08:31

Pemimpin kaum Syiah di Irak Ayatullah Agung Ali al-Sistani kemarin bilang dirinya tidak akan lagi menyempaikan khutbah Jumat, bertahun-tahun telah menjadi panduan bagi politisi Irak dan jutaan pengikutnya.

Sistani tidak memberikan alasan atas keputusannya itu. Dalam sejumlah khutbah Jumat terakhirnya, dia memusatkan perhatian pada upaya pemerintah memerangi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) serta memberantas korupsi.

"(Ayatullah Agung Ali al-Sistani) telah memutuskan untuk tidak menyampaikan khutbah Jumat rutin, tapi hanya bersedia kalau diminta di acara-acara penting," kata Ahmad as-Safi, asisten pribadi Ali al-Sistani, dalam pidato televisi dari Karbala, kota di selatan Irak, sebelum mulai salat Jumat.

Karisma Sistani membikin dia amat berpengaruh dan kata-katanya dipatuhi. Pada Juni 2014, dia menyerukan kepada seluruh rakyat Irak untuk angkat senjata memerangi ISIS, kala itu telah menguasai hampir sepertiga wilayah di utara dan barat Irak.

Musim panas tahun lalu, Sistani mendesak segera dilakukan perombakan sistem politik korup. Dia menuding reformasi dikampanyekan Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi berjalan lambat dan tidak efektif.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Para pembunuh Khashoggi masih berkeliaran di Arab Saudi

Mayatnya kemudian dimutilasi dan hingga kini Saudi masih merahasiakan keberadaan potongan-potongan tubuh Khashoggi.

Seorang warga Palestina pada Mei 2021 salat di halaman Masjid Al-Aqsa. (Telegram/Maydan al-Quddus)

Bin Salman berambisi rebut kewenangan urus Al-Aqsa dari Yordania

Bagian lain dari proposal damai Trump adalah mengupayakan normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab dan muslim, termasuk Arab Saudi. 

Salat berjamaah di Masjid Nabawi, Kota Madinah, Arab Saudi. (Twitter)

Dua pejabat Masjid Nabawi dicopot karena salat subuh telat 45 menit

Setelah peristiwa itu, Syekh Sudais memerintahkan kehadiran dua imam dan tiga muazin saban kali salat wajib berjamaah dilakukan di Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi. 

Ketua Partai Yamina Naftali Bennett (kiri) dan Ketua Partai Yesh Atid Yair Lapid akan memimpin Israel bergantian. (Courtesy)

Pemerintahan baru Israel akan terdiri dari 27 menteri, termasuk sembilan perempuan

Menteri tertua berumur 74 tahun, sedangkan menteri paling muda berusia 37 tahun.





comments powered by Disqus