kabar

Bocoran dari Maroko bantu Israel menang dalam Perang Enam Hari 1967

"Berkat rekaman (dari Raja Hasan) dan sumber-sumber informasi lain, kami tahu mereka (negara-negara Arab) tidak siap untuk berperang," kata Gazit.

18 Oktober 2016 09:48

Israel sangat pantas berterima kasih kepada Maroko atas kemenangan dalam Perang Enam Hari 1967 melawan negara-negara Arab.

Menurut mantan kepala intelijen militer Israel Mayor Jenderal Shlomo Gazit kepada surat kabar Yediot Ahronot akhir pekan lalu, pada 1965 Raja Hasan dari Maroko memberikan rekaman rahasia soal pertemuan para pemimpin Arab membahas apakah mereka siap berperang menghadapi negara Zionis itu.

"Berkat rekaman (dari Raja Hasan) dan sumber-sumber informasi lain, kami tahu mereka (negara-negara Arab) tidak siap untuk berperang," kata Gazit. "Kami pun menyimpulkan angkatan bersenjata Mesir dalam kondisi menyedihkan dan tidak siap bertempur."

Dalam pertemuan itu, para pemimpin Arab bersengketa pendapat dan mereka tidak memiliki persiapan memadai untuk berperang. Juga terjadi perdebatan sengit antara Presiden Mesir Jamal Abdul Nasir dan Raja Husain dari Yordania.

Berdasarkan rekaman dari Raja Hasan dan informasi intelijen lainnya diperoleh dua tahun menjelang Perang Enam Hari, Israel melancarkan serangan cegah pada pagi, 5 Juni 1967, mengebom pangkalan-pangkalan udara Mesir dan menghancurkan hampir seluruh jet tempur milik negara Nil itu.

Setelah perang berakhir pada 10 Juni, Israel mencaplok Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai dari Mesir, Tepi Barat dan Yerusalem Timur kepunyaan Yordania, serta Dataran Tinggi Golan milik Suriah.

Raja Hasan diam-diam merekam pertemuan pada 1965 itu karena dia tidak percaya kepada pemimpin Arab lainnya.

Dia mulanya mengizinkan tim gabungan dari Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel) dan Shin Beth (badan intelijen dalam negeri Israel) - sebuah unit dikenal dengan nama sandi Burung - menguasai satu lantai penuh hotel mewah di Kota kasablanka, Maroko, menjadi lokasi pertemuan para pemimpin Arab. Namun karena takut ketahuan, Raja Hasan menyuruh semua agen Israel itu pergi sehari sebelum konferensi digelar.

"Segera setelah pertemuan itu berakhir, Maroko memberi kita semua informasi diperlukan dan tidak menyimpan sedikit rahasia dari kita," kata Rafi Eitan, bekas agen intelijen Israel kini menjadi politikus.

Dalam memonya kepada Perdana Menteri Levi Eshkol, Meir Amit, bos Mossad waktu itu, bilang operasi Maroko merupakan salah satu kemenangan gemilang bagi intelijen Israel.  

Gazit kemudian diangkat menjadi kepala intelijen militer setelah dinas rahasia Israel gagal mengantisipasi serangan Mesir dan Suriah terhadap negeri Bintang Daud ini pada perang Yom Kippur 1973.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan bertemu Rabbi Marc Schneier dari New York, Amerika Serikat. Pertemuan ini berlangsung di kantornya di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, 16 Januari 2020. (Twitter)

Menteri Saudi terima kunjungan rabbi

Rabbi Schneier mengungkapkan kegirangannya bisa merayakan Shabbat di Saudi untuk pertama kali.

Abdul Malik al-Hutiyun, pemimpin milisi Syiah Al-Hutiyun di Yaman. (yemenobserver.com)

Saudi bayar Rp 6,8 triliun buat ongkos operasional pasukan Amerika

Saudi sudah menaruh deposit Rp 13,6 triliun di bank untuk ongkos operasional pasukan Amerika. 

Mufti ISIS Syifa an-Nikmah ditangkap polisi Irak di Kota Mosul, 16 Januari 2020. (Twitter)

Irak tangkap mufti ISIS berbadan gembrot

Syifa adalah orang mengeluarkan fatwa untuk melaksanakan hukuman mati dan menghancurkan tempat-tempat bersejarah di Mosul, termasuk kubur Nabi Yunus. 

Keadaan marnas pasunan Amerika Serikaf di oangjalan udara Ain al-Assad, Provinsi Anbar, Irak, setelah diserang peluru kendali Iran pada 8 Januari 2020. (CNN)

Serangan Iran bikin sebelas tentara Amerika gegar otak

Ketika serbuan peluru kendali Iran datang, sebagian tentara Amerika sudah diungsikan ke luar markas dan sisanya berlindung di dalam bunker.





comments powered by Disqus