kabar

Amerika masukkan Amir Mujahidin Indonesia Timur Santoso dalam daftar teroris global

Sydney Jones menilai kriteria dipakai Amerika untuk memasukkan orang dalam daftar teroris global tidak jelas.

24 Maret 2016 16:58

Amerika Serikat memasukkan Amir Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso alias Abu Wardah Santoso as-Syarqi al-Indunisi dalam daftar teroris global, seperti dilansir laman resmi Departemen Luar Negeri Amerika Selasa lalu.

Lembaga itu menjelaskan Santoso, kini bersama pasukannya bersembunyi di pedalaman Poso, Sulawesi Tengah, dinilai berbahaya bagi kepentingan warga, keamanan nasional, kebijakan luar negeri, atau perekonomian Amerika. Dengan masuk dalam daftar teroris global versi Amerika itu, bila ada asetnya di luar negeri bakal dibekukan dan warga negara adikuasa itu dilarang bertransaksi dengan Santoso.

"MIT, dibawah pimpinan Santoso, bertanggung jawab atas sejumlah pembunuhan dan penculikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir," kata Departemen Luar Negeri Amerika. Pada Agustus 2012, MIT membunuh dua polisi, September 2012, meledakkan bom di sebuah kantor polisi, November 2012, menembak seorang komandan polisi, dan pada Desember 2012, menembak empat anggota Brigade Mobil.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir bilang penetapan status oleh Amerika itu tidak akan berpengaruh terhadap perburuan atas Santoso. "Kepolisian kita sudah cukup serius menangkap orang diduga teroris. Jadi saya rasa perburuan (terhadap Santoso) sudah dilakukan sebelum adanya ini (penetapan status Santoso oleh Amerika) dan harus terus dilakukan," ujarnya. Dia belum bisa memastikan apakah penetapan Santoso sebagai teroris global karena dia sudah berbaiat kepada ISIS.

Amerika telah lebih dulu menetapkan MIT sebagai organisasi teroris pada September 2015. "MIT kian meningkatkan serangan terhadap pasukan keamanan, termasuk penggunaan bahan peledak dan penembakan," ujar Departemen Luar Negeri Amerika.

Santoso berbaiat kepada Abu Bakar al-Baghdadi pada 1 Juli 2014, beberapa hari setelah Baghdadi mengumumkan berdirinya Daulah Islamiyah sekaligus menyatakan dirinya sebagai khalifah. Pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) ini mengumumkan dua hal itu pada akhir Juni 2014 di Mosul, kota terbesar kedua di Irak.

Peneliti terorisme di Asia Tenggara Sydney Jones menilai penetapan Santoso sebagai teroris global oleh Amerika sangat terlambat. "Seharusnya dimasukkan pada 2011. Karena Santoso mulai melakukan teror Mei 2011 dengan menembak dua polisi di Palu," tuturnya saat dihubungi Albalad.co melalui telepon selulernya hari ini.

Meski begitu, direktur IPAC (Institute for Policy and Analysis of Conflict) ini mengakui jangankan mengancam warga atau kepentingan Amerika, Santoso bahkan tidak mengganggu stabilitas Indonesia. "Sebetulnya kriteria untuk daftar itu nggak jelas," katanya. "Mungkin yang dikhawatirkan Santoso bakal menarget orang asing. Tapi kalau dia berada di hutan sekarang, sulit juga."

Pendiri Al-Qaidah, Usamah Bin Ladin, bareng putranya, Hamzah Bin Ladin. (YouTube)

Trump akui putra Bin Ladin sudah tewas

Hamzah pernah merilis rekaman audio dan video menyerukan untuk menyerang Amerika dan sekutu-sekutunya.

Kebakaran hebat melanda fasilitas pemrosesan minyak terbesar di dunia milik Saudi Aramco di Abqaiq, Provinsi Timur, Arab Saudi. Kebakaran ini dipicu ledakan akibat serangan pesawat nirawak dilakukan milisi Al-Hutiyun dari Yaman. (Screengrab)

Pesawat nirawak serang fasilitas minyak terbesar dunia milik Aramco

Milisi Al-Hutiyun dari Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serbuan itu.

Mantan menteri Komunikasi Israel Ayub Kara. Dia adalah orang kepercayaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk urusan negara Arab dan muslim. (Wikipedia)

Orang kepercayaan Netanyahu sebut Indonesia sangat butuh teknologi dari Israel

"Isu Palestina tidak lagi relevan saat ini. Negara-negara Timur Tengah juga sudah berhenti membahas masalah Palestina. Mereka tidak peduli lagi dengan Palestina, menyedihkan," ujar Ayub Kara.

Ulama Arab Saudi, Syekh Umar al-Muqbil. (Twitter)

Arab Saudi tangkap ulama karena kritik soal konser musik

Syekh Umar al-Muqbil menilai konser musik internasional dapat menghapus budaya asli masyarakat Saudi.





comments powered by Disqus