kabar

Tutup mata Erdogan, petaka Turki

Erdogan selama ini meyakini militan Kurdi lebih berbahaya ketimbang ISIS.

30 Juni 2016 08:15

Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Turki mengungkapkan tiga pengebom bunuh diri itu tiba di terminal keberangkatan internasional Bandar Udara Ataturk, Istanbul, dengan menumpang sebuah taksi Selasa malam lalu waktu setempat atau kemarin dini hari waktu Jakarta.

Penyerang pertama langsung masuk ke dalam terminal keberangkatan kemudian menembak serampangan memakai Kalahnikov, lalu meledakkan diri dekat mesin pemeriksa sinar-X.

Ini memberi kesempatan bagi pelaku kedua naik ke lantai atas dan akhirnya meledakkan diri di sana.

Yang ketiga menunggu di luar. Dia meledakkan diri saat orang-orang berlarian dari dalam terminal.

Hingga artikel ini dilansir, serangan teror itu menewaskan 41 orang dan mencederai lebih dari 250 lainnya.

Belum ada warga negara Indonesia menjadi korban. Saat ini terdapat 728 warga Indonesia di Turki, termasuk 310 mahasiswa. Informasi dari PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Turki, beberapa mahasiswa nyaris menjadi korban. Sebab dua pekan terakhir banyak yang pulang liburan ke tanah air.

"Selasa ada yang pulang via Royal Jordan pukul 20.30, Qatar Airlines jam 19.35, dan Turkish Airlines pukul 02.00 (29 Juni)," kata Ketua Umum PPI Turki Azwir Nazar kepada Albalad.co melalui pesan WhatsApp kemarin.

Ketika serangan bunuh diri itu terjadi, mereka yang naik Royal Jordan dan Qatar Airlines sudah berada dalam pesawat. Sedangkan dua mahasiswa Indonesia lainnya, berinisial FH dan ER serta akan terbang dengan Turkish Airlines, tertahan di stasiun kereta bawah tanah Yeni Bosna, dua stasiun sebelum Bandar Udara Ataturk.   

Kemarin pagi waktu setempat, Badar Udara Ataturk kembali beroperasi. FH dan ER juga sudah mengantre tiket untuk menjadwalkan kembali kepulangan mereka ke Indonesia. "Di bandara keduanya bertemu satu warga Indonesia bekerja di Jerman, pas kejadian sedang transit di Istanbul menuju Indonesia dan tertahan beberapa jam dalam pesawat," ujar Azwir.

Teror Istanbul merupakan serangan teror ke-14 menghantam Turki dalam setahun belakangan. Presiden Recep Tayyip Erdogan menuding milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) sebagai dalang.

Tapi inilah persoalan mendasar selama ini. Erdogan meyakini orang-orang asli Kurdi mendiami wilayah tenggara Turki merupakan ancaman lebih besar ketimbang ISIS. Kebimbangan dalam memerangi kelompok bersenjata dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu memunculkan tuduhan Turki mendukung ISIS. Erdogan dan para menterinya membantah kecurigaan itu.

Sebuah laporan penelitian dilansir Universitas Columbia di New York, Amerika Serikat, mengklaim Turki diam-diam, memasok, mendanai, melatih, dan membantu rekrutmen jihadis ISIS untuk memerangi pasukan Kurdi, bertempur menghadapi Irak dan tentara Suriah.

Banyak pihak mempercayai Turki menjadi fasilitator dalam bisnis penyelundupan minyak oleh ISIS dari Irak ke Turki.

Erdogan memperbarui perang menghadapi PKK (Partai Buruh Kurdistan) ssetelah musim panas tahun lalu AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) kehilangan suara mayoritas di parlemen setelah pemilihan umum. Sebaliknya, HDP (Partai Demokratik Rakyat) pro-Kurdi meraih sukses.

Memang benar dari 14 serangan teror melanda Turki setahun terakhir kebanyakan dilakukan oleh militan Kurdi, namun teror ISIS paling banyak memakan korban.

5 Juni 2015
Lokasi: Diyarbakir
Sasaran: pawai politik
Korban tewas: 2
Pelaku: tidak diketahui

20 Juli 2015
Lokasi: Suruc
Sasaran: pusat kebudayaan
Korban tewas: 32
Pelaku: ISIS

10 Oktober 2015
Lokasi: Ankara
Sasaran: pawai perdamaian
Korban tewas: 103
Pelaku: ISIS

12 Januari 2016
Lokasi: Istanbul
Sasaran: tempat wisata
Korban tewas: 10
Pelaku: ISIS

13 Januari 2016
Lokasi: Diyarbakir
Sasaran: markas polisi
Korban tewas: 6
Pelaku: militan Kurdi

17 Februari 2016
Lokasi: Ankara
Sasaran: konvoi militer
Korban tewas: 28
Pelaku: militan Kurdi

13 Maret 2016
Lokasi: Ankara
Sasaran: alun-alun
Korban tewas: 37
Pelaku: militan Kurdi

18 Maret 2016
Lokasi: Nusaybin
Sasaran:
Korban tewas: 1
Pelaku: militan Kurdi

19 maret 2016
Lokasi: Istanbul
Sasaran: tempat wisata
Korban tewas: 4
Pelaku: ISIS

21 Maret 2016
Lokasi: Nusyabin
Sasaran: operasi militer
Korban tewas: 3
Pelaku: militan Kurdi

31 Maret 2016
Lokasi: Diyarbakir
Sasaran: konvoi polisi
Korban tewas: 7
Pelaku: militan Kurdi

7 Juni 2016
Lokasi: Istanbul
Sasaran: tempat wisata
Korban tewas: 11
Pelaku: militan Kurdi

23 Juni 2016
Lokasi: Omerli
Sasaran: pos militer
Korban tewas: 1
Pelaku: militan Kurdi

28 Juni 2016
Lokasi: Istanbul
Sasaran: Bandar Udara Ataturk
Korban tewas: 41 (sementara)
Pelaku: ISIS

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Anak Raja Salman curi data dalam telepon seluler Jeff Bezos

Sehabis membuka link video kiriman Bin Salman itulah, semua data dalam telepon pintar Bezos tersedot.

Syekh Muhammad al-Isa, ulama top asal Arab Saudi dan merupakan Sekretaris Jenderal Liga Dunia Muslim. (Twitter)

Ulama top Arab Saudi akan berdoa di bekas kamp pembantaian orang Yahudi di Polandia

Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Isa menyerukan kepada semua umat Islam untuk mempelajari sejarah Holocaust.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan bertemu Rabbi Marc Schneier dari New York, Amerika Serikat. Pertemuan ini berlangsung di kantornya di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, 16 Januari 2020. (Twitter)

Menteri Saudi terima kunjungan rabbi

Rabbi Schneier mengungkapkan kegirangannya bisa merayakan Shabbat di Saudi untuk pertama kali.

Abdul Malik al-Hutiyun, pemimpin milisi Syiah Al-Hutiyun di Yaman. (yemenobserver.com)

Saudi bayar Rp 6,8 triliun buat ongkos operasional pasukan Amerika

Saudi sudah menaruh deposit Rp 13,6 triliun di bank untuk ongkos operasional pasukan Amerika. 





comments powered by Disqus