kabar

Potret buram Awamiyah

"Di Arab Saudi bila Anda ingin melanggar hak asasi manusia dan menumpas pemberontak, seratus persen masih memungkinkan bahkan di abad ke-21 ini," ujar Adubasi.

06 Agustus 2017 16:48

Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di Arab Saudi dalam perjalanan pertamanya ke luar negeri Mei lalu, Riyadh seolah membikin upaya spektakuler untuk menciptakan persatuan negara-negara muslim lewat konferensi Islam-Amerika.

Namun para pengkritik menyebut pasukan koalisi dipimpin Saudi malah menbikin kesengsaraan di Yaman. Dan bahkan di dalam negerinya sendiri, negara Kabah ini baru memulai perang di Awamiyah, kota dihuni mayoritas penduduk Syiah di timur Arab Saudi.

Kota berusia 400 tahun berpenduduk sekitar 30 ribu orang ini telah dikepung pasukan Saudi pada 10 Mei lalu. Usaha untuk mengusir warga Awamiyah malah berkahir dengan bentrokan.

Sejak saat itu, situasi di Awamiyah kian memburuk. Laporan warga-warga lokal menyebutkan paling sedikit 25 orang terbunuh akibat serangan roket dan tembakan para penembak jitu. Jalanan di sana dipenuhi reruntuhan bangunan dan limbah, lebih mirip lokasi di Suriah ketimbang di kota di negara kaya minyak.

Informasi dari Awamiyah sukar dibuktikan kebenarannya: media-media asing dilarang masuk ke sana tanpa izin pemerintah Arab Saudi. Alhasil dunia hanya bergantung pada kabar dari media-media Saudi dikontrol pemerintah, situs-situs berita Syiah tidak bisa diandalkan, dan media sosial menggambarkan keadaan di Awamiyah.

Surat kabar the Independent mencoba merekam suasana di Awamiyah dengan mewawancarai seorang anggota milisi dan dua aktivis perdamaian pro-Awamiyah kini tinggal di luar Arab Saudi.

Satu warga Awamiyah tersebut mekenakan dirinya dan warga Awamiyah lainnya adalah pengunjuk rasa damai hingga pemerintah memasukkan mereka ke dalam daftar teroris. "Semua yang kami lakukan adalah menyerukan perubahan. Karena kami tidak takut terhadap rezim, mereka menyasar seluruh kota (Awamiyah)," katanya.

Dia bilang mulanya pasukan pemerintah menargetkan rumahnya di awal pengepungan, memukul istrinya, menodongkan senjata ke arah putrinya baru berumur lima tahun, dan mengangkat bayi perempuannya berusia delapan bulan tinggi-tinggi sambil mengancam akan dijatuhkan.

"Mereka (tentara Arab Saudi) mengatakan kepada anak perempuan saya, 'Kami akan membunuh ayahmu dan melemparkan kepalanya di bawah kakimu.'"

Anggota milisi Syiah ini menyerah dan akhirnya terpaksa keluar dari rumahnya. Kediamannya kemudian dihancurkan oleh bom, tembakan mesin, dan roket peluncur granat.

Awamiyah telah diblokade sejak tiga bulan lalu setelah penduduknya menolak rencana pemerintah merenovasi kawasan kuno tersebut. Kota kecil ini memang sudah menjadi pusat perlawanan sejak meletupnya Revolusi Arab pada 2011.

Riyadh mengklaim demonstran bersenjata di Awamiyah itu ingin merusak stabilitas negara dan mesti dihentikan.  

Jurnalis dan pemerhati hak asasi manusia sulit menentukan siapa milisi itu, dari mana mereka memperoleh senjata, dan berapa jumlah mereka. "Saya sudah mendokumentasikan konflik di Arab Saudi sebelumnya tapi tidak ada yang seperti ini," ujar Adam Coogle, peneliti Timur Tengah di Human Rights Watch. "Saya menyaksikan sejumlah demonstrasi tapi tidak ada yang secara militer."

Banyak warga Awamiyah terlalu takut untuk mengungsi karena pengeboman dan penembak jitu. Padahal banyak permukiman sudah tidak lagi dialiri air dan listrik. "Mereka sangat cemas, kadang mayat-mayat dibiarkan tergetek di jalanan berhari-hari," kata seorang aktivis dari Awamiyah dan sekarang menetap di Amerika Serikat.

Jumat lalu, pemerintah Saudi kembali memerintah warga Awamiyah meninggalkan rumah mereka memlalui dua jalan disediakan pasukan pemerintah sambil mengibarkan pakaian putih. Perintah pengusiran ini dibarengi pertempuran hebat menewaskan setidaknya tujuh orang. Para aktivis menuding pasukan Saudi menembak serampangan ke rumah-rumah dan kendaraan.

Direktur European Saudi Organisation of Human Rights Ali Adubasi menjelaskan situasi di Awamiyah saat ini adalah sebuah krisis dan dunia, bahkan Internet, tidak mengetahui hal itu. "Di Arab Saudi bila Anda ingin melanggar hak asasi manusia dan menumpas pemberontak, seratus persen masih memungkinkan bahkan di abad ke-21 ini," ujarnya.  

Adubasi, kini bermukim di Berlin, lari dari Arab Saudi pada 2013 setelah beberapa kali ditahan dan disiksa aparat pemerintah.  

Mobil Peugeot berseliweran di sekitar Menara Azadi di jantung Ibu Kota Teheran, Iran, Juni 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Ayah penggal kepala anak perempuannya berumur 13 tahun di Iran demi jaga kehormatan keluarga

Pembunuhan demi menjaga kehormatan keluarga menjadi hal lazim di beberapa negara berpenduduk mayoritas muslim, terutama di dunia Arab.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (alriyadh.com)

Ketambahan 1.815 kasus baru, jumlah pengidap Covid-19 di Saudi jadi 78.541 orang

Penderita Covid-19 di Makkah bertambah menjadi 14.830 orang, termasuk 194 meninggal.

Sejumlah pekerja membersihkan pelataran Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi, 17 Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Arab Saudi cabut larangan salat berjamaah di semua masjid kecuali di Makkah

Untuk menggelar salat Jumat, pengurus harus membuka masjid 20 menit sebelum waktu salat tiba dan mengunci kembali masjid 20 menit sehabis bubaran salat. Pelaksanaan salat Jumat dan khotbah tidak boleh lebih dari 15 menit.

Suasana di pelataran Masjid Al-Haram, Kota Makkah, setelah Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz memerintahkan isolasi terhadap kota Makkah, Madinah, Riyadh pada 25 Maret 2020. (Haramain Info)

Ketambahan 1.931 kasus baru, jumlah penderita Covid-19 di Saudi jadi 76.726 orang

Pengidap Covid-19 di Makkah melonjak menjadi 14.668 orang, termasuk 190 meninggal.





comments powered by Disqus