kabar

Trump resmi larang imigran dari tujuh negara muslim

Larangan buat pengungsi Suriah berlaku tanpa batas waktu. Trump mengutamakan pengungsi Kristen asal Timur Tengah.

28 Januari 2017 10:41

Presiden Amerika Serikat Donald Trump hari ini (Jumat malam waktu setempat) meneken surat keputusan melarang masuknya imigran dari tujuh negara berpenduduk mayoritas muslim, yakni Irak, Iran, Suriah, Yaman, Sudan, Libya, dan Somalia. Larangan ini berlaku 90 hari hingga sistem imigrasi Amerika diperbaiki.

Menurut Trump, larangan masuknya imigran dari ketujuh negara muslim itu untuk mencegah teroris, bukan orang Islam, menyusup ke Amerika.

"Kami tidak ingin mereka berada di sini," kata Trump saat acara penandatanganan surat keputusan presiden berjudul Melindungi Negara dari Teroris Asing Masuk ke Amerika Serikat di Pentagon (Departemen Pertahanan Amerika). "Kami hanya mau menerima orang-orang ingin mendukung negara kami dan mencintai rakyat kami dengan sungguh-sungguh."

Keputusan Trump ini lebih lunak ketimbang janjinya semasa kampanye pemilihan presiden tahun lalu. Ketika itu, dia berkomitmen bakal melarang imigran muslim dari semua negara.

Dalam surat keputusan presiden tersebut, Trump juga memberlakukan larangan masuknya pengungsi dari seluruh negara selama 120 hari. Namun larangan bagi pengungsi asal Suriah, negara dibelit perang saudara sejak 2011, berlaku tanpa batas waktu.

Presiden dari Partai Republik ini bakal mengutamakan pengungsi Kristen asal Timur Tengah masuk ke Amerika Serikat. "Mereka telah diperlakukan secara mengerikan (di sana)," ujar Trump dalam wawancara dengan stasiun televisi the Christian Broadcasting Network. "Jadi akan menolong mereka."

Perang membekap negara Syam itu telah menewaskan sekitar setengah juta orang dan sebelas juta lainnya mengungsi. Sejak perang meletup dan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) muncul, lebih banyak muslim terbunuh ketimbang Kristen. Hasil jajak Washington Post pada 2015 menyebutkan 78 persen warga Amerika ingin semua pengungsi tanpa melihat latar belakang agama.

Untuk anggaran tahun ini, Amerika bakal menurunkan penerimaan atas jumlah pengungsi dari seratus ribu menjadi 50 ribu orang.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Dua tahun menganggur, pengungsi Suriah di Libanon bakar diri hingga tewas

Terdapat sekitar 900 ribu pengungsi Suriah di Libanon. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun lalu, sekitar 73 persennya hidup miskin. Rasio ini meningkat ketimbang 69 persen pada 2018.

Dato Tahir bareng istri, anak, menantu, dan cucu bercengkerama dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, 2 Oktober 2019. (Faisal Assegaf, Albalad.co)

Dato Tahir: Membantu pengungsi membuat saya makin bersyukur

"Sesuai ajaran orang tua, ajaran agama, kita mesti merasa bersyukur dengan datang ke sini membantu mereka," ujar Dato Tahir. "Saya menjalani hal sebetulnya harus dijalani setiap orang."

Ahmad az-Zuabi, 14 tahun, bocah pengungsi asal Suriah, tewas terjatuh karena dikejar polisi di Beirut. Dia dituduh mencuri. (Al-Arabiya)

Bocah pengungsi Suriah tewas terjatuh karena dikejar polisi Libanon

Ahmad dituduh maling tapi tidak ada penjelasan barang apa, di mana, dan kapan dia mencuri.

Militer Israel memberikan pertolongan pertama terhadap satu dari empat anak yatim piatu Suriah menjadi korban luka dalam perang, sebelum dilarikan ke rumah sakit di Israel pada 29 Juni 2018. )the Israel Defense Forces)

Israel rawat empat anak yatim piatu Suriah

Jumlah pengungsi Suriah di perbatasan dengan israel di Dataran Tinggi Golan meningkat menjadi sekitar 270 ribu orang.





comments powered by Disqus