kabar

Arab Saudi berlakukan larangan merokok di tempat umum

Perokok dapat dikenai denda 200 riyal saban kali ketahuan merokok di tempat dilarang dan denda bertambah jika kesalahan diulangi.

13 Juni 2016 22:48

Arab Saudi sejak 6 Juni lalu memberlakukan larangan merokok di tempat-tempat umum. Undang-undang ini diterapkan 12 bulan setelah disetujui Raja Salman bin Abdul Aziz.

"Aturan baru ini melarang merokok di delapan tempat umum, termasuk tempat beribadah, institusi pendidikan, kesehatan, olahraga dan budaya, serta sosial dan lembaga amal," kata seorang sumber. Dia menambahkan mrokok juga dilarang di tempat kerja, perusahaan, kantor-kantor pemerintah, pabrik, bank, dan semua fasilitas transportasi umum.

Sumber itu menjelaskan jika ada ruangan khusus merokok di tempat umum, harus terisolasi dan siapa saja berusia di bawah 18 tahun dilarang masuk. Aturan baru itu juga tidak membolehkan diskon atas harga rokok dan rokok tidak boleh diberikan sebagai hadiah atau contoh gratis.

Dia menjelaskan rokok hanya boleh dijual dalam kemasan tertutup, tidak boleh dijual di gerai mesin dan dalam fasilitas transportasi umum. Produk-produk mempromosikan rokok tidak boleh diimpor, dijual, atau ditawarkan.

Sumber yang sama bilang pelanggar atas aturan itu bisa didenda hingga 20 ribu riyal. Perokok dapat dikenai denda 200 riyal saban kali ketahuan merokok di tempat dilarang dan denda bertambah jika kesalahan diulangi. "Uang denda akan dipakai buat membiayai kampanye bahaya merokok dan beragam lembaga amal terkait bahaya rokok," ujarnya.

Mufti Agung Mesir Syekh Syauqi Ibrahim Abdul Karim Allam. (Dar al-Ifta)

Mufti agung Mesir kembali bilang bergabung dengan Al-Ikhwan al-Muslimun haram

Dewan Ulama Senior Arab Saudi Pada November tahun lalu juga menyatakan Al-Ikhwan sebagai kelompok teroris.

Sebuah poster mengajak para pemilih menggunakan hak pilih mereka dalam pemilihan presiden digelar pada 18 Juni 2021, dipasang di tepi jalan di Ibu Kota Teheran, Iran. (Iran International)

Segelap masa lalu presiden baru Iran

Hasil ini seolah pesan Raisi bakal menggantikan Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran selanjutnya.

Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei dan Ibrahim Raisi, baru menang pemilihan presiden Iran digelar pada 18 Juni 2021. (Twitter)

Seruan boikot oleh Ahmadinejad sukses, jumlah pemilih Iran tidak sampai 50 persen

"Siapapun menang dalam pemilihan presiden ini nantinya akan mengatakan dia tidak dapat memperbaiki persoalan ekonomi karena campur tangan orang-orang berpengaruh," kata warga Teheran bernama Ali Husaini.

Ibrahim Raisi, presiden terpilih Iran dari hasil pemilihan umum digelar pada 18 Juni 2021, ketika bertemu pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah di Libanon pada 2018. (Twitter)

Ibrahim Raisi terpilih sebagai presiden baru Iran

Jumlah pemilih menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan presiden kali ini terendah sejak Republik Islam Iran dibentuk pada 1979, yakni 48,8 persen.





comments powered by Disqus