kabar

Hizbullah puji kerukunan beragama di Indonesia

Duta Besar Achmad Chozin membantah pernah menyatakan Hizbullah bukan organisasi teroris.

19 Maret 2016 15:43

Hizbullah, kelompok Syiah paling berkuasa di Libanon, memuji kerukunan umat beragama di Indonesia. Sanjungan ini disampaikan dua anggota parlemen Libanon dari faksi Hizbullah, Muhammad Hasan Raad dan Ali Fayid, saat menerima kunjungan Duta Besar Indonesia untuk Libanon Achmad Chozin Chumaidy Rabu lalu.

"Beliau berdua sangat menghormati dan antusias melihat kerukunan umat Islam di Indonesia, kerukunan umat beragama di Indonesia," kata Achmad Chozin saat dihubungi Albalad.co melalui telepon WhatsApp malam ini. Dia menambahkan kedua tokoh Hizbullah itu berharap Indonesia bisa lebih berperan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan di dunia Islam.

Citra Islam kembali jeblok setelah kehadiran milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Mereka bukan saja menyebar kebencian kepada kaum non-muslim, kepada sesama Islam tidak sealiran pun mereka anggap kafir. Kekejaman dan kebiadaban mereka lakoni atas nama Islam kian meningkatkan sentimen anti-Islam.

Pada kesempatan itu, Achmad Chozin membantah pernah menyatakan Hizbullah bukan organisasi teroris, seperti dilansir stasiun televisi Al-Manar Rabu lalu. "Tidak benar kalau saya mengatakan Hizbullah bukan teroris. Saya tidak pernah memberikan pernyataan semacam itu," ujarnya.

Hizbullah mendapat sorotan setelah Rabu pekan lalu GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) beranggotakan enam negara - Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman - menyatakan kelompok dipimpin Hasan Nasrallah itu organisasi teroris. Dua hari kemudian, deklarasi serupa disampaikan Liga Arab beranggotakan 22 negara.

Deklarasi anti-Hizbullah itu keluar di tengah memanasnya hubungan Arab Saudi dan Libanon, setelah negara Kabah itu membatalkan bantuan dana US$ 3 juta bagi Libanon untuk membeli peralatan militer dari Prancis. Riyadh menuding Beirut terlalu dekat dengan Iran.

Achmad Chozin menjelaskan pertemuannya dengan Raad dan Fayid merupakan bagian dari perkenalan dirinya sebagai duta besar Indonesia, baru setahun menjabat, dengan tokoh-tokoh di Libanon. Dia juga sudah bertemu mantan Perdana Menteri Saad Hariri dan pemimpin Partai FPM (Gerakan Patriotik Pembebasan) Michel Aun.

Dalam beragam pertemuan dengan para elite Libanon itu, dia menceritakan soal kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia berjalan harmonis, rukun, dan damai.

Hal ini berbeda dengan Libanon, pernah mengalami perang saudara akibat konflik sektarian selama 1975-1990. Hingga kini masyarakat Libanon masih terbelah sesuai agama serta aliran agama dalam kehidupan sosial dan politik mereka.

Itu terlihat dalam pembagian kekuasaan. Presiden mesti dijabat orang Kristen, ketua parlemen dipegang penganut Syiah, dan perdana menteri jatah warga Sunni.

Seorang anggota Hizbullah membawa RPG dalam baku tembak di Ibu Kota Beirut, Libanon, 14 Oktober 2021. (Albalad.co/Supplied)

Karena alasan keamanan, Saudi imbau warganya untuk tidak kunjungi Libanon

Sebanyak tujuh orang terbunuh dalam baku tembak di Beirut, Kamis pekan lalu. 

Tujuh korban tewas dalam baku tembak terjadi di Ibu Kota Beirut, Libanon, 14 Oktober 2021. Korban masing-masing tiga anggota Hizbullah dan Amal, serta satu perempuan. (Albalad.co/Supplied)

Korban tewas dalam baku tembak di Beirut dari pihak Hizbullah bertambah jadi tiga orang

Militer Libanon telah menangkap sembilan orang diduga terlibat dalam penembakan terhadap ratusan demonstran dari kelompok Hizbullah dan Amal.

Seorang anggota Hizbullah membawa RPG (roket peluncur granat) tersungkur setelah ditembak penembak jitu dalam baku tembak di Ibu Kota Beirut, Libanon, 14 Oktober 2021. (Albalad.co/Supplied)

Baku tembak di Beirut tewaskan satu anggota Hizbullah dan tiga anggota Amal

Pemimpin dari partai Kristen memperingatkan perang saudara bisa berulang di Libanon.





comments powered by Disqus