kabar

Turki tahan lagi satu mahasiswa Indonesia

Penangkapan ini terjadi sehari setelah dua mahasiswi Indonesia ditahan di Kota Bursa dibebaskan.

01 September 2016 06:36

Aparat keamanan Turki kembali menangkap seorang mahasiswa Indonesia tinggal di sebuah rumah dikelola yayasan terkait gerakan Hizmet.  

"Dengan sangat menyesal kami perlu juga laporkan terdapat satu lagi penahanan menimpa satu warga negara Indonesia pada 26 Agustus," kata Retno dalam rapat kerja dengan Komisi I Bidang Pertahanan dan Luar Negeri Dewan Perwakilan Rakyat kemarin di gedung parlemen di Jakarta. "Tentunya KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Ankara sudah meminta kembali akses kekonsuleran, tetapi untuk kasus 26 Agustus ini belum diberikan."

Penangkapan ini terjadi sehari setelah dua mahasiswi Indonesia ditahan di Kota Bursa dibebaskan. Kedua mahasiswi tersebut adalah Dwi Puspita Ari Wijayanti, 21 tahun, asal Demak, Jawa Tengah, dan satu temannya berinisial YU dari Aceh. Mereka adalah mahasiswi Universitas Uludag, penerima beasiswa dari Yayasan Hizmet milik Fethullah Gulen.

Bursa merupakan kota berpenduduk terbanyak keempat di Turki dan salah satu kota paling modern di negara itu. Bursa berlokasi di kaki Gunung Uludag, setinggi 2.500 meter, terkenal dengan masjid dan bangunan peninggalan Kesultanan Usmaniyah. Kota dikenal banyak taman dan pohonnya ini pernah menjadi ibu kota Kesultanan Usmaniyah.

Dalam keterangan tertulisnya, Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia di Luar Negeri, menjelaskan penangkapan terakhir itu menimpa warga negara Indonesia berinisial SI, mahasiswa di Middle East Technical University di Ibu Kota Ankara.

"SI dibekuk saat aparat keamanan Turki menggeledah sebuah rumah dikelola yayasan terkait dengan gerakan Hizmet," ujar Iqbal. Sedangkan satu rekannya juga dari Indonesia saat penggeledahan tidak ada di lokasi karena sedang magang di kota lain. Muhammad Iqbal mengatakan SI telah didampingi pengacara saat diperiksa polisi.

Iqbal bilang KBRi di Ankara dan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki telah meminta SI segera meninggalkan rumah itu, namun dia tidak menuruti ssaran tersebut.  

Sedangkan untuk kasus menimpa Handila Lintang Saputra, mahasiswa Indonesia telah ditahan di Kota Gaziantep, dekat perbatasan Turki denagn Suriah, sejak 3 Juni lalu, Retno menjelaskan dirinya semalam mendapat informasi, pihak KBRI di Ankara telah diberi akses kekonsuleran dan telah membuat janji untuk bertemu Handika hari ini.

Retno mengungkapkan Handika ditahan karena dituduh terlibat organisasi teror bersenjata berafiliasi dengan gerakan Hizmet dipimpin Fethullah Gulen, orang dituding Presiden Turki Recep tayyip Erdogan sebagai otak dari kudeta gagal 15 Juli lalu.  

Retno menegaskan pemerintah tidak tinggal diam telah mengambil sejumlah langkah pro aktif. Pertama, menegaskan kepada pemerintah Turki, Indonesia, termasuk para mahasiswa Indonesia, tidak ikut campur dalam permasalahan politik domestik di Turki. Kedua, pemerintah berkomunikasi secara intensif dan mendata para mahasiswa Indonesia di Turki.

Ketiga, pemerintah telah meminta para mahasiswa Indonesia untuk keluar dari rumah tinggal terkait gerakan Hizmet serta menampung sementara mereka di fasilitas milik KBRI di Ankara dan KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) di Kota Istanbul. "Pemerintah juga mengintensifkan komunikasi kita dengan otoritas di Turki dalam memperoleh jaminan keamanan dan keselamatan bagi para mahasiswa," tuturnya.

Saat ini terdapat Dari 728 mahasiswa Indonesia di Turki, 282 di antarnya merupakan mahasiswa penerima beasiswa dari Pasiad. 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Anak Raja Salman curi data dalam telepon seluler Jeff Bezos

Sehabis membuka link video kiriman Bin Salman itulah, semua data dalam telepon pintar Bezos tersedot.

Syekh Muhammad al-Isa, ulama top asal Arab Saudi dan merupakan Sekretaris Jenderal Liga Dunia Muslim. (Twitter)

Ulama top Arab Saudi akan berdoa di bekas kamp pembantaian orang Yahudi di Polandia

Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Isa menyerukan kepada semua umat Islam untuk mempelajari sejarah Holocaust.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan bertemu Rabbi Marc Schneier dari New York, Amerika Serikat. Pertemuan ini berlangsung di kantornya di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, 16 Januari 2020. (Twitter)

Menteri Saudi terima kunjungan rabbi

Rabbi Schneier mengungkapkan kegirangannya bisa merayakan Shabbat di Saudi untuk pertama kali.

Abdul Malik al-Hutiyun, pemimpin milisi Syiah Al-Hutiyun di Yaman. (yemenobserver.com)

Saudi bayar Rp 6,8 triliun buat ongkos operasional pasukan Amerika

Saudi sudah menaruh deposit Rp 13,6 triliun di bank untuk ongkos operasional pasukan Amerika. 





comments powered by Disqus